Intel Corp. berencana menghimpun dana hingga sekitar US$15 miliar atau setara Rp266 triliun melalui penerbitan saham untuk memperkuat ekspansi bisnis manufaktur chip kontrak atau foundry.
Mengutip Reuters, nilai aksi korporasi tersebut berpotensi mencapai sekitar US$20 miliar apabila opsi over-allotment atau greenshoe digunakan sepenuhnya. Rencana tersebut muncul ketika saham Intel mencatatkan penguatan signifikan sepanjang 2026.
Berdasarkan sumber yang mengetahui rencana tersebut, harga penawaran saham diperkirakan mulai dari US$95 per saham. Harga tersebut sekitar 2,6% di bawah harga penutupan saham Intel pada Senin (10/8/2026) yang berada di level US$97,52.
Permintaan investor disebut telah mencapai lebih dari US$100 miliar. Namun, Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut dan Intel belum memberikan tanggapan terkait rencana penerbitan saham tersebut.
Dalam aksi tersebut, Intel juga berencana memberikan opsi kepada penjamin emisi selama 30 hari untuk membeli tambahan saham senilai hingga US$2,25 miliar pada harga penawaran setelah memperhitungkan diskon.
JPMorgan Securities, Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citigroup Global Markets ditunjuk sebagai penjamin emisi utama dalam aksi korporasi tersebut.
Kebutuhan pendanaan Intel meningkat seiring besarnya investasi yang diperlukan untuk mengembangkan bisnis foundry. Perusahaan menghadapi peningkatan permintaan terhadap central processing unit (CPU), terutama yang berkaitan dengan perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI).
Permintaan tersebut disebut telah melampaui kapasitas produksi Intel. Kondisi ini mendorong perseroan menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) 2026 dari sebelumnya US$18 miliar menjadi US$20 miliar pada Juli 2026.
Dana hasil penerbitan saham berpotensi memperkuat kapasitas pendanaan Intel ketika perseroan tengah mempercepat pengembangan teknologi manufaktur chip generasi berikutnya.
Intel menargetkan produksi chip dalam volume besar menggunakan teknologi manufaktur 14A mulai 2028. Sebelumnya, perusahaan memperingatkan pengembangan teknologi tersebut dapat dihentikan apabila tidak memperoleh pelanggan eksternal utama.
Bisnis foundry Intel mulai menunjukkan perkembangan positif. Unit tersebut disebut telah mendapatkan Tesla sebagai pelanggan untuk teknologi 14A. Optimisme terhadap bisnis manufaktur kontrak Intel juga meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Apple akan memproduksi prosesor bersama Intel. Namun, hingga kini kedua perusahaan belum mengonfirmasi kerja sama tersebut.
Baca Juga: iPhone 18 Pro Terancam Makin Mahal, Biaya Produksi Melejit 38%
Baca Juga: Indonesia Butuh 9 Juta Talenta Digital, ITSEC Asia Buka Akademi AI dan Cybersecurity
Selain ekspansi foundry, Intel juga terus meningkatkan kapasitas manufaktur di luar Amerika Serikat. Pada Juli 2026, perusahaan mengumumkan investasi sebesar €5 miliar atau sekitar US$5,77 miliar untuk meningkatkan dan memperluas fasilitas manufaktur chip di Irlandia.
Nilai investasi tersebut setara dengan lebih dari seperempat total rencana capex Intel sepanjang 2026. Dengan tambahan pendanaan melalui pasar saham, Intel berpotensi memiliki ruang lebih besar untuk membiayai ekspansi kapasitas produksi sekaligus mengejar peluang dari meningkatnya kebutuhan chip untuk teknologi AI.






Komentar (0)