LUMRAH saja, dalam politik, selalu ada angka yang naik dan ada angka yang turun.
Hari ini seorang politisi berada di puncak elektabilitas. Besok bisa digeser tokoh lain. Minggu depan bisa berubah lagi. Itulah sifat politik demokrasi.
Elektabilitas bergerak mengikuti dinamika masyarakat, pemberitaan media, kondisi ekonomi, bahkan suasana psikologis publik.
Karena itu, tidak ada alasan bagi pemerintah, terutama presiden, yang sedang menjabat untuk kehilangan fokus hanya karena muncul survei yang menunjukkan ada tokoh lain dengan elektabilitas lebih tinggi.
Mengapa? Karena presiden tidak dipilih untuk memenangkan survei. Presiden dipilih untuk menjalankan pemerintahan.
Ini dua pekerjaan yang berbeda. Survei berbicara tentang kemungkinan masa depan.
Pemerintahan berbicara tentang tanggung jawab hari ini. Yang satu mengukur peluang politik, yang lain menyelesaikan persoalan rakyat. Jangan sampai keduanya tertukar.
Baca juga: Hujan Kartu Kuning untuk Gaya Kepemimpinan KDM
Kalau harga cabai sedang mahal, orang cenderung kesal. Kalau lapangan kerja sedang sulit, orang menjadi pesimistis.
Kalau ekonomi dunia sedang tidak baik, rasa khawatir ikut meningkat. Semua perasaan itu kemudian masuk ke dalam jawaban survei.
Kalau setiap kali muncul survei, pemerintah langsung gelisah, sibuk menghitung dukungan politik, mengubah prioritas, atau lebih banyak memikirkan citra daripada pekerjaan, maka yang paling dirugikan bukan para politisi. Yang paling dirugikan adalah rakyat.
Rakyat tidak sedang menunggu siapa paling tinggi elektabilitasnya.
Rakyat sedang menunggu harga kebutuhan pokok lebih stabil, lapangan pekerjaan bertambah, dan pelayanan publik semakin cepat.
Rakyat tidak bisa menunda kehidupan hanya karena elite politik sedang sibuk membaca hasil survei.
Ibarat seorang kapten kapal sedang membawa ribuan penumpang menyeberangi lautan.
Komentar (0)