Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyatakan pihaknya menyediakan 477 rumah oksigen di puskesmas, rumah sakit dan tempat lainnya sebagai respons penanganan dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman di Jakarta, Rabu, mengatakan sebanyak 295 rumah oksigen berada di Kalimantan Tengah, 127 di Kalimantan Selatan, 35 di Kalimantan Barat, 8 di Kalimantan Selatan, 5 di Jambi, 4 di Riau, dan 3 di Sumatera Selatan.
Dikutip dari pheoc.kemkes.go.id, disebutkan di tujuh provinsi dan 65 kabupaten/kota yang terdampak karhutla, terdapat 314.124 total kumulatif kasus infeksi saluran pernafasan (Ispa), yang mencakup 70.890 kasus Ispa pada kelompok usia 0-5 tahun. Pada 20 Oktober, tercatat ada 3.269 kasus Ispa.
Baca juga: Baznas hadirkan Rumah Sehat Oksigen untuk warga terdampak kabut asap
Selain menyiapkan rumah oksigen, pihaknya juga memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, yakni sebanyak 1.691 puskesmas dan 360 rumah sakit.
Kemudian, memberikan layanan kesehatan gratis di Puskesmas dan RS daerah untuk penyakit akibat dampak karhutla, seperti Ispa, diare, dan sebagainya.
Pihaknya juga menyediakan dan mendistribusikan 578.878 obat-obatan, seperti obat batuk, diare, antibiotik, 1.500 vitamin, serta logistik kesehatan.
"Sudah terkirim ~3,7 juta masker N95 dan masker bedah, dari rencana 500 ribu per provinsi, oxygen concentrator, APD, dan lainnya," katanya.
Selain itu, kata Aji, memobilisasi sebanyak lebih dari 2.600 sumber daya manusia kesehatan yang terdiri atas dokter, perawat, epidemiolog, dan lain-lain.
Baca juga: Menkes: Puskesmas wilayah terdampak karhutla wajib buka rumah oksigen
Baca juga: Pemkot ajak masyarakat gunakan ruang oksigen selama kabut asap
Kemenkes juga melaksanakan pemantauan penyakit dan kualitas udara, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), memberi edukasi kesehatan, dan menyediakan dashboard pemantauan untuk mengetahui kualitas udara dan rumah oksigen terdekat.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Senin (19/10) mengatakan pemenuhan kebutuhan logistik kesehatan di daerah terdampak asap tebal tidak boleh tertunda dan memerlukan dukungan penuh pemerintah daerah.
Untuk memberi perhatian khusus kepada anak, ibu hamil, dan lansia, Kemenkes bersama pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan tenaga kesehatan setempat menyiagakan penjangkauan layanan posyandu ke rumah-rumah.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman di Jakarta, Rabu, mengatakan sebanyak 295 rumah oksigen berada di Kalimantan Tengah, 127 di Kalimantan Selatan, 35 di Kalimantan Barat, 8 di Kalimantan Selatan, 5 di Jambi, 4 di Riau, dan 3 di Sumatera Selatan.
Dikutip dari pheoc.kemkes.go.id, disebutkan di tujuh provinsi dan 65 kabupaten/kota yang terdampak karhutla, terdapat 314.124 total kumulatif kasus infeksi saluran pernafasan (Ispa), yang mencakup 70.890 kasus Ispa pada kelompok usia 0-5 tahun. Pada 20 Oktober, tercatat ada 3.269 kasus Ispa.
Baca juga: Baznas hadirkan Rumah Sehat Oksigen untuk warga terdampak kabut asap
Selain menyiapkan rumah oksigen, pihaknya juga memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, yakni sebanyak 1.691 puskesmas dan 360 rumah sakit.
Kemudian, memberikan layanan kesehatan gratis di Puskesmas dan RS daerah untuk penyakit akibat dampak karhutla, seperti Ispa, diare, dan sebagainya.
Pihaknya juga menyediakan dan mendistribusikan 578.878 obat-obatan, seperti obat batuk, diare, antibiotik, 1.500 vitamin, serta logistik kesehatan.
"Sudah terkirim ~3,7 juta masker N95 dan masker bedah, dari rencana 500 ribu per provinsi, oxygen concentrator, APD, dan lainnya," katanya.
Selain itu, kata Aji, memobilisasi sebanyak lebih dari 2.600 sumber daya manusia kesehatan yang terdiri atas dokter, perawat, epidemiolog, dan lain-lain.
Baca juga: Menkes: Puskesmas wilayah terdampak karhutla wajib buka rumah oksigen
Baca juga: Pemkot ajak masyarakat gunakan ruang oksigen selama kabut asap
Kemenkes juga melaksanakan pemantauan penyakit dan kualitas udara, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), memberi edukasi kesehatan, dan menyediakan dashboard pemantauan untuk mengetahui kualitas udara dan rumah oksigen terdekat.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Senin (19/10) mengatakan pemenuhan kebutuhan logistik kesehatan di daerah terdampak asap tebal tidak boleh tertunda dan memerlukan dukungan penuh pemerintah daerah.
Untuk memberi perhatian khusus kepada anak, ibu hamil, dan lansia, Kemenkes bersama pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan tenaga kesehatan setempat menyiagakan penjangkauan layanan posyandu ke rumah-rumah.






Komentar (0)