Jakarta, CNBC Indonesia - Batuan dan mineral di alam kerap dipandang sebelah mata sekadar sebagai benda padat biasa. Padahal, di balik wujud fisiknya, batuan menyimpan rekaman data kompleks mengenai bagaimana bumi kita berproses dan berubah dari jutaan hingga puluhan juta tahun lalu.
Hal tersebut dikupas tuntas oleh Peneliti dari Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) Geodiversitas Sukendar Asikin, Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Isyqi.
Ia menjelaskan, KKI Geodiversitas BRIN yang berpusat di Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah, saat ini aktif menyimpan, merawat, dan mengelola sebanyak 852 koleksi geomaterial. Dari total keseluruhan koleksi tersebut, rinciannya terdiri atas 231 koleksi batuan beku, 328 koleksi batuan sedimen, 172 koleksi batuan metamorf, serta 121 koleksi mineral. Setiap spesimen ini memiliki karakteristik dan nilai ilmiah yang tinggi.
"Batuan atau mineral ternyata tidak hanya sebuah benda padat yang bisa kita temukan di alam dengan mudah. Batuan dan mineral ternyata menyimpan rekaman data, rekaman bagaimana bumi kita berproses dan berubah," ungkap Isyqi, dalam Webinar Koleksi Ilmiah TakSon Series 23, bertema "Mengenal Koleksi Batuan Metamorf KKI Geodiversitas sebagai Rekaman Perjalanan Lempeng ke dalam Bumi", Senin lalu dikutip Sabtu (24/10/2026).
Batuan metamorf, ujarnya, memiliki keistimewaan tersendiri dalam sains kebumian. Batuan metamorf didefinisikan sebagai batuan asal atau protolit yang dapat berasal dari batuan beku, sedimen, maupun batuan metamorf yang lebih tua yang mengalami perubahan mendasar pada komposisi mineral, tekstur, dan strukturnya akibat proses metamorfisme.
Proses pembentukan batuan metamorf umumnya dipicu oleh tiga agen atau faktor utama yang bekerja di dalam perut bumi, yakni peningkatan temperatur yang berkisar antara 150 hingga 700 derajat Celcius, tekanan ekstrem mulai dari 0,1 megapascal hingga 6 gigapascal, serta kehadiran fluida aktif seperti air dan karbon dioksida.
Selain faktor pembentuknya, Isyqi menjelaskan batuan metamorf dapat terbentuk melalui berbagai lingkungan geologi atau tectonic settings yang berbeda di muka bumi. Setting tersebut meliputi zona subduksi, yaitu wilayah pertemuan lempeng di mana lempeng samudra yang tipis menunjam ke bawah lempeng benua.
Selain itu, batuan metamorf juga terbentuk di zona tumbukan antar-benua, melalui proses intrusi magma panas yang memengaruhi batuan di sekitarnya, di punggungan tengah samudra (mid-ocean ridge) akibat pergerakan lempeng yang saling menjauh, hingga fenomena langka berupa gelombang kejut dari jatuhnya meteorit ke permukaan bumi.
Fokus utama riset yang dibagikan Isyqi kemudian mengerucut pada bukti-bukti geologi dari Kompleks Melange Luk Ulo, Kebumen, Jawa Tengah, yang merekam peristiwa subduksi purba pada Masa Kapur atau sebelum 70 juta tahun lalu. Melalui sampel batuan metamorf, seperti filit grafit dan sekis mika, para periset dapat merekonstruksi kembali sejarah suhu dan tekanan purba menggunakan metode analisis geokimia modern.
"Namun demikian, kita tidak akan melihat batuan-batuan tersebut sebagai benda koleksi saja. Kita akan mencoba mencari tahu cerita apa yang ada di balik batuan-batuan tersebut, terutama tentang perjalanan lempeng ke dalam bumi," tegas Isyqi.
Sebagai contoh nyata dari hasil risetnya, analisis termometri klorit, barometri fengit, dan spektroskopi Raman menunjukkan batuan filit grafit terbentuk pada kisaran tekanan 4 sampai 6 kilobar dan temperatur 340 hingga 380 derajat celsius, yang secara teoritis masuk dalam kelompok fasies greenschist (sekis hijau).
Sementara itu, studi perbandingan pada sampel sekis mika membuktikan pembentukannya pada tekanan yang jauh lebih tinggi, yakni 15 hingga 16 kilobar dan temperatur 350 hingga 380 derajat Celsius yang mengonfirmasi keterkaitannya dengan lingkungan zona subduksi purba.
Ia berharap masyarakat luas, akademisi, dan pemerhati kebumian tidak lagi memandang batuan metamorf sekadar sebagai benda koleksi pajangan museum. "Batuan-batuan tersebut adalah arsip sejarah alam yang nyata, yang merekam secara otentik perjalanan lempeng dan dinamika evolusi tektonik Nusantara di masa lampau.
(wur/wur) [Gambas:Video CNBC]





Komentar (0)