Pegawai Lab Rusia Tewas Kena Infeksi, Ratusan Orang Diawasi Ketat

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang pekerja di laboratorium Rusia meninggal karena diduga terinfeksi setelah secara tidak sengaja memecahkan tabung reaksi berisi bakteri hidup saat mengambil sampel untuk pengujian.

Perempuan bernama Daria Sh. itu dilaporkan berusia 28 tahun dan bekerja di Institut Antipes di Irkutsk. Media Rusia melaporkan bahwa ia sempat memberi tahu tenaga medis mengenai insiden tersebut.

Otoritas kesehatan di wilayah Irkutsk, Siberia, Rusia, kemudian menetapkan hampir 200 orang dalam pengawasan medis, mereka disebut sempat berkontak dengan Daria. Peristiwa ini memicu langkah darurat untuk mencegah potensi penyebaran infeksi.

Daria dirawat di rumah sakit di Shelekhov, sebuah kota dekat ibu kota wilayah Irkutsk, setelah mengalami gejala pneumonia berat. Kondisinya memburuk hingga membutuhkan alat bantu pernapasan sebelum akhirnya meninggal.

Pilihan Redaksi
  • Penemu Bahtera Nabi Nuh Buka-bukaan, Pernah Diancam Dibunuh
  • BMKG Prediksi Hujan Lebat di 9 Wilayah RI Hari Ini, 21 Oktober

Sejumlah laporan media menyebut infeksi itu sebagai pes pneumonik, yakni bentuk penyakit pes yang menyerang paru-paru dan dapat menular antarmanusia melalui droplet pernapasan.

Melansir The Moscow Times, sedikitnya 197 orang yang masuk pengawasan medis, lebih dari 100 orang dilaporkan menjalani isolasi di bangsal rumah sakit. Rumah Sakit Distrik Shelekhov juga menjalani karantina sambil menunggu penilaian komisi khusus.

Beda dengan Covid-19

Menanggapi berbagai laporan ini, Simon Clarke profesor di Sekolah Ilmu Biologi, Universitas Reading, memberikan penjelasan mengenai sejumlah klaim yang beredar.

Ia menyatakan situasi ini sangat berbeda dengan Covid-19. Meskipun tetap patut diwaspadai, ia menyarankan agar tidak perlu panik.

Berbeda dengan banyak penyakit pernapasan akibat virus, pes disebabkan oleh bakteri dan umumnya dapat diobati dengan antibiotik jika teridentifikasi dengan cepat.

"Laporan dari Rusia mau tidak mau memunculkan perbandingan dengan Covid-19. Namun, penting untuk diingat bahwa pes pneumonik merupakan penyakit yang sangat berbeda," kata Clarke.

Ia mengatakan bahwa pes pneumonik sangat berbahaya karena menandakan infeksi telah mencapai paru-paru dan hampir selalu berakibat fatal jika tidak segera diobati.

Clarke mengatakan, peristiwa lolosnya patogen dari laboratorium bukanlah hal yang belum pernah terjadi, tetapi harus ada banyak kesalahan fatal yang terjadi hingga seorang pekerja laboratorium bisa terinfeksi akibat tabung reaksi yang pecah.

Berdasarkan pengalamannya bekerja di laboratorium dengan tingkat keamanan tinggi, penanganan patogen berbahaya melibatkan berbagai lapisan perlindungan, prosedur ketat, lemari keamanan (safety cabinet), sistem aliran udara, serta langkah-langkah cermat yang dilakukan oleh staf terlatih.

"Infeksi yang terjadi di lingkungan laboratorium merupakan peristiwa langka, dan pecahnya tabung reaksi tidak serta-merta menyebabkan paparan atau infeksi. Selain itu, kami juga jarang menggunakan tabung reaksi," jelasnya.

"Sebelum ada perincian lebih lanjut, sulit untuk menilai apakah ini merupakan kasus terisolasi, paparan akibat kerja, atau bukti adanya penularan yang lebih luas," imbuhnya.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kantongi Mineral Kritis, Indonesia Bidik Rantai Pasok Industri Semikonduktor
• 11 jam lalu
0
thumb
Direktur eksekutif baru LPDS soroti tantangan pers di era AI
• 20 jam lalu
0
thumb
Indonesia Butuh 165 Ribu Dokter Gigi, Kemendiktisaintek Targetkan Tiap Provinsi Punya FKG di 2029
• 42 menit lalu
0
thumb
Manipulasi Saham DSSA, BREN, dan CUAN, OJK Sanksi 11 Perusahaan
• 18 jam lalu
0
thumb
Misi Diplomatik Satgas Port Visit 2026 Perkuat Hubungan RI-Kepulauan Solomon
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.