REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rais Syuriah PBNU (2026-2031), KH. Imam Jazuli, Lc. M.A. sekaligus pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon menyampaikan bahwa gagasan untuk menyelenggarakan workshop edukasi seks, kesehatan mental dan keharmonisan keluarga sudah lama muncul, lebih-lebih ketika mencuat berita mengenai praktik pencabulan dan penyimpangan seks di beberapa pesantren oleh oknum.
“Sejak tahun 2015, saya buka open house untuk wali santri dan masyarakat umum. Itu saya lakukan setiap hari Jum’at sore. Yang datang ternyata makin variatif kelas sosial, profesi, dan jabatannya, tak terkecuali pengasuh pesantren dari mana-mana. Dari dialog itulah saya paham bahwa hubungan suami-istri yang tidak selesai dapat berpengaruh ke pengelolaan pesantren,” papar Kiai Imam dalam sambutan pembukaan.
Baca Juga
Nusa Penida Tambah Pilihan Akomodasi dengan Kehadiran 20 Vila Baru
Indonesia Lampaui Target Emas Asian Para Games 2026, Menpora Apresias Prestasi Atlet
Kredit Tumbuh 50 Persen, Krom Bank Tekankan Pengelolaan Risiko
Menurutnya, hubungan suami-istri bukan sebatas hubungan di ranjang tetapi mencakup komunikasi, kesehatan mental dan urusan keharmonisan rumah tangga secara umum.
“Ketika hubungan itu bermasalah, maka akibatnya berupa rangkaian masalah yang mengular dan kait mengkait,” ungkapnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Kiai Imam menambahkan, sejak tahun 2025, dirinya juga telah berinteraksi dengan 5000 lebih kiai dari seluruh Indonesia yang mengikuti workshop untuk pesantren transformatif di Pesantren Bina Insan Mulia.
“Para kiai dituntut untuk menyelesaikan berbagai persoalan di pesantren, mulai dari santri, guru, bangunan, wali santri, hingga keluarga. Di saat yang sama, para kiai tidak bisa menjalani kehidupan sosial sebagaimana masyarakat biasa, maka ketika hubungan suami-istri bermasalah, masalah itu melahirkan masalah lain, “ kata Kiai Imam Jazuli.
Rais Syuriah PBNU itu juga menceritakan bahwa setelah meneliti 12 kasus yang ditangani polisi, 9 kasus bersumber dari hubungan suami-istri yang tidak harmonis. Ada yang sudah pisah ranjang, ada yang hubungan mereka telah hambar, dan ada yang sedang proses cerai.
“Karena itu, workshop ini ingin lebih memastikan bahwa para kiai dan bu nyai telah selesai dalam mengatasi masalah hubungan rumah tangga, sehingga pesantrennya aman dan perjuangan mereka membesarkan pesantren semakin nyaman,” tambahnya.
Workshop edukasi seks, kesehatan mental, dan keharmonisan rumah tangga angkatan ke-2 untuk para ibu nyai dan ning digelar di hotel Aston Serang Banten pada Ahad pagi (18/10/26).
Meski waktu pendaftaran dan seleksi dibuka hanya beberapa hari sebelum acara, tapi antusiasme peserta sangat tinggi. Sebanyak 372 peserta hadir dan rela mengantri panjang untuk proses verifikasi data.
Workshop angkatan ke-2 ini memang khusus untuk para ibu nyai dan ning di Provinsi Banten. Angkatan ke-1 sudah kami mulai untuk para ibu nyai dan ning di Provinsi Jawa Barat.
Workshop in menargetkan 5000 peserta untuk seluruh provinsi di Indonesia yang bekerja sama dengan jaringan hotel Aston.
Terkait pendanaan, Ketua Panitia Ubaydillah Anwar menyampaikan bahwa seluruh kebutuhan workshop, mulai dari tempat, akomodasi, transportasi, konsumsi, kebutuhan narasumber, dan lain-lain ditanggung oleh Imam Jazuli Foundation (IJF).
“IJF adalah lembaga non-profit yang bergerak untuk membantu berbagai bentuk kegiatan pemberdayaan, pelatihan, dan pengembangan pesantren, para kiai, guru, dai, santri, dan masyarakat berprestasi. IJF tidak menerima donasi sedekah, zakat, infak, dan wakaf dari luar,” tegas Ubaydillah dalam sambutannya.
Untuk membekali para ibu nyai mendapatkan pemahaman dan keahlian dalam hubungan suami-istri, maka workshop menghadirkan dua narasumber sekaligus, yaitu pakar psikologi Hena Rustiana dari Kesehatan Mental Indonesia dan dr. H. Boyke Dian Nugraha, seksolog Indonesia.
Hena Rustiana menyoroti pentingnya kesehatan mental dan keintiman dalam menghasilkan kualitas seks yang bagus. Karena itu, kemampuan mengelola emosi, kontrol diri, dan komunikasi memainkan peranan penting dalam menghasilkan hubungan suami-istri yang berkualitas tinggi.
Senada dengan itu, dr. Boyke berkali-kali mengingatkan agar para ibu agar tidak mudah terbawa emosi.
“Jangan sedikit-sedikit baperan, jangan terlalu mengurusi urusan orang lain, syukuri semua yang terjadi, dan nikmatilah hidup ini,” seru Boyke.
Sebagai seksolog, dokter Boyke menekankan pentingnya menjaga penampilan fisik, kesehatan fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual.
“Kecantikan fisik sangat penting bagi perempuan, sebab mata laki-laki itu pertama kali tertuju pada kecantikan fisik dan untuk mewujudkannya dibutuhkan kesediaan untuk menjaga diri, seperti olah raga, menjaga makan, vitamin, menambah ilmu dan pergaulan yang sehat,” jelasnya memungkasi paparan.
Komentar (0)