Jangan Takut Anak Gagal, Proses Eksplorasi Justru Bantu Bangun Growth Mindset

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Setiap anak memiliki prosesnya masing-masing dalam menemukan minat dan potensi yang dimiliki. Namun, proses eksplorasi tersebut bukan hanya tentang mencari tahu anak berbakat di bidang apa, melainkan juga menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mengenal dirinya sendiri.

Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Ayoe Sutomo, M.Psi.,Psikolog, ketika anak mencoba berbagai aktivitas, ada banyak proses yang terjadi di dalamnya. Anak tidak selalu mendapatkan hasil yang sesuai harapan, tetapi pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dalam perkembangan dirinya.

“Pada saat kita mengeksplorasi itu kan cuma bukan sekedar eksplorasi saja, tapi ada proses di situ. Ada proses yang mungkin gak selalu bagus terus. Ada kadang pada saat proses eksplorasi tersebut, ‘Oh abis oke terus gak oke.’ Kemudian misalnya sudah mulai ketemu potensi dan minat unggulannya ikut-ikutan lomba atau kompetisi kadang ada menang, kadang ada kalah,” ucap Ayoe dalam acara rangkaian Bebelac Little Star 2026, di Jakarta Pusat, Jumat (24/7).

Eksplorasi Membantu Anak Mengenal Kelebihan dan Kekurangan Diri

Menurut Ayoe, ketika anak mulai mencoba berbagai kegiatan hingga mengikuti lomba atau kompetisi, mereka akan menghadapi berbagai pengalaman, mulai dari keberhasilan hingga kegagalan. Namun, baik menang maupun belum berhasil, semuanya tetap menjadi pembelajaran bagi anak.

Melalui proses eksplorasi, anak dapat belajar memahami dirinya sendiri. Mereka mulai mengenali apa yang menjadi kelebihan, kekurangan, serta hal-hal yang perlu dikembangkan.

.Kemampuan mengenal diri menjadi salah satu fondasi penting yang akan membantu anak ketika tumbuh dewasa. Sebab, individu yang memahami dirinya akan lebih mudah menentukan langkah dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Kegagalan dalam Proses Eksplorasi Ajarkan Anak Growth Mindset

Penting pula diketahui, bahwa dalam proses mencoba berbagai hal, anak juga akan menemui hambatan. Tidak semua usaha akan langsung berhasil, dan tidak semua aktivitas yang dicoba akan berjalan sesuai keinginan.

Namun, momen tersebut justru menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan anak tentang cara menghadapi kegagalan dan mengelola emosi.

“Ketika kemudian ada sandungan, kemudian berlaku untuk regulasi emosi, berlaku untuk walaupun abis itu mungkin belum berhasil, kita coba lagi yuk, kita kemudian cari cara yang lain yuk,” sambungnya.

Menurutnya, pengalaman seperti inilah yang membantu anak membangun growth mindset, yaitu pola pikir bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui usaha dan proses belajar.

Ayoe menegaskan, growth mindset tidak bisa langsung muncul ketika anak sudah dewasa. Kemampuan tersebut perlu dilatih secara bertahap sejak kecil melalui pengalaman nyata.

“Harus kemudian pelan-pelan dibangun, dipupuk. Dan mempumpuknya adalah dengan berbagai macam kegiatan yang mendukung anak untuk mengeksplorasi apa yang menjadi minat unggulnya dia dan menjadi potensinya,” pungkas Ayoe.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kecam Penebangan Pohon di Kota Bandung, Waka MPR Dukung Penegakan Hukum yang Tegas
• 2 jam lalu
0
thumb
Gelaran Kharisma Batavia, Wujud Nyata Pemprov Jakarta Lestarikan Kebaya
• 1 jam lalu
0
thumb
Geledah Rumah Febrie Adriansyah, Kejagung Temukan Bukti Baru TPPU
• 5 jam lalu
0
thumb
El Nino Makin Kuat, BMKG Ungkap Kondisi Cuaca Indonesia Terkini
• 10 jam lalu
0
thumb
Istana Tepis Isu Ancaman Keamanan di Pusat Perbelanjaan Jakarta-Surabaya
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.