Jakarta, CNBC Indonesia - Pasukan Amerika Serikat (AS) telah diperingatkan dengan keras agar tidak menggunakan informasi orang dalam untuk bertaruh di pasar prediksi. Arahan tegas ini dikeluarkan langsung oleh Menteri Perang AS Pete Hegseth, yang menyebutkan bahwa taruhan semacam itu dapat membongkar rencana militer dan memengaruhi keputusan operasional negara.
Mengutip Russia Today, Sabtu (24/10/2026), memo tertanggal Selasa tersebut secara khusus menargetkan platform judi seperti Polymarket dan Kalshi, di mana pengguna biasa bertaruh pada peristiwa dunia nyata, termasuk pemilu dan aksi militer. Arahan tersebut melarang keras penggunaan materi rahasia maupun informasi resmi lain yang belum tersedia untuk publik, di mana para pelanggar akan menghadapi tindakan disipliner atau tuntutan pidana di bawah hukum militer maupun federal.
"Musuh kita mengamati pergerakan di pasar ini, ketika seorang anggota layanan Amerika, profesional intelijen, atau warga sipil Departemen lainnya terlibat dalam transaksi keuangan pada hasil militer, mereka menciptakan sinyal," ungkapnya.
Hegseth juga memperingatkan bahwa kepentingan finansial pribadi dapat dengan mudah membahayakan objektivitas dan penilaian profesional di lapangan.
"Seorang ahli logistik dengan uang yang dipertaruhkan pada tanggal serangan memiliki kepentingan pada tanggal tersebut, dan seorang analis dengan posisi pada suatu hasil memiliki kepentingan pada hasil tersebut," kata Hegseth.
Arahan terbaru ini menyusul skandal penuntutan terhadap seorang tentara Pasukan Khusus AS yang dituduh mengambil keuntungan dari pengetahuan awal tentang operasi bulan Januari untuk menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Jaksa menuduh Sersan Utama Gannon Ken Van Dyke menggunakan informasi dari keterlibatannya dalam operasi tersebut untuk memasang taruhan Polymarket lebih dari US$ 32.500 (Rp 585.000.000), dan sukses meraup lebih dari US$ 400.000 (Rp 7.200.000.000). Sebagian besar taruhan itu diduga dipasang hanya beberapa jam sebelum serangan ke Caracas terjadi, meski Van Dyke hingga kini mengaku tidak bersalah.
Kontroversi ini nyatanya juga meluas hingga ke luar ranah militer.
Sejumlah akun Polymarket yang baru dibuat tercatat memasang taruhan dengan waktu yang sangat mencurigakan tepat sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata AS-Iran pada April lalu, yang menghasilkan keuntungan hingga ratusan ribu dolar. Gedung Putih kemudian langsung mengeluarkan peringatan kepada stafnya agar tidak berdagang berdasarkan informasi rahasia tersebut.
Secara terpisah, mantan operator teleprompter Trump juga diperintahkan untuk menyerahkan keuntungan lebih dari US$ 107.500 (Rp 1.935.000.000) dan membayar denda sebesar US$ 65.000 (Rp 1.170.000.000). Sanksi ini dijatuhkan setelah regulator menemukan fakta bahwa ia menggunakan akses awalnya ke teks pidato presiden untuk bertaruh pada kata-kata apa saja yang akan diucapkan oleh Trump.
Skandal beruntun ini telah mengintensifkan pengawasan terhadap pasar prediksi, yang dituduh oleh beberapa negara bagian AS telah menghindari hukum perjudian dan perlindungan konsumen secara licik.
Namun, pemerintahan Trump bersikeras berargumen bahwa platform tersebut harus tetap diatur oleh otoritas keuangan federal, bukan di bawah undang-undang perjudian dari masing-masing negara bagian.
Menariknya, keluarga presiden juga diketahui memiliki hubungan bisnis dengan industri perjudian daring tersebut. Donald Trump Jr. saat ini tercatat menjabat sebagai penasihat strategis untuk Kalshi dan memegang investasi besar di Polymarket melalui perusahaan venturanya, 1789 Capital.
(tps/tps)





Komentar (0)