Rekombinasi dan Mutasi Virus Meningkatkan Virulensi, Wabah Penyakit di Tiongkok Kembali Memanas

erabaru.net
11 jam lalu
Cover Berita

Wabah penyakit di Tiongkok terus meningkat, sementara industri pemakaman memasuki musim sibuk. Varian baru COVID-19, PJ.2.1, mengalami peningkatan tajam. Pada pertengahan Oktober, varian ini mengalami rekombinasi genetik dengan RC.5, sehingga mutasi yang meningkatkan kemampuan virus menghindari sistem kekebalan tubuh (immune escape) semakin kuat dan daya penularannya meningkat. Para akademisi memperkirakan gelombang wabah kali ini akan mencapai puncaknya pada pertengahan November.

EtIndonesia.com Seorang ahli virologi Tiongkok bermarga Zhang (nama samaran) mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan penelitian data klinis, varian COVID-19 yang saat ini beredar memiliki kecenderungan menyerang kelompok usia yang berbeda. PQ.16.1.1 terutama menyerang lansia, PJ.2.1 terutama menyerang kelompok usia dewasa muda dan paruh baya, sedangkan BA.3.2.2 terutama menyerang anak-anak.

“Kelompok lansia berusia di atas 60 tahun akan sangat sulit bertahan menghadapi serangan virus yang begitu ganas. Bahkan kaum muda pun tidak luput dari dampak jangka panjang yang ditimbulkannya,” kata Ahli virologi Tiongkok bermarga Zhang (nama samaran). 

“Gejala pada kaum muda merupakan yang paling ringan, tetapi daya penularannya sangat kuat. Masa inkubasi pada kaum muda berkisar antara 4 hingga 12 hari. Pekerjaan yang banyak berinteraksi dengan kaum muda, seperti guru, memiliki risiko yang tinggi,” jelasnya. 

Zhang juga mengungkapkan bahwa pada puncak gelombang wabah sebelumnya, banyak pasien dengan kondisi parah yang masih belum diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sebagian besar mengalami komplikasi penyakit jantung serta penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular. 

Jika ginjal mengalami gangguan, tingkat kematian dapat mencapai 77 persen. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk mengendalikan tiga faktor risiko utama, yakni tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kadar lemak darah tinggi.

“Tingkat kematian akibat penyakit ini pada musim panas tahun ini, berdasarkan data yang diberikan laboratorium, mencapai 2,21 persen. Lebih dari 98 persen pasien dengan kondisi parah telah mengalami demam selama lebih dari satu bulan dan suhu tubuhnya tidak kunjung turun,” ujar Zhang (nama samaran). 

“Jika memiliki penyakit bawaan, kondisi tersebut harus dikendalikan agar tetap stabil. Sebisa mungkin hindari terkena flu. Jika memungkinkan, perpanjang jeda waktu antara dua kali terinfeksi,” jelasnya. 

Zhang juga mengungkapkan bahwa PM2.5 memperburuk kondisi pasien yang terinfeksi virus.

PM2.5 adalah partikel halus di udara dengan diameter kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer yang berbahaya bagi kesehatan manusia. 

Data yang dipublikasikan menunjukkan bahwa pada 2025, konsentrasi rata-rata tahunan PM2.5 di Tiongkok mencapai sekitar 29,6 µg/m³ (mikrogram per meter kubik), hampir 5,9 kali lebih tinggi daripada nilai standar yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Angka ini menempatkan Tiongkok di antara negara-negara dengan tingkat pencemaran udara terburuk di dunia.

Zhang (nama samaran) mengatakan, “Lingkungan tempat tinggal kita sangat sering mengalami lonjakan PM2.5 hingga melampaui batas. Pasien yang sedang sakit dan terpapar PM2.5 menghadapi peningkatan risiko rawat inap secara eksponensial.” 

“Paparan tersebut secara signifikan meningkatkan jumlah pasien yang harus dirawat di rumah sakit. Ketika menyusun laporan, mereka bahkan tidak berani menyebut PM2.5 di daerah setempat karena masalah itu tidak dapat mereka atasi.”

Seorang pelaku usaha pemakaman di Taiyuan, Provinsi Shanxi, mengatakan bahwa tahun ini sangat sedikit jenazah yang dilayani berasal dari orang-orang berusia lanjut. 

Sebagian besar justru merupakan orang dewasa muda dan paruh baya berusia di bawah 50 tahun, yang menjadi tulang punggung keluarga mereka. Kondisi ini membuat keluarga yang ditinggalkan sulit menerima kenyataan.

 “Musim sibuk sudah tiba. Belakangan ini pekerjaan sangat padat. Jumlah kremasi meningkat dan pada dasarnya semua harus mengantri. Banyak orang meninggal setelah jatuh sakit. Tahun ini juga banyak kasus kematian mendadak, terutama akibat serangan jantung. Banyak korbannya berusia 30-an hingga 40-an, bahkan 50-an tahun,” kata Li, seorang pelaku usaha pemakaman di Taiyuan, Shanxi. 

Laporan wawancara wartawan NTD Television, Xiong Bin dan Bai Ni.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Anak Usaha Chandra Asri Ekspansi ke Bisnis Tangki Bitumen 12.000 KL
• 8 jam lalu
0
thumb
Bos Persib Ungkap Faktor Kekalahan Persib dari Madura United, Mulai dari Cuaca Panas Hingga Kelelahan
• 6 jam lalu
0
thumb
6 Tips Menghindari Penipuan Berkedok Rekrutmen Catut Nama Pegadaian
• 17 jam lalu
0
thumb
KPK Akui Suami Bupati Pekalongan Nonaktif Tak Penuhi Pemeriksaan Dugaan TPPU
• 1 jam lalu
0
thumb
Isreal Serang Desa Jamla di Suriah, Tembak Mati Pria Difabel
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.