Zelensky Tuding Trump Tekan Ukraina agar Menyerah, Rudal Patriot Tertahan

republika.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan belum memberikan persetujuan terhadap pengalihan sejumlah rudal pencegat Patriot dari negara-negara sekutu kepada Ukraina. Penundaan tersebut terjadi ketika persediaan rudal pertahanan udara Ukraina semakin menipis di tengah meningkatnya serangan rudal balistik Rusia terhadap kota-kota dan infrastruktur energi negara itu.

Harian The Washington Post, Senin (19/10/2026), melaporkan bahwa Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth belum menyelesaikan prosedur persetujuan yang diperlukan untuk mengalihkan sejumlah rudal Patriot buatan Amerika dari negara-negara mitra kepada Ukraina. Informasi tersebut diperoleh dari seorang pejabat AS dan tiga sumber lain yang mengetahui proses pengambilan keputusan tersebut.

Baca Juga
  • Fakta di Balik Eksekusi 2 Warga Bangladesh yang Dituduh Asusila di Masjid Makkah Versi Media Dhaka
  • Petugas Pemadam Karhutla Kalsel Masih Bersusah Payah
  • Bagaimana Muslim Kashmir Gagalkan Upaya Partai Modi Seragamkan Khutbah Jumat?

Menurut laporan itu, Hegseth belum secara resmi menolak permintaan pengalihan rudal, tetapi juga belum mengambil langkah yang diperlukan untuk menyetujuinya. Pentagon disebut masih menyetujui sejumlah bentuk bantuan lainnya kepada Ukraina sehingga penundaan tersebut tidak berarti seluruh bantuan militer Amerika telah dihentikan.

Persetujuan Washington diperlukan karena rudal Patriot merupakan persenjataan buatan Amerika Serikat yang pengalihannya kepada negara ketiga terikat ketentuan ekspor dan perjanjian antarnegara. Dengan demikian, negara-negara sekutu yang bersedia menyerahkan sebagian persediaan rudal mereka kepada Ukraina tetap membutuhkan izin pemerintah AS.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Laporan The Washington Post memperkuat temuan The Kyiv Independent yang lebih dahulu mengungkap tertahannya persetujuan pengiriman rudal pencegat tersebut. Media Ukraina itu mengutip sejumlah pejabat pemerintah dan militer yang mencurigai adanya pertimbangan politik di balik keputusan Washington.

Namun, pemerintah Amerika Serikat membantah tuduhan bahwa pengiriman rudal sengaja dihambat untuk menekan Ukraina. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Selasa (20/10/2026) mengakui kemungkinan adanya keterlambatan pengiriman, tetapi menegaskan bahwa persoalan itu tidak dilandasi keputusan politik untuk merugikan Kyiv.

"Tidak ada arahan politik yang disengaja untuk merugikan Ukraina," kata Rubio kepada wartawan saat melakukan kunjungan ke India, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Rubio menjelaskan bahwa rudal pencegat merupakan salah satu jenis persenjataan yang paling banyak dibutuhkan berbagai negara saat ini. Ia menegaskan Amerika Serikat juga harus mempertimbangkan kebutuhan pertahanannya sendiri ketika menentukan ketersediaan dan pengiriman persenjataan tersebut.

Persediaan Patriot Ukraina Mendekati Titik Kritis

Penundaan persetujuan pengiriman terjadi ketika Ukraina menghadapi kekurangan rudal pencegat untuk menghadapi serangan Rusia. Dalam laporan terpisah pada 15 Oktober 2026, The Washington Post mengutip seorang pejabat Ukraina yang menyatakan bahwa persediaan rudal Patriot negara tersebut tinggal beberapa unit.

Pejabat itu mengungkapkan bahwa Ukraina masih memiliki sekitar 10 rudal pencegat pada 7 Oktober, tetapi persediaan tersebut telah digunakan dalam serangan Rusia berikutnya. Sumber lain yang mengetahui kondisi pertahanan udara Ukraina bahkan menyebut persediaan rudal pencegat telah habis, meskipun informasi mengenai jumlah sebenarnya tidak dapat dikonfirmasi secara independen.

Para pejabat pertahanan Ukraina menolak memublikasikan jumlah pasti persenjataan yang masih tersedia dengan alasan keamanan operasional. Karena itu, informasi mengenai rendahnya persediaan Patriot didasarkan pada keterangan sumber-sumber yang mengetahui situasi tersebut, bukan pengumuman resmi jumlah amunisi yang tersisa.

