Jakarta, CNBC Indonesia - Penerbangan yang seharusnya membawa bantuan kemanusiaan bagi korban perang justru berakhir menjadi tragedi. Pesawat Dakota berlogo Palang Merah yang mengangkut obat-obatan ditembak jatuh oleh Belanda saat hendak mendarat di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta.
Total delapan orang tewas, yakni 3 prajurit TNI dan 5 awak, dalam insiden yang terjadi pada 29 Juli 1947, tepat hari ini 79 tahun lalu.
Menurut kesaksian sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid V (1949), pesawat Dakota VT-CLA tersebut dicarter pemerintah Indonesia untuk menjalankan penerbangan darurat dari Singapura menuju Yogyakarta. Misinya membawa obat-obatan sumbangan pengusaha India, Mr. Patnaik, yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia. Bantuan itu sangat dibutuhkan karena Agresi Militer Belanda I yang dimulai pada 21 Juli 1947 telah menimbulkan banyak korban luka di berbagai daerah.
Setelah menempuh perjalanan dari Singapura, pesawat tiba-tiba disergap pesawat tempur Belanda saat hendak mendarat. Meski badan pesawat telah diberi lambang Palang Merah sebagai penanda misi kemanusiaan, rentetan tembakan tetap dilepaskan.
Pesawat langsung kehilangan kendali dan jatuh di persawahan hingga meledak dan patah menjadi dua. Seluruh bantuan obat hangus. Sebagian besar awak tewas dalam peristiwa tersebut.
Korban terdiri atas tiga prajurit TNI Angkatan Udara, yakni Agustinus Adisutjipto, Abdulrachman Saleh dan Adisumarmo Wiryokusumo. Sementara awak lain, yakni Zainal Arifin, pilot berkebangsaan Australia Alexandre Noel Constantine beserta istrinya, kopilot asal Inggris Roy Hazelhurst, serta teknisi asal India Bhida Ram.
Namun, di tengah puing-puing pesawat, ternyata ada satu orang yang berhasil selamat, yakni Abdul Gani Handonocokro. Dia mengalami luka cukup serius dan langsung mendapat perawatan di rumah sakit.
Penembakan terhadap pesawat berlogo Palang Merah itu tak hanya memicu kecaman dari Indonesia, tetapi juga Australia, Inggris, dan India. Ini terjadi karena ada warga negara mereka menjadi korban tewas. Keempat negara kemudian mendesak Belanda menghentikan pertempuran dan menuntut ganti rugi.
Untungnya, beberapa pekan kemudian, pada 15 Agustus 1947, pemerintah Belanda menerima resolusi PBB untuk menghentikan operasi militernya. Namun, bagi Indonesia, peristiwa itu meninggalkan luka mendalam karena harus kehilangan sejumlah putra terbaik bangsa yang gugur dalam misi kemanusiaan tersebut. Terlebih, ketiga prajurit TNI tersebut merupakan orang terbaik yang diprediksi bakal memimpin AU di masa depan.
Belakangan, tiga prajurit TNI AU yang gugur, yakni Agustinus Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, dan Adisumarmo Wiryokusumo, diabadikan menjadi nama bandara di Yogyakarta, Malang, dan Solo. Ketiganya juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Sementara setiap 29 Juli kini diperingati sebagai Hari Bhakti TNI Angkatan Udara sebagai penghormatan atas pengorbanan mereka dalam menjalankan misi kemanusiaan dan mempertahankan kedaulatan Indonesia.
(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google





Komentar (0)