Zaman Bergerak, Kehangatan dalam Sepucuk Kartu

kompas.id
20 jam lalu
Cover Berita

Seekor anjing bernama Blacky berjalan-jalan di sebuah taman di Eropa pada suatu sore. Pemiliknya menuntunnya melewati bunga-bunga yang bermekaran, sementara pekik anak-anak yang berkejar-kejaran terdengar di sekitarnya. Begitulah Iin Irawati (56) membayangkan cerita singkat yang dibacanya pada selembar kartu pos kiriman seseorang dari luar negeri.

Meski hanya menceritakan hal remeh-temeh, susunan kalimat dalam kartu itu mampu menghidupkan imajinasi Iin. Baginya, di situlah letak keistimewaan kartu pos. Ia tidak sekadar membaca cerita atau melihat gambar, tetapi juga membayangkan kehidupan seseorang di tempat yang jauh melalui sudut pandangnya sendiri.

”Enggak tergantikan oleh pesan digital, foto, maupun video,” ujar Iin melalui keterangan tertulis, Senin (2/11/2026).

Kegemaran Iin berkirim kartu pos bermula pada tahun 1980, ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Pada waktu senggang, ia mengirim kartu pos kepada sahabat penanya. Balasan yang datang setelah penantian panjang menghadirkan kegembiraan tersendiri.

Puluhan tahun berlalu, kegemaran itu masih bertahan. Pada 2012, ia mulai mengikuti Postcrossing, platform pertukaran kartu pos yang memungkinkan anggotanya mengirim kartu kepada orang-orang secara acak di sejumlah negara.

Baca JugaUdar Rasa: Semoga Kartu Pos Ini Sampai Padanya

Melalui platform tersebut, ia tidak hanya berbagi cerita tentang kesehariannya, tetapi juga mengumpulkan kartu pos bergambar sesuai tema yang disukai. Ia menyukai kartu bertema merah muda dan mercusuar. Preferensi itu dicantumkannya dalam profil agar pengirim dapat menyesuaikan kartu yang dikirimkan.

Kartu pos bukan sekadar benda koleksi. Ada cerita yang dapat dibayangkan, pengalaman yang dikenang, dan hubungan dengan orang-orang yang tinggal jauh darinya.

Hingga 2 November 2026, Postcrossing tercatat memiliki 806.660 anggota dari 207 negara, termasuk 8.834 anggota dari Indonesia. Indonesia telah mengirim 363.669 kartu pos melalui platform tersebut dan menempati peringkat ke-31 dalam pengiriman kartu pos ke luar negeri.

Angka-angka itu memperlihatkan bahwa pertukaran kartu pos masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Di tengah beragam pilihan komunikasi yang tersedia, sebagian orang tetap meluangkan waktu untuk memilih kartu, menuliskan pesan, dan mengirimkannya kepada orang lain.

Namun, mempertahankan kegemaran tersebut bukan tanpa pertimbangan. Bagi Iin, ada pengeluaran yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan hidup sehari-hari.

Saat masih rutin mengirim 15 kartu pos per bulan, ia memperkirakan menghabiskan Rp 210.000. Dari jumlah itu, Rp 150.000 digunakan untuk membeli prangko dan Rp 60.000 untuk kartu pos.

Di tengah pekerjaannya sebagai karyawati di Bandung, ia memutuskan mengurangi jumlah kartu yang dikirim dari 15 menjadi lima kartu pos per bulan, atau menyusut sekitar 67 persen dari kebiasaan sebelumnya. ”In this economy sangat jadi pertimbangan,” tuturnya.

Baca JugaKartu Pos dari Abad Silam

Meski mengurangi frekuensi pengiriman, ia tidak sepenuhnya meninggalkan kegemarannya. Cerita-cerita di balik setiap kartu pos masih menjadi bagian yang ingin ia pertahankan, meskipun harus menyesuaikan pengeluaran.

Menurut dia, kartu pos bukan sekadar benda koleksi. Ada cerita yang dapat dibayangkan, pengalaman yang dikenang, dan hubungan dengan orang-orang yang tinggal jauh darinya.

Pengalaman serupa dirasakan Juan Sebastian (25), warga Tangerang Selatan. Baginya, kartu pos tidak hanya menjadi medium untuk bertukar pesan, tetapi juga jalan untuk bertemu orang-orang dengan kegemaran serupa dan membangun pertemanan lintas kota maupun negara.

Juan bergabung dengan Postcrossing pada 2014. Ia awalnya mengenal komunitas Postcrossing Indonesia secara tidak sengaja melalui rekomendasi grup di Facebook. Ketertarikannya tumbuh karena sejak awal ia memang gemar mengoleksi benda-benda pos.

Ketika pesan digital dapat tiba dalam hitungan detik, kartu pos mengharuskan pengirim dan penerima menunggu. Juan menikmati setiap tahapnya.

