Kisah Cinta Tragis di Balik Nama Jalan Datu Museng

celebesmedia.id
2 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di dekat Pantai Losari, di antara deretan hotel dan ruko, ada sebuah jalan sempit bernama Datu Museng.

Pengendara yang melintas mungkin tidak sempat bertanya siapa pemilik nama itu. Padahal di baliknya ada kisah cinta yang oleh orang Makassar disejajarkan dengan Romeo dan Juliet.

Kisah Datu Museng dan Maipa Deapati dianggap simbol cinta abadi sehidup semati, sehingga dijuluki "Romeo-Juliet versi Makassar".

Bedanya dengan karya Shakespeare, kisah ini tumbuh dari tuturan lisan masyarakat Bugis-Makassar dan berlatar masa ketika Belanda menancapkan pengaruhnya di tanah Sulawesi.

Dikutip dari berbagai sumber, kisah ini bermula dari Galesong, pesisir selatan Makassar yang dahulu menjadi pusat angkatan laut Kerajaan Gowa.

Ketika Belanda menyerang kawasan itu dan membuatnya tak aman dihuni, sang kakek, Ade Arangan, membawa cucunya yang masih kecil berlayar ke Pulau Sumbawa.

Bocah itu bernama lengkap I Baso Mallarangang Datu Busing, yang kelak dikenal sebagai Datu Museng.

Latar ini punya jejak sejarah yang nyata. Gowa pernah menjadi kerajaan maritim yang disegani sebelum ditundukkan VOC lewat Perang Makassar dan Perjanjian Bongaya pada 1667.

Setelah kekalahan itu, banyak bangsawan, pelaut, dan ulama Makassar menyebar ke berbagai pulau di Nusantara. Keluarga Datu Museng dalam kisah ini seolah mewakili gelombang perantau tersebut.

Di Sumbawa, Sultan menerima mereka dengan baik dan memberi lahan serta tempat tinggal.

Datu Museng kecil belajar mengaji di surau bernama Bale Mampewa, dan di sanalah ia pertama kali bertemu Maipa Deapati, putri Sultan Sumbawa.

Benih cinta mereka tumbuh dari kejadian kecil. Saat beranjak dewasa, cincin permata Maipa jatuh ke kolong rumah.

Datu Museng membantu mengambilnya, tetapi menolak menyerahkannya sebelum ia diizinkan memperistri sang putri.

Seperti kebanyakan kisah cinta besar, jalannya tidak mulus. Keluarga Maipa sudah lama menjodohkannya dengan Pangeran Mangalasa dari Selaparang, Lombok.

Atas saran sang kakek, Datu Museng pergi ke Mekah dan Madinah untuk menuntut ilmu tasawuf, sekaligus berusaha melupakan kekasihnya.

Usaha itu sia-sia. Perpisahan justru menguatkan cinta mereka, dan Maipa jatuh sakit karena rindu. Para tabib tak mampu menyembuhkannya.

Seorang ahli nujum menyarankan agar pemuda yang kerap disebut dalam igauannya didatangkan. Begitu Datu Museng pulang dan hadir di hadapannya, Maipa perlahan pulih.

Keduanya lalu kawin lari. Pangeran Mangalasa menyusul dan menantang Datu Museng berduel.

Sang pangeran takluk, perjodohan dibatalkan, dan Sultan Sumbawa akhirnya merestui hubungan itu. Datu Museng bahkan diangkat menjadi panglima perang.

Kebahagiaan itu tak lama. Kabar serangan Belanda di Makassar sampai ke Sumbawa.

Atas permintaan Raja Gowa, Sultan mengutus Datu Museng membantu berperang, dan ia berlayar ke Makassar bersama Maipa. Dengan kata lain, ia pulang ke tanah leluhurnya sebagai prajurit.

Di sinilah tragedi bermula. Seorang kapten Belanda berusaha merebut Maipa. Ketika pasukan Belanda menyerang bertubi-tubi dan Datu Museng terjepit, Maipa memilih tak jatuh ke tangan sang kapten.

Ia meminta suaminya menikamnya dengan keris. Setelah itu, Datu Museng melepaskan ilmu-ilmu kesaktiannya karena teringat janji untuk segera menyusul sang istri, lalu gugur di tangan lawan.

Versi cerita ini tidak tunggal. Beberapa sumber menyebut Maipa sebagai putri Sultan Sumbawa, sementara tradisi lain memiliki rincian berbeda soal tokoh dan lokasi.

Nama Karaeng Galesong yang disebut dalam sebagian versi pun lebih lekat dengan tokoh abad ke-17, sehingga garis waktu kisah ini memang tidak mudah dipastikan.

Pertanyaan itu sering muncul. Kisah ini diwariskan lewat sastra tutur Makassar bernama Sinrilik, dan banyak sumber menggolongkannya sebagai cerita rakyat atau legenda.

Pemerintah kota mengabadikan kisah ini sebagai nama jalan. Jalan Maipa berada di sisi Hotel Imperial Aryaduta Makassar, sedangkan Jalan Datu Museng berada di sisi lainnya, keduanya dekat Pantai Losari.

Patung Datu Museng dan Maipa Deapati juga berdiri berdampingan di kawasan Pantai Losari.

Di ujung barat Jalan Datu Museng terdapat makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan sang tokoh.

Pusaranya berada di dalam bangunan tertutup, dan warga sekitar menyebutnya "penolak bala". Menurut penjaga makam, peziarah harus datang dengan niat tulus dan hati bersih.

Nasib makam sang "Juliet" lebih samar. Makam Maipa Deapati diduga berada di lorong sempit yang menghubungkan Jalan Datu Museng dan Jalan Maipa, tanpa penanda sama sekali.

Beberapa sumber menyebut keduanya dimakamkan berdampingan, sebagian lain menyebutnya terpisah. Teka-teki itu justru menambah aura misteri kisah mereka.

Berbeda dengan Romeo dan Juliet, yang cintanya dipisahkan dendam antarkeluarga, Datu Museng dan Maipa dipisahkan oleh sejarah yang lebih besar, yaitu kolonialisme.

Mereka sempat menang melawan perjodohan dan duel, tetapi akhirnya kalah oleh kekuasaan asing.

Maka lain kali melewati Jalan Datu Museng, mungkin ada baiknya melambat sejenak.

Nama di papan itu bukan sekadar penanda alamat, melainkan kisah tentang kesetiaan dan keberanian yang masih diceritakan di Makassar sampai hari ini.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kronologi Anak Berkebutuhan Khusus Tewas Diduga Dibully di Surabaya, Ayah Korban Menangis: Anak Saya Salah Apa?
• 17 jam lalu
0
thumb
Perlawanan Roy Suryo Ditolak Hakim
• 4 jam lalu
0
thumb
Kabut Asap Tekan Usaha Kuliner Singapura, Omzet Pedagang Merosot hingga 60 Persen
• 7 jam lalu
0
thumb
Igor Tolic Salut atas Perjuangan Persib setelah Sikat Persik di BRI Super League: Saya Sangat Bangga!
• 2 jam lalu
0
thumb
Sekjen PBB Apresiasi Kontribusi Indonesia dalam Jaga Perdamaian Dunia
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.