Iran Gawat! Trump Siapkan Serangan Paling Dahsyat, Intelijen Israel Ungkap Fakta yang Disembunyikan

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

Etindonesia.com  – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran terus menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Di tengah meningkatnya operasi militer di kawasan Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan serangkaian pernyataan keras yang mengindikasikan bahwa Washington tengah bersiap memasuki fase baru dalam konfrontasi dengan Teheran.

Pada hari yang sama, Selasa, 21 Juli 2026, Gedung Putih menjadi pusat perhatian setelah Trump menerima kunjungan resmi Presiden Lebanon Joseph Aoun. Pertemuan tersebut merupakan pertemuan pertama kedua pemimpin di Gedung Putih sejak tahun 2019. Namun, perhatian dunia justru tertuju pada pernyataan Trump mengenai Iran yang dinilai semakin memperjelas arah kebijakan militer Amerika Serikat.

Trump Tegaskan “Garis Merah” terhadap Iran

Dalam konferensi pers usai pertemuan dengan Presiden Lebanon, Trump menegaskan kembali bahwa pemerintahannya menerapkan kebijakan “zero tolerance” atau tanpa toleransi terhadap setiap upaya Iran memperkuat infrastruktur militernya.

Trump menyatakan bahwa setiap pembangunan fasilitas bawah tanah baru maupun sistem pertahanan yang diperkuat oleh Iran akan menjadi sasaran serangan militer Amerika Serikat.

Bahkan, ia mengungkapkan bahwa militer AS tengah mempersiapkan operasi untuk menyerang sebuah kompleks bawah tanah yang berada di wilayah selatan Natanz, salah satu kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat program nuklir Iran.

Menurut Trump, operasi tersebut akan dilaksanakan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan serangan-serangan sebelumnya.

Intelijen Israel Klaim Iran Memindahkan Ribuan Sentrifugal ke Fasilitas Rahasia

Masih pada 21 Juli 2026, The Wall Street Journal menerbitkan laporan eksklusif yang mengutip informasi intelijen Israel mengenai perkembangan terbaru program nuklir Iran.

Menurut laporan tersebut, sejak musim gugur tahun sebelumnya, Iran diduga telah secara diam-diam memindahkan:

ke sebuah kompleks bawah tanah yang tersembunyi jauh di kawasan pegunungan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa fasilitas rahasia itu memiliki dua jaringan terowongan besar yang dibangun sangat dalam di bawah permukaan tanah.

Para ahli memperkirakan kedalaman kompleks tersebut mencapai sekitar 90 hingga 137 meter di bawah lapisan batuan keras, sehingga dinilai mampu bertahan dari sebagian besar serangan udara konvensional.

Selain itu, ukuran ruang bawah tanah tersebut diperkirakan cukup besar untuk menampung berbagai fasilitas yang berkaitan dengan program pengayaan uranium Iran.

Informasi intelijen inilah yang diyakini menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya tekanan Washington terhadap Teheran.

Trump: Iran Membutuhkan 20–25 Tahun untuk Pulih

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga memberikan penilaian mengenai kondisi militer Iran setelah berbulan-bulan mengalami tekanan akibat serangan Amerika Serikat.

Menurutnya, kerusakan yang telah dialami Iran sangat besar sehingga meskipun Amerika Serikat menghentikan seluruh operasi militernya saat ini, Iran tetap memerlukan waktu sekitar 20 hingga 25 tahun untuk memulihkan kemampuan militernya.

Namun Trump menegaskan bahwa operasi Amerika belum berakhir.

Ia mengatakan bahwa Washington tidak berniat menghentikan tekanan terhadap Iran karena, menurutnya, Amerika Serikat telah memberikan pukulan yang sangat besar terhadap kemampuan pertahanan negara tersebut.

Trump juga mengklaim bahwa pemerintah Iran sebenarnya ingin kembali membuka jalur dialog dengan Washington.

Meski demikian, ia menyatakan Amerika Serikat tidak tertarik untuk kembali melakukan perundingan.

Bahkan, Trump mengatakan bahwa Iran “belum melihat apa pun”, karena menurutnya selama ini Washington masih menunjukkan sikap yang relatif menahan diri dibandingkan kemampuan militer yang sebenarnya dimiliki Amerika Serikat.

Keputusan Operasi Militer Skala Penuh Diperkirakan Diambil Dalam Beberapa Hari

Sejumlah media Amerika Serikat yang mengutip pejabat senior pemerintah melaporkan bahwa Presiden Trump diperkirakan akan mengambil keputusan penting dalam beberapa hari mendatang mengenai apakah operasi militer terhadap Iran akan diperluas menjadi perang berskala penuh.

