Satu individu banteng jawa (Bos javanicus javanicus) jantan lahir di Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran (Purbajapa), Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Selasa (27/10/2026) pukul 22.33 WIB. Anak banteng itu lahir dari pasangan pejantan Senta dan betina Bindi.
Kelahiran ini menambah jumlah banteng jawa di Purbajapa menjadi tujuh individu. Populasi tersebut berkembang dari empat individu yang dilepasliarkan ke habitat alaminya saat peresmian Purbajapa pada 11 Desember 2024.
Saat itu, peresmian Purbajapa menandai kembalinya banteng jawa ke Cagar Alam Pananjung Pangandaran setelah satwa tersebut dinyatakan hilang dari kawasan itu sejak 2003.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Mahfudz mengapresiasi kelahiran anak banteng tersebut. Menurut dia, kelahiran ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menjaga dan melindungi satwa liar asli Indonesia.
Kelahiran anak banteng tersebut merupakan yang ketiga di Purbajapa. Sebelumnya, kelahiran pertama berasal dari induk Uchi pada 27 Juli 2025, disusul kelahiran kedua dari induk Bindi pada 7 Agustus 2025.
Purbajapa menerapkan konsep pengembangbiakan semialami dengan dua pasang atau empat individu banteng jawa sebagai indukan. Satwa-satwa tersebut berasal dari sejumlah lembaga konservasi, yakni Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, TSI II Prigen di Pasuruan, dan TSI di Gianyar, Bali.
Purbajapa menempati areal seluas sekitar lima hektar. Sembilan petugas lapangan merawat satwa setiap hari, mulai dari pemberian pakan dan nutrisi tambahan, pemeriksaan kesehatan, pemantauan masa birahi, hingga pemeliharaan kandang, padang gembala, dan pagar.
Kelahiran demi kelahiran itu menjadi harapan bagi upaya mengembalikan banteng jawa ke habitat alaminya. Namun, bertambahnya jumlah banteng di kawasan konservasi belum serta-merta menjamin keselamatan spesies ini di alam.
Kelahiran ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menjaga dan melindungi satwa liar asli Indonesia.
Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menetapkan banteng dalam kategori Kritis atau Critically Endangered. Penyebabnya beragam, mulai dari perubahan habitat dan kemunculan tumbuhan invasif hingga tekanan pemangsa. Pada populasi yang kecil dan terisolasi, rendahnya keragaman genetik akibat perkawinan sekerabat juga dapat menjadi persoalan.
Dalam Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Banteng Jawa 2010–2020 disebutkan, populasi banteng jawa di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, mencapai 150–200 ekor pada 1970. Sekitar tiga dekade kemudian, jumlahnya menyusut menjadi 70–100 ekor. Pada 2012, populasi yang tercatat tinggal 26 ekor.
Penurunan juga terjadi di Jabar. Di Cagar Alam Leuweung Sancang, Kabupaten Garut, tercatat sekitar 200 banteng jawa pada 1988. Populasi banteng di kawasan itu kemudian dinyatakan punah pada 2013.
Kondisi serupa terjadi di Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Pada 1974, kawasan tersebut diperkirakan dihuni 130 banteng jawa. Satwa ini kemudian dinyatakan hilang dari kawasan tersebut sejak 2003, sebelum upaya reintroduksi dilakukan pada 2024.
Akan tetapi, kepunahan banteng jawa bukan hanya berarti hilangnya salah satu satwa liar asli Indonesia. Hilangnya populasi juga berisiko menghilangkan sumber daya genetik yang berpotensi bermanfaat bagi pengembangan ternak lokal.
Alasannya, hubungan genetik antara banteng dan sapi-sapi Indonesia memperlihatkan bahwa konservasi satwa liar dan pengembangan peternakan memiliki kepentingan yang membutuhkan.
Dalam riset berjudul “Sapi Indonesia Punya Jejak DNA Banteng Liar, Tertinggi di Sapi Madura” di The Conversation, Sabhrina Gita Aninta dan sejumlah peneliti mengungkapkan adanya jejak percampuran genetik (introgression) banteng liar pada sejumlah rumpun sapi lokal Indonesia.
Jejak tersebut ditemukan pada sapi aceh, sapi pesisir, sapi bali, sapi madura, hingga sapi pasundan. Sejarah genetik sapi-sapi lokal juga melibatkan sapi zebu yang berasal dari India.
