Moskow (ANTARA) - Komisioner Uni Eropa (EU) untuk Urusan Dalam Negeri dan Migrasi Magnus Brunner meyakini bahwa penyelundup manusia bertanggung jawab atas kematian para migran dalam krisis yang terjadi di Ceuta, wilayah otonom Spanyol.
Sebelumnya, pemerintah Spanyol melaporkan sebanyak 72 orang meninggal dunia dalam krisis migran di Ceuta, sementara otoritas wilayah otonom tersebut mencatat jumlah korban mencapai 88 orang.
"Ini jelas merupakan ulah penyelundup dan pelaku perdagangan manusia yang memanfaatkan disinformasi di media sosial," kata Brunner dalam wawancara dengan surat kabar Jerman Bild pada Rabu (5/8).
Ia juga menyebut insiden tersebut tidak dapat diterima dan menyerukan upaya maksimal untuk memerangi penyelundupan manusia. Menurut Brunner, praktik tersebut telah berkembang menjadi "model bisnis yang sangat besar" di seluruh kawasan Mediterania.
Pekan lalu, Kota Ceuta, wilayah otonom Spanyol yang terletak di Afrika Utara dan berbatasan dengan Maroko, menghadapi gelombang besar kedatangan migran. Sekitar 60.000 orang melintasi perbatasan dalam satu hari, sementara jumlah penduduk Ceuta sendiri sekitar 85.000 jiwa.
Sejumlah pejabat dari negara anggota Uni Eropa, termasuk Denmark, Italia, Republik Ceko, dan Finlandia, menyerukan penangguhan sementara keanggotaan Spanyol di Kawasan Schengen.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Slovakia: Uni Eropa harus proteksi perbatasan Schengen
Baca juga: Komisi Eropa sebut migrasi ilegal turun 55 persen dalam dua tahun
Sebelumnya, pemerintah Spanyol melaporkan sebanyak 72 orang meninggal dunia dalam krisis migran di Ceuta, sementara otoritas wilayah otonom tersebut mencatat jumlah korban mencapai 88 orang.
"Ini jelas merupakan ulah penyelundup dan pelaku perdagangan manusia yang memanfaatkan disinformasi di media sosial," kata Brunner dalam wawancara dengan surat kabar Jerman Bild pada Rabu (5/8).
Ia juga menyebut insiden tersebut tidak dapat diterima dan menyerukan upaya maksimal untuk memerangi penyelundupan manusia. Menurut Brunner, praktik tersebut telah berkembang menjadi "model bisnis yang sangat besar" di seluruh kawasan Mediterania.
Pekan lalu, Kota Ceuta, wilayah otonom Spanyol yang terletak di Afrika Utara dan berbatasan dengan Maroko, menghadapi gelombang besar kedatangan migran. Sekitar 60.000 orang melintasi perbatasan dalam satu hari, sementara jumlah penduduk Ceuta sendiri sekitar 85.000 jiwa.
Sejumlah pejabat dari negara anggota Uni Eropa, termasuk Denmark, Italia, Republik Ceko, dan Finlandia, menyerukan penangguhan sementara keanggotaan Spanyol di Kawasan Schengen.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Slovakia: Uni Eropa harus proteksi perbatasan Schengen
Baca juga: Komisi Eropa sebut migrasi ilegal turun 55 persen dalam dua tahun






Komentar (0)