Jika keputusan tersebut diambil, maka operasi militer Amerika diperkirakan akan memiliki intensitas jauh lebih besar dibandingkan rangkaian serangan udara yang selama beberapa hari terakhir menghantam berbagai sasaran militer Iran.

Analis pertahanan menilai keputusan tersebut berpotensi menjadi titik balik konflik di Timur Tengah.

Trump Ancam Houthi Jika Menutup Jalur Laut Merah

Selain membahas Iran, Trump juga menyinggung ancaman kelompok Houthi di Yaman terhadap jalur pelayaran internasional di Laut Merah.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan Houthi kembali memblokade jalur tersebut, Trump menjawab singkat namun tegas.

Ia mengatakan bahwa apabila ancaman tersebut benar-benar terjadi, Amerika Serikat akan segera mengambil tindakan untuk mengatasinya.

Houthi Keluarkan Ancaman Baru terhadap Kapal Internasional

Situasi keamanan di Laut Merah sendiri kembali memanas pada 21 Juli 2026.

Kelompok Houthi mengirimkan surat elektronik kepada berbagai perusahaan pelayaran internasional yang berisi peringatan agar kapal-kapal mereka tidak bersandar di pelabuhan Arab Saudi.

Dalam peringatan tersebut disebutkan bahwa setiap kapal yang melanggar akan dikenai sanksi dan bahkan dapat menjadi sasaran serangan selama masih berada dalam jangkauan operasi militer Houthi.

Arab Saudi Siapkan Perlindungan Jalur Pelayaran

Menanggapi ancaman tersebut, koalisi militer pimpinan Arab Saudi segera mengeluarkan pernyataan resmi.

Koalisi menyatakan siap mengambil berbagai langkah guna menjamin keamanan kapal-kapal negara anggotanya yang melintasi Selat Bab el-Mandeb.

Mereka juga menegaskan akan memberikan respons tegas terhadap setiap ancaman yang dilancarkan kelompok Houthi.

Sejumlah Kapal Tanker Mendadak Mengubah Rute

Data pelacakan kapal internasional juga menunjukkan perkembangan yang tidak biasa.

Sejak Senin malam hingga Selasa pagi, sedikitnya dua kapal tanker pengangkut minyak mentah Arab Saudi yang sebelumnya berlayar menuju Tiongkok dan India tiba-tiba mengubah arah pelayaran ketika melintasi Laut Merah.

Kedua kapal tersebut kemudian bergerak menuju Terusan Suez.

Laporan terbaru bahkan menyebutkan jumlah kapal yang memutuskan mengubah rute kemungkinan telah meningkat menjadi empat unit, memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran dunia pelayaran terhadap situasi keamanan di kawasan tersebut.

Trump Bahas Masa Depan Lebanon dan Abraham Accords

Dalam pertemuan dengan Presiden Joseph Aoun, Trump juga membahas masa depan Lebanon.

Ia menyatakan bahwa pembicaraan kedua pemimpin mencakup rencana tentara Lebanon mengambil alih desa-desa yang sebelumnya ditinggalkan Hizbullah.

Menurut Trump, Amerika Serikat telah menyiapkan rencana yang sangat rinci mengenai proses tersebut dan berbagai pihak internasional akan ikut memberikan dukungan.

Trump bahkan mengatakan bahwa Lebanon memiliki peluang bergabung dalam Abraham Accords, perjanjian normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan sejumlah negara Arab.

Menurutnya, apabila Lebanon benar-benar bergabung, langkah tersebut dapat menjadi salah satu terobosan terbesar bagi perdamaian di Timur Tengah.

Tidak lama kemudian, Trump juga mengumumkan bahwa pemerintah Amerika Serikat telah mengizinkan maskapai-maskapai penerbangan Amerika kembali membuka penerbangan langsung menuju Lebanon.

Amerika Serikat dan Yordania Teken Kesepakatan Dagang Baru

Masih pada hari yang sama, Gedung Putih mengumumkan tercapainya kesepakatan perdagangan baru antara Amerika Serikat dan Yordania.

Pemerintah AS menyatakan bahwa perjanjian tersebut bertujuan menghapus berbagai hambatan perdagangan bagi para eksportir Amerika sekaligus membuka akses pasar baru bagi sejumlah sektor industri strategis.

Iran Terus Menyerang Kepentingan Amerika di Timur Tengah

Sementara aktivitas diplomatik berlangsung, Iran dilaporkan tetap memusatkan serangannya terhadap kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Kuwait dan Bahrain melaporkan wilayah mereka menjadi sasaran serangan.

Pada 21 Juli 2026, Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait mengumumkan bahwa sejumlah pembangkit listrik serta fasilitas desalinasi air laut diserang pada 20 Juli 2026, sehingga memicu kebakaran.

