Beauties, kamu pasti sudah tidak asing dengan istilah burnout. Istilah ini semakin populer di kalangan pekerja. Burnout adalah kondisi kelelahan secara fisik, mental, dan emosional akibat stres berkepanjangan.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah burnout, salah satunya adalah dengan mengambil cuti dan pergi liburan. Menurut psikolog Dr. Brittany McGeehan, Ph.D., liburan bukan hanya sekadar waktu istirahat dan mengambil jeda sejenak dari rutinitas harian. Liburan juga bisa menjadi strategi untuk mencegah burnout.
"Ini adalah kesempatan bagi otak dan tubuh untuk keluar dari kondisi tuntutan yang berkepanjangan, situasi yang terlalu sering kita alami saat ini," ujarnya kepada Parade. "Kita hidup dalam siklus yang tiada henti berisi tenggat waktu, pengambilan keputusan, beban emosional, notifikasi yang terus-menerus, serta antisipasi terhadap hal berikutnya."
Meskipun liburan bisa membantu kita beristirahat dan menyegarkan pikiran, ini tidak serta merta dapat mengatasi akar masalah jika kamu masih kembali ke lingkungan atau kebiasaan yang membuatmu stres, Beauties. Mengatasi burnout biasanya menuntut adanya perubahan lingkungan dalam jangka panjang.
"Meski demikian, jika direncanakan dengan sungguh-sungguh, liburan bisa menjadi cara yang indah untuk terhubung kembali dengan diri sendiri dan menilai apakah lingkungan Anda perlu diubah atau tidak, alih-alih sekadar menjalani hidup tanpa kesadaran penuh," tambahnya.
Lantas, berapa lama, sih, durasi liburan yang ideal untuk mencegah burnout? Yuk, simak jawabannya berikut ini!






Komentar (0)