Patriot merupakan salah satu sistem pertahanan udara yang paling penting bagi Ukraina dalam menghadapi rudal balistik Rusia. Rudal balistik bergerak dengan kecepatan tinggi dan memiliki karakteristik penerbangan yang membuatnya lebih sulit dicegat dibandingkan sejumlah jenis rudal jelajah atau drone.

Kebutuhan terhadap rudal pencegat semakin meningkat karena Rusia terus menyerang pembangkit listrik, gardu induk, dan infrastruktur energi Ukraina menjelang musim dingin. Serangan tersebut mengancam pasokan listrik, pemanas, dan berbagai layanan penting bagi masyarakat sipil.

Pada Senin (19/10/2026), Rusia meluncurkan 16 rudal balistik dan lebih dari 200 drone dalam serangan luas terhadap sejumlah wilayah Ukraina. Reuters melaporkan serangan itu menyebabkan korban jiwa, merusak fasilitas energi, serta mengakibatkan pemadaman listrik yang berdampak pada lebih dari setengah juta rumah tangga.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengeluhkan bahwa negaranya kembali tidak memperoleh peringatan dini yang memadai dari mitra internasional sebelum serangan tersebut terjadi. Menurutnya, keterlambatan informasi dan ketersediaan rudal pertahanan udara memperbesar risiko terhadap keselamatan warga sipil.

Zelensky Tuduh Trump Menekan Ukraina agar Menyerah

Kontroversi pengiriman rudal Patriot berlangsung di tengah memburuknya hubungan politik antara Donald Trump dan Volodymyr Zelensky. Kedua pemimpin kembali terlibat perselisihan terbuka mengenai strategi mengakhiri perang Rusia-Ukraina dan serangan Kyiv terhadap fasilitas energi Rusia.

Dalam wawancara dengan Bloomberg News yang diterbitkan pada Ahad (18/10/2026), Zelensky menuduh pemerintahan Trump mengambil sejumlah langkah yang memberikan tekanan kepada Ukraina untuk menerima penyelesaian perang yang merugikan negaranya. Ia mengaitkan tekanan tersebut dengan pelonggaran sanksi terhadap Rusia serta tertahannya pasokan rudal pertahanan udara yang sangat dibutuhkan Kyiv.

"Saya yakin berbagai langkah telah diambil untuk meyakinkan Ukraina agar menyerah," kata Zelensky kepada Bloomberg.

Namun, Zelensky juga mengatakan dirinya tidak ingin meyakini bahwa mitra Amerika Serikat secara sengaja menginginkan perang berakhir dengan mengorbankan kepentingan Ukraina. Ia menyatakan bahwa rangkaian keputusan Washington menimbulkan kesan demikian, meskipun tidak menyimpulkannya sebagai tujuan resmi pemerintah AS.

Dalam wawancara tersebut, Zelensky mengungkapkan bahwa Amerika Serikat baru menyetujui sebagian pengiriman rudal yang telah dibiayai melalui mekanisme pengadaan persenjataan bagi Ukraina. Menurutnya, bagian lainnya belum memperoleh persetujuan dan persoalan itu tidak semata-mata disebabkan kendala teknis.

Ia juga menyebut Ukraina saat ini menerima sekitar 12 rudal pencegat Patriot setiap bulan dari Amerika Serikat. Jumlah tersebut, menurut perbandingan yang disampaikan Zelensky, hanya sekitar seperempat dari pasokan bulanan yang diterima pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden.

Keterangan Zelensky tersebut belum menjelaskan secara terperinci seluruh jalur pengadaan dan pengiriman rudal yang digunakan Ukraina. Persediaan pertahanan udara Kyiv juga berasal dari beberapa mekanisme, termasuk bantuan bilateral dan pembelian persenjataan yang dibiayai negara-negara mitra.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Usut 5 Merek Beras Fortifikasi, Peredaran Produk Ditaksir Rp69,9 Miliar
• 3 jam lalu
0
thumb
Di Forum Internasional ARNEC, Appi Paparkan Strategi Makassar Bangun Generasi Sehat dan Cerdas
• 2 jam lalu
0
thumb
Kakek yang Meninggal di Toilet Masjid Al Hidayah Tandes Punya Riwayat Hipertensi
• 3 jam lalu
0
thumb
Rais Syuriah PBNU Gelar Workshop Keharmonisan Keluarga untuk Bu Nyai dan Ning
• 4 jam lalu
0
thumb
Pemerintah siapkan gugus tugas kawal implementasi regulasi AI
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.