Pemerintah Kuwait mengaktifkan berbagai rencana darurat guna memastikan pasokan listrik nasional tetap terjaga.

Serangan tersebut tercatat sebagai hari keempat berturut-turut fasilitas energi Kuwait menjadi sasaran.

Klaim Serangan terhadap Pusat Data Amazon di Bahrain

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga mengklaim telah menyerang pusat data milik perusahaan teknologi Amerika Amazon yang berada di Bahrain.

Namun hingga berita ini disusun, pemerintah Bahrain belum mengeluarkan konfirmasi resmi mengenai klaim tersebut.

Ledakan Guncang Erbil, Enam Drone Berhasil Ditembak Jatuh

Di wilayah Kurdistan Irak, tepatnya di sekitar Konsulat Amerika Serikat di Kota Erbil, terjadi serangkaian ledakan pada 21 Juli 2026.

Sumber keamanan setempat menyebutkan enam pesawat nirawak bermuatan bahan peledak berhasil ditembak jatuh.

Ledakan berlangsung sekitar tiga puluh menit dan menyebabkan Bandara Internasional Erbil menghentikan sementara seluruh aktivitas penerbangan.

Peristiwa tersebut diperkirakan semakin meningkatkan kemungkinan Amerika Serikat melancarkan operasi balasan dalam skala yang lebih besar.

Serangan Besar Amerika Menghantam Garda Revolusi Iran

Dalam beberapa hari terakhir, militer Amerika Serikat juga kembali menggencarkan serangan udara terhadap berbagai fasilitas militer Garda Revolusi Iran.

Menurut sejumlah sumber militer, sebuah pangkalan rudal di wilayah barat daya Iran yang sebelumnya digunakan untuk menyerang pangkalan Amerika di Yordania dihantam sedikitnya 20 rudal.

Markas besar Garda Revolusi Iran turut menjadi sasaran serangan besar, mengakibatkan sejumlah bangunan mengalami kerusakan.

Laporan juga menyebut kemampuan komando utama Angkatan Udara Iran mengalami pukulan yang sangat berat akibat operasi tersebut.

Krisis Listrik Semakin Meluas di Iran

Di dalam negeri Iran, dampak konflik mulai dirasakan masyarakat luas.

Berdasarkan berbagai rekaman video dan laporan warga yang diterima media Iran International, pemadaman listrik berskala besar terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Sirik, Bandar Abbas, Ahvaz, dan Karaj.

Gangguan pasokan listrik tersebut memicu keresahan masyarakat dan memperburuk kondisi domestik yang telah tertekan akibat konflik berkepanjangan.

Presiden Pezeshkian Tegaskan Tetap Berkoordinasi dengan Ayatollah Khamenei

Di tengah meningkatnya tekanan politik dan militer, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pemerintahannya terus memperkuat koordinasi dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei..

Menurut Pezeshkian, berbagai persoalan nasional diupayakan diselesaikan di bawah arahan langsung Khamenei.

Namun, sejumlah analis menilai langkah tersebut juga dapat dipandang sebagai upaya mengaitkan seluruh krisis nasional dengan kepemimpinan tertinggi Iran sehingga tekanan politik terhadap pemerintah dapat dialihkan.

Analis: Iran Menghadapi Risiko Keruntuhan Menyeluruh

Sejumlah analis yang dikutip dalam laporan tersebut menilai bahwa setelah Amerika Serikat memasuki tahap kedua operasi militernya, kondisi Iran mengalami kemunduran yang sangat cepat.

Menurut mereka, apabila tekanan militer Amerika Serikat terus meningkat dalam beberapa pekan mendatang, Republik Islam Iran menghadapi risiko keruntuhan yang semakin besar, bahkan tidak menutup kemungkinan kepemimpinan negara itu dipaksa menyerah dalam waktu relatif singkat. Meski demikian, penilaian tersebut merupakan analisis para pakar dan belum dapat dipastikan sebagai perkembangan yang akan benar-benar terjadi. (***)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jangan Terlewat! Pendaftaran MagangHub Angkatan II Batch 1 Masih Dibuka hingga 28 Juli 2026
• 4 jam lalu
0
thumb
Hari Anak Nasional 2026:  Ruang Aman untuk Anak Kian Menyempit
• 9 jam lalu
0
thumb
Sudaryono Ungkap Arahan Pertama Prabowo Usai Dilantik Jadi Kepala BGN
• 18 jam lalu
0
thumb
Kejari Probolinggo Tahan Kades Ngadisari, Kasus Dugaan Penganiayaan Masuk Babak Baru
• 1 jam lalu
0
thumb
PN Jakarta Timur Kabulkan Eksepsi Dokter Tifa, Sidang Dugaan Fitnah Ijazah Jokowi Tak Berlanjut
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.