IMF: China lakukan upaya proaktif pertahankan perdagangan multilateral

antaranews.com
2 jam lalu
Cover Berita
Bangkok (ANTARA) - Seorang pejabat Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutkan bahwa China melakukan upaya proaktif untuk mempertahankan sistem perdagangan multilateral dan berbasis aturan, serta perusahaan-perusahaan China dapat memainkan peran penting dalam menyebarkan teknologi baru serta mendukung penerapannya melalui investasi luar negeri (outbound).

"IMF menyambut baik upaya proaktif China untuk mempertahankan sistem perdagangan multilateral dan berbasis aturan," kata Wakil Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Thomas Helbling kepada Xinhua dalam sebuah wawancara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF dan World Bank Group 2026 yang diadakan di Bangkok, Thailand.

"Pada akhirnya, penting bagi negara-negara untuk menyelesaikan ketegangan dan perbedaan mendasar di balik sengketa perdagangan. Bagi perekonomian besar seperti Tiongkok, penting bagi negara itu untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menyelesaikan beberapa perbedaan ini," ujarnya.

Helbling juga berharap pada China dapat membantu memberikan manfaat dari teknologi baru kepada negara-negara lain melalui investasi. Investasi asing langsung oleh perusahaan-perusahaan negara itu dapat memainkan peran penting dalam menyebarkan teknologi baru dan mendukung penerapannya di negara-negara lain, termasuk di sektor digital dan energi hijau.

Helbling mengatakan IMF tetap mengkhawatirkan risiko dari fragmentasi geoekonomi yang makin besar dan ketegangan geopolitik, yang dapat menghambat perdagangan serta menyebabkan gesekan perdagangan yang makin besar dan inefisiensi yang kian meningkat dalam perekonomian global dan regional, sekaligus pertumbuhan yang lebih rendah.

Dia menekankan bahwa IMF telah lama menganjurkan agar negara-negara mengupayakan penyelesaian isu-isu mendasar di balik ketegangan perdagangan serta sistem perdagangan yang secara ideal bersifat multilateral dan terbuka.

Berbicara tentang ketahanan ekonomi di Tiongkok, dan di Asia secara keseluruhan, Helbling menyampaikan bahwa dampak guncangan energi lebih teredam daripada yang diperkirakan sebelumnya pada tahun ini.

"Dalam kasus China, pemerintah telah meredam dampak pada harga pengguna akhir dan memobilisasi sumber energi lain untuk mengimbangi sebagian guncangan negatif pada pasokan bahan bakar fosil," ujarnya.

Selain itu menurut dia, ledakan perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin meluas dan memiliki efek limpahan positif yang lebih luas di kawasan tersebut, termasuk China.

Dalam laporan terbaru Prospek Ekonomi Regional Asia dan Pasifik yang dirilis pada Kamis (15/10), IMF menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Asia pada 2026 menjadi 4,8 persen, naik 0,4 poin persentase dari proyeksi pada April.

Mengenai prospek ekonomi Asia-Pasifik, Helbling menyampaikan bahwa meskipun penyangga persediaan (inventory buffer) dan langkah-langkah, seperti subsidi energi atau pengurangan pajak, telah membatasi dampak guncangan pasokan energi, langkah-langkah itu sulit untuk dipertahankan dalam jangka waktu lama.

Dia menjelaskan bahwa jika guncangan energi berlangsung lebih lama atau semakin parah, negara-negara pada suatu titik akan kehabisan persediaan mereka, dan dampak harga penuh akan memengaruhi perekonomian dengan lebih parah.

Dia merekomendasikan agar negara-negara membangun kembali penyangga guna memastikan bahwa mereka siap merespons secara efektif terhadap guncangan pasokan energi lainnya.

oleh Geng Lingnan, Liu Yang


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Menko Muhaimin: Sekolah Rakyat Bukan Sekadar Pendidikan, tetapi Jalan Pemberdayaan
• 7 jam lalu
0
thumb
Kisah Cinta Tragis di Balik Nama Jalan Datu Museng
• 4 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Dorong KUR untuk Usaha Nelayan hingga Budidaya Lobster Dioptimalkan
• 18 jam lalu
0
thumb
Jadi Solusi Pembiayaan Syariah, Dompet Dhuafa Ungkap Potensi Cash Waqf Linked Sukuk
• 22 jam lalu
0
thumb
Paramita (PBSA) Siap Buyback Saham, Alokasikan Rp100 Miliar
• 44 menit lalu
0
Berhasil disimpan.