Sapi bali, misalnya, merupakan hasil domestikasi banteng yang telah lama dibudidayakan di Indonesia. Dalam tulisan Banteng Jawa: Bioekologi, Genetik, dan Upaya Pelestariannya, Maryatul Qiptiyah dan sejumlah peneliti menjelaskan, proses domestikasi banteng jawa diperkirakan telah berlangsung sejak 3.500 sebelum Masehi.
Kedekatan hubungan tersebut membuat banteng berpotensi menjadi sumber genetik bagi pengembangan sapi bali. Maryatul dan kawan-kawan menguraikan, penurunan keragaman genetik akibat perkawinan sekerabat dapat berkaitan dengan penurunan produktivitas dan meningkatnya kerentanan ternak terhadap penyakit. Perkawinan silang dengan banteng jawa menjadi salah satu alternatif yang dapat diteliti untuk mengatasi persoalan tersebut.
Dalam diskusi Forum Konservasi Satwa Liar (Foksi), dokter hewan TSI II Prigen, Ivan Chandra, juga pernah menjelaskan pentingnya banteng jawa sebagai sumber genetik untuk memperbaiki kualitas sapi.
Banteng jawa memiliki toleransi terhadap pakan berkualitas rendah dan kondisi cuaca buruk, selain bertubuh besar. Menurut Ivan, pendekatan serupa telah diterapkan pada pengembangan sapi di Jepang dan Malaysia. (Kompas, 16 Februari 2015).
Akan tetapi, hubungan genetik banteng jawa dan sapi bali ternyata tidak hanya membuka peluang bagi masa depan peternakan. Arah sebaliknya mulai dikaji. Sapi bali, misalnya, disebut punya peluang membantu mempertahankan keragaman genetik banteng jawa yang terancam punah.
Sabhrina Gita Aninta dan sejumlah peneliti dalam tulisan berjudul Punya Kemiripan Gen, Apakah Sapi Bali Bisa Membantu Menyelamatkan Banteng yang Terancam Punah? yang diterbitkan di The Conversation menjelaskan, komposisi genetik sapi bali dan banteng jawa sangat mirip.
Penelitian mereka menemukan nilai indeks fiksasi genetik (FST) keduanya berada pada kisaran 0,1–0,2. Sebagai pembanding, nilai FST sapi bali dan sapi zebu sekitar 0,7. Secara umum, nilai yang lebih rendah menunjukkan diferensiasi genetik yang lebih kecil di antara populasi yang dibandingkan.
Atas dasar kedekatan genetik tersebut, para peneliti menilai sapi bali berpotensi dimanfaatkan untuk membantu menjaga keragaman genetik banteng yang terancam punah.
Namun, potensi ini tidak berarti sapi bali dapat langsung dilepasliarkan atau dikawinkan dengan banteng liar. Kondisi genetik, kesehatan, dan perilaku kedua populasi perlu diperiksa terlebih dahulu.
Sebagian populasi sapi bali yang terisolasi cukup lama, misalnya, di Australia, diketahui memiliki beban genetik tinggi. Jika populasi semacam itu dilepasliarkan ke habitat banteng, ada risiko varian genetik yang merugikan ikut menyebar dan menurunkan ketahanan populasi banteng liar.
Risiko penyakit juga tidak boleh diabaikan. Sapi bali rentan terhadap penyakit Jembrana, infeksi virus yang dapat menyebabkan demam tinggi dan gangguan kesehatan berat. Karena itu, pemeriksaan kesehatan menjadi bagian penting sebelum sapi bali dipertimbangkan sebagai sumber genetik bagi banteng.
Para peneliti juga menekankan perlunya mengkaji apakah populasi banteng yang terpisah di berbagai taman nasional di Jawa masih memiliki keragaman genetik yang cukup untuk bertahan. Kecocokan sumber genetik dari sapi bali dengan populasi banteng yang hendak dibantu pun perlu dipastikan.
Kelahiran banteng jawa di Pangandaran menjadi tambahan harapan bagi upaya mengembalikan satwa itu ke habitat alaminya. Selain itu, hubungan genetiknya dengan sapi lokal juga bisa semakin membuka peluang penelitian untuk pengembangan masa depan ternak Indonesia.






Komentar (0)