Dahi dan Alis Komuter Mengerut Ketika Ditanya Perjalanan di KRL Hari Ini

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Pertanyaan bagaimana perjalanan naik kereta rel listrik hari ini mungkin terdengar normal. Namun, pertanyaan sederhana itu bisa bikin otot-otot komuter mengencang karena kesal dan lelah.

Jawaban tidak ada impor kereta rel listrik (KRL) bekas oleh Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Bobby Rasyidin bikin sejumlah komuter meradang. Pernyataan seusai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Kamis (5/11/2026) itu dinilai tidak menjawab kebutuhan mendesak komuter.

Dahi dan alis Ruby (28) mengerut ketika ditanyai perjalanan dari Bogor, Jawa Barat ke Jakarta. Gerbong kereta selalu padat setiap pagi dan sore hari.

Ia jarang kebagian kereta 10 dan 12 rangkaian. Belum lagi rute perjalanan cuma sampai Stasiun Manggarai sehingga untuk tujuan Stasiun Jakarta Kota, komuter harus berebutan pindah kereta.

"Mau nggak mau yang penting masuk dalam gerbong. Padahal, kita pengin setidaknya walaupun berdiri masih bisa napas. Ini bahkan tidak ada jarak, muka bisa ketemu muka," ujar pekerja kantoran itu Jumat (6/10/2026).

Perjalanan pergi dan pulang Ruby serasa dikejar sesuatu tak kasat mata. Orang-orang menghindari transit di Stasiun Manggarai lantaran menambah kelelahan sebab harus dua kali jadi pepes dalam gerbong dari Bogor dan gerbong menuju Jakarta Kota.

"Setiap hari kayak gitu. Jadi sudah enggak ketolong lagi padatnya. Makin parah semenjak KRL buatan INKA ditarik karena gangguan," ucap Ruby.

KRL buatan INKA mengalami gangguan pada September lalu akibat anjlokan. Dalam pemeriksaan ditemukan pula keretakan pada komponen rangka bawah.

Rangkaian kereta kemudian ditarik untuk pemeriksaan lebih lanjut. Selain perbaikan, dilakukan pengujian ulang dan pemantauan untuk keandalan layanan.

Baca JugaUrgensi Keandalan KRL Kita
Baca JugaNaik KRL Murah, Menuju Stasiun Mahal
Pilih gerbong perempuan

Sesaknya gerbong tak terhindarkan karena gangguan kereta eksisting serta kekurangan jumlah kereta. Tak heran pernyataan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Bobby Rasyidin diprotes komuter.

Desy (38) bahkan menghindari gerbong campuran. Komuter dari Depok, Jawa Barat ini tak masalah berdesakan asal lebih aman.

"Pokoknya berapa pun rangkaian keretanya, aku ambil gerbong perempuan paling belakang. Aku merasa lebih aman walaupun kayak pepes. Kalau enggak padat baru berani gerbong campuran," ucap Desy.

Gerbong paling belakang dan paling depan dikhususkan untuk perempuan. Sementara gerbong lainnya campuran laki-laki dan perempuan.

Pekerja kantoran ini mau tak mau selalu naik gerbong khusus perempuan karena rangkaian kereta makin pendek. Kebanyakan 8 rangkaian daripada 10 dan 12.

"Semenjak kereta baru bermasalah jadi semakin padat. Pilihannya naik gerbong perempuan atau berangkat lebih pagi," kata Desy.

Keresahan komuter selaras dengan data yang dipaparkan dalam rapat dengar pendapat Komisi VI bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada Rabu (23/9/2026). Rata-rata harian penumpang KRL Jabodetabek mencapai 1,1 juta orang dan diproyeksikan akan mengangkut 369 juta penumpang pada 2026 dengan asumsi konservatif, yakni hanya 1 juta orang per hari (Kompas.id, 24 September 2026).

Di sisi satunya rata-rata luas per kereta untuk KRL Jabodetabek sekitar 60 meter persegi. Idealnya 1 meter persegi hanya menampung 6 orang atau sekitar 360 orang per kereta.

Jika dibandingkan dengan kondisi sekarang saat jam sibuk maka 1 meter persegi bisa ditempati 8 orang atau satu kereta bisa menampung 400-480 orang, seperti lin Bogor (merah) dan lin Cikarang (biru) yang memiliki rasio sekitar 1:8. Sementara perbandingan tertinggi ada pada lin Rangkasbitung (hijau) dengan rasio 1:12 dengan waktu tunggu 10-12 menit.

Selain itu, pada tahun 2026 kebutuhan siap operasi 89 rangkaian kereta. Ini belum termasuk kereta yang membutuhkan perawatan dan cadangan.

Total kebutuhan rangkaian kereta dengan asumsi konservatif adalah 105. Sementara jumlah sarana awal tahun 2026 baru 102 rangkaian kereta, ditambah adanya rencana konservasi atau mengandangkan 13 kereta.

Kebijakan pemerintah

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Bobby Rasyidin seusai rapat terbatas menyampaikan bahwa tidak ada impor bekas KRL. Komuter harus mendapatkan rangkaian kereta baru.

Kereta baru yang dimaksud ini sebagian dari INKA, wujud mendukung industri dalam negeri. Sebagian lagi dari luar negeri yang bekerja sama dengan dalam negeri.

"Banyak, jadi ada 8 rangkaian kereta yang urgen. Kemudian, total 23 rangkaian kereta yang akan dipercepat 2 sampai 3 tahun," ucap Bobby.

Sebelumnya, KRL Jabodetabek mencatat 303.792.024 pengguna pada Januari hingga Oktober 2026. Sementara pengguna pada Oktober sebanyak 32.312.018 orang.

VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda menyebut, data ini menunjukkan volume pengguna meningkat 1,68 persen dibandingkan Oktober 2025 yang mencapai 31.776.933 pengguna. Lin Bogor merupakan lintas dengan volume terbanyak, 14.397.686 pengguna per Oktober 2026.

Upaya yang dilakukan antara lain perpanjangan peron Stasiun Bogor untuk rangkaian 12 kereta. Sementara pengadaan sarana KRL terus dipercepat.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Takut Disadap dan Jadi Korban Penipuan? Ini 6 Cara Melindungi Data Pribadi
• 3 jam lalu
0
thumb
Ekonomi Jepang Diprediksi Melambat Tajam pada Juli-September, Hanya Tumbuh 0,3 Persen
• 8 jam lalu
0
thumb
John Herdman Pilih Pemain-pemain Ini untuk TC di Bali usai Batal Tanding pada FIFA Matchday November 2026
• 4 jam lalu
0
thumb
Neng Eem Ingatkan Partai Politik Jangan Terlena Kekuasaan hingga Abaikan Persoalan Rakyat
• 9 jam lalu
0
thumb
Menko Polkam Sampaikan Dukacita atas Gugurnya Prajurit dan Petugas Karhutla
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.