Pada 2016-2017, Juan aktif mengikuti pertemuan dan kegiatan komunitas Postcrossing. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah pameran filateli di Bandung pada 2017. Dalam kegiatan itu, anggota Postcrossing Indonesia bertemu dengan sesama pehobi dari Malaysia dan Singapura.

Mereka tidak hanya berbincang dan bersilaturahmi, tetapi juga mengikuti kegiatan postcard signing. Setiap peserta membawa kartu pos kosong untuk ditandatangani bersama.

Pada akhir pertemuan, masing-masing membawa pulang kartu pos yang memuat tanda tangan seluruh peserta. Kartu tersebut menjadi penanda pertemuan sekaligus menyimpan jejak orang-orang yang pernah berkumpul karena kegemaran yang sama.

Menurut Juan, pengalaman semacam itu menjadi salah satu daya tarik Postcrossing. Melalui kartu pos, ia dapat bersosialisasi sekaligus memperoleh benda koleksi dengan keunikan tersendiri.

Dua kartu pos dengan gambar yang sama, misalnya, dapat memiliki nilai personal berbeda karena dikirim oleh orang yang berbeda atau diterima dalam pengalaman yang berbeda pula.

Ada juga kesenangan dalam proses pengirimannya. Ketika pesan digital dapat tiba dalam hitungan detik, kartu pos mengharuskan pengirim dan penerima menunggu. Juan menikmati tiap tahapnya, mulai dari memilih kartu, menentukan prangko, menulis pesan, hingga membawanya ke kantor pos.

Setelah kartu dikirim, ia menunggu kabar apakah kartu tersebut telah sampai kepada penerima. Pada saat yang sama, ia juga menantikan kartu yang akan datang dari orang lain. ”Kami diajarkan untuk menghargai proses,” kata Juan.

Baca JugaSepucuk Kartu Pos dari Kutub Utara Sampai ke Tangerang
Kebutuhan fundamental

Kebutuhan manusia untuk terhubung dengan orang lain bersifat fundamental. Apalagi, pertukaran kartu pos menghadirkan kejutan yang membuat seseorang rela menanti meski membutuhkan waktu lama.

Dosen Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya, Eunike Sri Tyas Suci, mengatakan, di tengah kemudahan komunikasi digital, interaksi analog seperti bertukar kartu pos dapat menjadi pengalaman menyenangkan dan bermakna. ”Memegang kartu pos yang telah traveling dari tempat ke tempat itu adalah kebahagiaan yang mendalam,” ujarnya.

Menurut Tyas, kebahagiaan tersebut muncul dari proses yang menyertainya, mulai dari menulis tangan hingga menerima kartu dari tempat yang jauh. Pengirim juga memiliki kesempatan menampilkan identitas diri melalui tulisan, pilihan warna, serta cerita tentang kebudayaan dan negaranya.

”Jadi, orang tetap akan mengirimkan kartu pos karena ingin menunjukkan identitas dirinya,” ujarnya.

Tyas menambahkan, makna yang diberikan seseorang terhadap satu aktivitas turut menentukan kebahagiaan yang dirasakan. Dalam pertukaran kartu pos, ada pula unsur timbal balik: seseorang bersedia memberi karena mengetahui akan menerima sesuatu meski tidak dalam waktu singkat. ”Ada transaksi yang timbal balik,” katanya.

Proses tersebut, menurut Tyas, juga mengajarkan orang muda untuk bersabar, menulis dengan baik, dan menyampaikan pesan secara jelas di tengah keterbatasan ruang kartu pos. ”Bahkan barangkali ketika saya pensiun, saya akan mencoba kembali bertukar kartu pos,” ujarnya sembari tertawa.

Dengan demikian, zaman boleh bergerak dan cara manusia berkomunikasi boleh berubah. Namun, selalu ada ruang bagi hal-hal sederhana untuk menjaga kehangatan: sepucuk kartu pos, tulisan tangan, dan kesediaan meluangkan waktu untuk seseorang yang mungkin belum pernah ditemui.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Istri Sah Pelaku Mutilasi di Madiun Buka Suara: Jangan Bunuh Diri di Penjara, Bertobatlah
• 4 jam lalu
0
thumb
Menteri P2MI Dorong Hong Kong Buka Lapangan Kerja Sektor Formal, 99,92 Persen PMI Masih di Sektor Domestik
• 20 jam lalu
0
thumb
Piala Asia 2027 Mundur, PSSI Punya Waktu Goda 5 Pemain Grade A Eropa Ini untuk Naturalisasi Timnas Indonesia
• 10 jam lalu
0
thumb
PMI Manufaktur RI Tertinggi Sejak Maret 2024, Kepastian Kebijakan Diperlukan untuk Jaga Momentum
• 8 jam lalu
0
thumb
Pramono Setujui Pelebaran Jalan Raya Joglo 2,3 Km, Ditargetkan Rampung 2028
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.