Jakarta: Nilai tukar rupiah dapat bergerak menguat maupun melemah akibat berbagai faktor, mulai dari dinamika geopolitik, harga komoditas, hingga kondisi pasar keuangan global. Pergerakan tersebut juga dipengaruhi oleh kekuatan dolar Amerika Serikat (AS), perbedaan suku bunga, dan aliran modal asing.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman menjelaskan, dinamika geopolitik dapat memengaruhi perekonomian melalui tiga jalur utama, yakni harga komoditas, pasar keuangan, hingga perdagangan dan pertumbuhan ekonomi.
"Ada tiga jalur yang mesti diperhatikan. Pertama, jalur komoditas yakni melalui harga minyak dan harga komoditas lainnya. Kedua, jalur finansial," jelas dia, dalam laman media sosial Bank Indonesia, dikutip Senin, 19 Oktober 2026.
Menurut dia, dampak pada jalur keuangan dapat bermula dari perubahan sentimen pasar, penguatan dolar AS, hingga perubahan kebijakan suku bunga. Perkembangan tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi kondisi inflasi.
Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Baca Juga :
Ada Apa di Balik Nomor Seri Uang Rupiah? Simak PenjelasannyaSelain itu, penguatan dolar AS turut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Kondisi pasar global dan perubahan preferensi investor juga berpotensi memengaruhi aliran modal ke Indonesia.
Aida menjelaskan, perhatian BI terhadap nilai tukar bukan semata-mata untuk mengendalikan inflasi yang terlalu tinggi atau mencegah perekonomian tumbuh melampaui kapasitasnya. Stabilitas rupiah juga perlu dijaga karena perubahan nilai tukar dapat memengaruhi harga barang dan jasa di dalam negeri.
“Exchange rate atau nilai tukar tadi punya dampak kepada inflasi. Sehingga kita punya kepentingan menjaga nilai tukar,” ujarnya.
Untuk menjaga stabilitas tersebut, BI memperhitungkan sejumlah indikator, termasuk selisih suku bunga domestik dan luar negeri, pergerakan dolar AS, serta daya tarik aset keuangan dalam negeri.
BI juga mempertimbangkan pemberian insentif untuk mendorong aliran modal masuk (capital inflows) ke Indonesia. Arus modal tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Dengan demikian, pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi domestik. Perubahan harga komoditas, sentimen pasar keuangan internasional, kebijakan suku bunga, dan pergerakan modal juga berperan dalam menentukan arah nilai tukar.





Komentar (0)