Dedi Mulyadi Peringatkan Kiamat Ekologis di Bandung Selatan Usai 5.000 Pohon Teh Dirusak

pantau.com
7 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memperingatkan ancaman kiamat ekologis dan potensi bencana tanah longsor secara masif di kawasan Bandung Selatan akibat alih fungsi lahan perkebunan teh menjadi perkebunan sayuran komersial.

Peringatan tersebut disampaikan Dedi di Bandung, Kamis (29/10/2026), menyusul aksi perusakan sedikitnya 5.000 pohon teh di kawasan perkebunan milik PTPN I Regional 2 Kertamanah, Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Ribuan tanaman teh di lahan seluas sekitar 0,4 hektare tersebut dilaporkan mengalami kerusakan setelah digergaji oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Peristiwa itu memicu kemarahan Aliansi Petani Pangalengan (APP) karena aksi perusakan dinilai mengancam keberadaan perkebunan teh yang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Dedi menegaskan bahwa perhatian utamanya bukan pada persoalan konflik agraria yang kemungkinan melatarbelakangi perusakan, melainkan pada ancaman kerusakan lingkungan akibat hilangnya tanaman yang berfungsi sebagai penyangga kawasan pegunungan.

Dedi Mulyadi Ingatkan Risiko Longsor Akibat Alih Fungsi Kebun Teh

Menurut Dedi, tanaman teh memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga berperan penting dalam menjaga kestabilan tanah, terutama di kawasan lereng pegunungan yang rentan terhadap erosi dan tanah longsor.

Ia mengingatkan bahwa penggantian tanaman teh dengan tanaman sayuran secara terus-menerus berpotensi meningkatkan risiko bencana karena perubahan tutupan vegetasi dapat mengurangi kemampuan lahan dalam mempertahankan kestabilan tanah.

"Saya tidak ada urusan dengan konflik agrarianya, tapi yang saya tekankan adalah jangan menebang tanaman yang memiliki fungsi konservasi, menjaga lingkungan dari ancaman bencana. Kalau kebun teh terus ditebangin, diganti dengan perkebunan sayur, nanti longsor. Bandung itu lereng gunung. Kalau kemudian semuanya berubah jadi kebun sayur, sudah, tunggu kehancurannya," ujar Dedi melalui pernyataan resminya.

Dedi menilai kawasan Bandung Selatan memiliki karakteristik geografis berupa lereng pegunungan sehingga perubahan fungsi lahan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap keselamatan masyarakat.

Ia juga menyoroti praktik alih fungsi lahan yang terjadi secara berulang di sejumlah kawasan, termasuk wilayah hutan yang sebelumnya pernah mengalami kebakaran lahan.

Menurutnya, kondisi lahan yang mengalami kerusakan atau perubahan fungsi kerap dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menjalankan kegiatan ekonomi tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan.

Dedi mengingatkan bahwa pemanfaatan lahan yang hanya berorientasi pada keuntungan bisnis dapat menimbulkan ancaman serius bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan bencana.

Petani Diminta Tidak Tergiur Kepentingan Bisnis Sayuran

Dedi meminta masyarakat perdesaan dan para petani agar tidak mudah tergiur atau dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan bisnis perkebunan sayuran, khususnya di kawasan dengan kondisi lereng terjal.

Ia menekankan bahwa kegiatan pertanian dan perkebunan harus tetap memperhatikan aspek konservasi serta keselamatan lingkungan agar tidak meningkatkan risiko bencana.

"Jangan menjadi alat bagi orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan kekayaannya saja, tidak memperhatikan keselamatan lingkungan. Kalau sudah jadi bencana nanti yang repot kita semua. Untuk itu semoga ini menjadi kesadaran, tidak melakukan tindakan berulang," ucap Dedi.

Dedi menegaskan bahwa kepentingan ekonomi tidak boleh mengabaikan fungsi ekologis lahan yang selama ini berperan dalam menjaga kestabilan kawasan pegunungan.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak kerusakan vegetasi tidak selalu langsung terlihat, tetapi dapat memicu ancaman bencana yang lebih serius pada masa mendatang.

Pemprov Jabar Tekankan Perlindungan Kebun Teh Pangalengan dan Ciwidey

Pemerintah Provinsi Jawa Barat memandang perlindungan vegetasi perkebunan teh di kawasan Pangalengan dan Ciwidey sebagai langkah mutlak untuk mempertahankan keseimbangan lingkungan.

Dedi menegaskan bahwa keberadaan tanaman teh di kawasan tersebut tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjalankan fungsi konservasi yang penting bagi keselamatan masyarakat.

Karena itu, Pemprov Jawa Barat menekankan pentingnya mempertahankan tutupan lahan di kawasan perbukitan Bandung Selatan sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana tanah longsor.

Perubahan fungsi lahan yang mengabaikan karakteristik geografis dan daya dukung lingkungan dikhawatirkan dapat memperbesar potensi kerusakan ekologis di kawasan tersebut.

Dedi berharap masyarakat dan seluruh pihak yang berkepentingan terhadap pemanfaatan lahan dapat meningkatkan kesadaran untuk menjaga kelestarian tanaman serta tidak mengulangi tindakan yang merusak fungsi konservasi.

Menurutnya, mempertahankan vegetasi dan fungsi ekologis kawasan lereng pegunungan merupakan langkah penting untuk melindungi keselamatan warga sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di Bandung Selatan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BMKG Petakan Potensi Awan Cumulonimbus 30 Oktober-5 November 2026, Papua Masuk Kategori FRQ
• 10 jam lalu
0
thumb
Singapura Disebut Berhak Marah Atas Kiriman Asap Karhutla dari RI
• 12 jam lalu
0
thumb
Wall Street Menguat Tipis, The Fed Tahan Suku Bunga di Kisaran 3,75%–4%
• 22 jam lalu
0
thumb
Motif Tewasnya Suporter Persib, Emosi Sesaat yang Menyesatkan
• 9 jam lalu
0
thumb
Militer AS Bisa Menyerang Iran dalam Waktu Paling Cepat 96 Jam, Fasilitas Energi dan Nuklir Jadi Target
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.