Krisis BBM Menguji Ketahanan Pariwisata Bali

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di beberapa wilayah Pulau Bali pada pertengahan Oktober lalu (11-16 Oktober 2026), meski sudah mulai terkendali, menjadi “alarm” bagi ketahanan ekonomi pariwisata Bali sebagai destinasi wisata andalan di Tanah Air.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, kelangkaan BBM yang menyebabkan antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bukan karena kurangnya pasokan dan cadangan BBM nasional, tetapi terjadi akibat adanya masalah distribusi BBM dari Jawa Timur ke Bali dan daerah lain, seperti Nusa Tenggara. (Kompas.id, 16 Oktober 2026)

Seperti diberitakan sebelumnya, kelangkaan BBM terjadi di sejumlah wilayah di Bali seperti di Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, Buleleng, Klungkung, Bangli, dan Jembrana hingga menyebabkan antrean panjang di sejumlah SPBU. Antrean mengular hingga ada yang lebih dari satu kilometer dan masyarakat harus antre berjam-jam, bahkan sampai menginap untuk mendapatkan BBM.

Namun, persoalan krisis BBM di Bali bukan sekadar mengularnya antrean, waktu yang hilang, hingga kemacetan yang ditimbulkan, tetapi lebih jauh daripada itu adalah dampak terhadap ekonomi pariwisata yang harus ditanggung Bali.

Rantai ekonomi rentan

Gangguan pasokan BBM di Bali tidak serta merta menurunkan kunjungan wisatawan, tetapi antrean di SPBU yang berimbas pada perubahan perjalanan dan kenaikan biaya operasional memperlihatkan kerentanan ekonomi pariwisata yang bergantung pada kelancaran mobilitas. Sebab, gangguan energi juga merambat hingga ke hotel, restoran, agen perjalanan, pengemudi wisata, hingga pelaku UMKM.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menyebutkan, pada tahun 2025 terdapat 3.347 biro perjalanan wisata yang tersebar di sembilan kabupaten/kota. Mereka tentu saja terdampak karena Pulau Bali mengandalkan aktivitas perjalanan wisata sebagai perputaran ekonomi. Belum terhitung jumlah kendaraan yang terdampak dari agen perjalanan tersebut.

Pengemudi wisata menghabiskan waktu berjam-jam untuk memperoleh BBM dan terjebak kemacetan. Jika perjalanan harus dialihkan, biaya operasional dapat bertambah karena jarak tempuh berubah. Agen perjalanan mungkin perlu menyesuaikan jadwal, sementara wisatawan berpotensi kehilangan waktu untuk menikmati atraksi yang telah dipesan.

Pada usaha hotel dan restoran, persoalan energi tidak hanya berkaitan dengan kendaraan. Keterlambatan pasokan barang, distribusi makanan, dan mobilitas pekerja dapat mengganggu operasional. Jika biaya pengangkutan meningkat, pengusaha menghadapi pilihan sulit antara menyerap biaya tambahan, mengurangi margin, atau menaikkan harga kepada konsumen.

Jika dilihat dari data jumlah perjalanan menurut daerah asal dan daerah tujuan, kabupaten/kota yang terdampak kelangkaan BBM adalah wilayah-wilayah yang paling besar mobilitas perjalanan wisatanya, seperti Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Tabanan, dan Kabupaten Buleleng.

Kabupaten Badung, menurut data BPS Agustus 2026, menjadi wilayah paling banyak dipilih sebagai tujuan perjalanan wisatawan nusantara, tercatat sebanyak 598.319 perjalanan menuju wilayah tersebut. Sejumlah destinasi wisata favorit wisatawan memang berada di seputaran Badung. Deretan pantai pasir putih yang indah di pesisir Selatan Bali, seperti Pantai Kuta, Pantai Melasti, Pantai Pandawa, dan Jimbaran tak terlewatkan dikunjungi wisatawan. Juga wilayah Canggu di pesisir Barat Daya Bali yang beberapa tahun terakhir menjadi destinasi wisata popular.

Baca JugaStok BBM Nasional Diklaim Aman, Mengapa Antrean Masih Terjadi di Jawa Timur dan Bali?

Demikian  pula sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Gianyar juga menjadi favorit tujuan perjalanan, seperti Bali Zoo, Pura Tirta Empul, dan kawasan Ubud yang terkenal dengan pusat seni, budaya tradisional, dan keindahan alam berupa sawah terasering serta hutan yang asri.

Dampak nyata dirasakan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kabupaten Tabanan. Kunjungan wisatawan ke destinasi unggulan Tabanan tersebut dilaporkan merosot tajam hingga hampir 50 persen, setelah sebelumnya turun sekitar 30 persen. (balitribune.co.id, 18 Oktober 2026).

