China-Djibouti Sentil Kekuatan Asing soal Konflik Laut Merah

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
Foto: Para pejuang pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melepaskan tembakan saat melakukan gerakan maju—menurut klaim pasukan pemerintah—untuk melawan kelompok Houthi yang didukung Iran, di dekat Dhubab, Provinsi Taiz, Yaman; gambar ini merupakan cuplikan dari video yang dirilis pada 5 Oktober 2026. (via REUTERS/SOUTHERN GIANTS BRIGADES)

Jakarta, CNBC Indonesia - China dan Djibouti menyentil negara-negara besar dari luar kawasan agar menghormati kedaulatan negara pesisir dan tidak memperburuk konflik di Laut Merah. Seruan ini disampaikan di tengah memburuknya situasi keamanan di kawasan tersebut akibat eskalasi konflik di Yaman dan meluasnya ketegangan Timur Tengah.

Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan para menteri luar negeri kedua negara di Beijing, Kamis (22/10/2026), China dan Djibouti menegaskan bahwa semua negara harus menikmati kebebasan bernavigasi di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.

Keduanya juga menekankan bahwa hak kapal dagang untuk melintasi jalur tersebut sesuai hukum internasional harus dihormati.


Baca: Selat Hormuz Panas! 4 Kapal Diserang & Terbakar, 3 Tabrak Ranjau

"Kedua belah pihak meyakini bahwa dalam mengelola dan mengamankan Laut Merah, kedaulatan, integritas wilayah, serta aspirasi negara-negara pesisir Laut Merah harus benar-benar dihormati," demikian bunyi pernyataan bersama yang dikutip kantor berita resmi China, Xinhua.

Kedua negara juga memperingatkan agar kekuatan besar dari luar kawasan tidak menggunakan kekuatan militer maupun menjatuhkan sanksi sepihak. Menurut pernyataan tersebut, tindakan semacam itu berisiko memperburuk situasi keamanan dan meningkatkan ketegangan regional.

China menyatakan mendukung negara-negara pesisir Laut Merah dalam upaya menjaga keselamatan dan kelancaran pelayaran internasional. Beijing dan Djibouti juga menegaskan bahwa pengelolaan keamanan jalur laut strategis tersebut harus memperhatikan kedaulatan serta kepentingan negara-negara di sekitarnya.

Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur penting bagi pelayaran internasional. Keamanan kawasan ini terganggu oleh konflik di Yaman, ketika kelompok Houthi yang didukung Iran berperang melawan pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi dan berupaya memperluas kendali di pesisir Laut Merah.

Baca: Babak Belur! SWF Terbesar di Dunia Boncos Rp540 T di Kuartal III-2026

Djibouti memiliki posisi strategis di dekat Selat Bab el-Mandeb, yang memisahkan negara tersebut dari Yaman. Negara di Tanduk Afrika itu juga menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat, Jepang, dan Prancis. China membuka pangkalan militer luar negeri pertamanya di Djibouti pada 2017.

Pernyataan China dan Djibouti muncul ketika konflik regional semakin meluas. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) dilaporkan memerintahkan sejumlah diplomat dan anggota keluarga mereka meninggalkan misi diplomatik AS di Arab Saudi menyusul eskalasi pertempuran di Yaman, yang menjadi salah satu front dalam konflik lebih luas terkait perang AS-Israel melawan Iran.


(tfa/luc)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Pasukan Yaman Rebut Kembali Pesisir Bab El-Mandeb

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Komnas Anak Kecam Konflik Ruben Onsu & Sarwendah Soal Hak Asuh Anak
• 12 jam lalu
0
thumb
LP2AD soroti proyek perbaikan saluran air di Jalan Sumur Jambu Jaktim
• 19 jam lalu
0
thumb
Sindikasi Pemilu dan Demokrasi Soroti Ketimpangan Anggaran dan Membengkaknya Jabatan
• 3 jam lalu
0
thumb
Mantan Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin Tersangka Lagi, Kejati Hadapi Praperadilan untuk Kedua Kali
• 22 jam lalu
0
thumb
Danantara Siapkan Investasi Besar pada 2027, Mineral Kritis hingga AI Jadi Incaran
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.