Pergerakan perjalanan menuju destinasi-destinasi wisata tersebut dan destinasi lainnya terganggu akibat kelangkaan BBM. Hal tersebut dirasakan salah satu biro perjalanan, KangenBali Tour & Transport. Selain harus antre di SPBU berjam-jam, waktu tempuh mencapai destinasi menjadi lebih lama imbas kemacetan yang semakin parah sehingga tujuan destinasi wisata sebagian dikurangi. Aturan ganjil genap pengisian BBM juga membuat manajemen melakukan perubahan pengaturan armada sebagai strategi supaya aktivitas wisata tetap berjalan.

Jika pasokan energi terus terganggu, dampak terhadap sektor pariwisata akan semakin signifikan dan merembet ke sektor-sektor lain yang saling berkaitan. Gangguan berkepanjangan terhadap aktivitas pariwisata juga dikhawatirkan memengaruhi penerimaan pajak daerah.

Berdasarkan simulasi Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Bali, gangguan pasokan dan keterbatasan BBM selama tujuh hari diprakirakan berdampak sekitar 0,019 persen terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Meski dampak ekonomi dari kelangkaan BBM belum dihitung secara pasti, tetapi segala pergerakan aktivitas pariwisata yang memperlihatkan besarnya rantai ekonomi dari berbagai sektor, rentan terganggu.

Menjaga ketahanan pariwisata

Sebagai daerah yang menjadikan sektor pariwisata tumpuan perekonomian daerah, kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara menjadi indikator penting untuk melihat perkembangan ekonomi daerah. Apalagi perputaran ekonomi pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan sektor ekonomi lainnya. Peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya memberi manfaat bagi pelaku usaha pariwisata, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi masyarakat secara lebih luas.

Tahun 2025, kunjungan wisatawan mencapai 16,3 juta kunjungan, wisatasan mancanegara (wisman) tercatat sekitar 7,05 juta kunjungan. Capaian tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah pariwisata Bali. Bahkan, saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) XV Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali, Jumat (16/10/2026), Gubernur Bali Wayan Koster memproyeksikan kunjungan wisman ke Bali sepanjang 2026 mencapai 7,1 juta hingga 7,2 juta kunjungan.

Dengan rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara tercatat sebesar 1.522 dolar AS per kunjungan, perputaran ekonomi sektor pariwisata Bali pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar Rp176 triliun. Sehingga kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Bali pada tahun 2025 mencapai sekitar 66 persen.

Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan dinamika pariwisata punya pengaruh signifikan terhadap kinerja perekonomian daerah. Karena itu, keberlanjutan sektor pariwisata menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Bali yang tumbuh 5,82 persen sepanjang 2025.

Data BPS menunjukkan, pada triwulan II-2026, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum menyumbang 21,91 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Bali. Belum lagi kontribusi lapangan usaha lain yang menopang pariwisata seperti transportasi, perdagangan, jasa, termasuk juga pertanian.

Baca JugaBali Dinobatkan Jadi Destinasi Terbaik Dunia 2026, Tantangannya Banyak

Oleh karena itu, menjaga ketahanan pariwisata Bali harus menjadi perhatian serius semua pihak yang berkepentingan, termasuk memastikan ketersediaan pasokan BBM. Pelajaran utama dari krisis BBM Bali bukan semata-mata perlunya menambah pasokan ketika antrean muncul. Peristiwa ini menunjukkan pentingnya sistem distribusi yang memiliki cadangan memadai dan mampu mengantisipasi keterlambatan pengiriman. Pemerintah daerah dan pelaku industri juga perlu memiliki mekanisme komunikasi ketika pasokan terganggu.

Gangguan pasokan BBM jika sering terjadi tentu akan mengganggu citra pariwisata Bali. Risiko reputasi tidak boleh diabaikan, mengingat Bali kini bersaing dengan berbagai destinasi di kawasan Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand.

Di sinilah ukuran ketahanan pariwisata Bali perlu diperluas. Destinasi yang tangguh bukan hanya destinasi yang tetap ramai ketika gangguan terjadi, melainkan destinasi yang mampu menjaga wisatawan bergerak, usaha tetap beroperasi, dan manfaat ekonomi menjangkau masyarakat. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Masyarakat Sipil Desak Penguatan Keadilan Iklim dan Pelibatan Kelompok Rentan dalam COP31
• 19 jam lalu
0
thumb
Rupiah Hari Ini Turun 55 Poin ke Rp18.135 per USD
• 22 jam lalu
0
thumb
Partai Hanura Siapkan Strategi Politik Modern Hadapi Pemilu 2029
• 16 jam lalu
0
thumb
Karhutla di Sumsel dan Kalteng Masih Tinggi, BMKG Gencarkan OMC dan Penyebaran Dry Ice
• 23 jam lalu
0
thumb
Seorang Pria Mencuri Seluruh Uang Persembahan di Kuil, Lalu Meninggalkan Uang Sekitar Rp 2.700 untuk Memohon Pengampunan Dewa
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.