Jakarta: Bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan menuai respons dari siswa sekolah dasar di Jakarta. Muhammad Alfatih Kherid, siswa SDIT Nurul Yakin di Condet, Jakarta Timur, mengubah foto dirinya menggunaakan teknologi AI seperti seorang jurnalis yang melaporkan kondisi Karhutla di Kalimantan.
Ide ini muncul saat tugas sekolah membuat narasi berita. Fatih, sapaan akrabnya, berpikir untuk membuat dirinya sedang meliput secara langsung bencana Karhutla. Ia mengaku terdorong karena kagum atas ketangguhan jurnalis dalam memberitakan update Karhutla.
Selain itu, inisiatifnya merupakan bentuk solidaritas kepada anak-anak yang menjadi korban Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Awalnya dari tugas sekolah. Saya berpikir untuk edit AI menjadi wartawan di sana. Saya liat Wartawan di tv hebat, berani, meskipun sedih juga lihat banyak anak-anak kena gangguan pernapasan selama lebih dari 3 bulan kebakaran,” kata Fatih di SDIT Nurul Yakin, Jakarta Timur, Senin,, 19 Oktober 2026.
Baca Juga :
Presiden Prabowo Perintahkan Penanganan Karhutla tanpa Menunggu Hujan"Lihat wartawan pakai masker bersama para tim pemadam menembus sampai ke titik terdekat kebakaran itu sangat hebat. Dari berita Karhutla ini, Kalimantan jadi terkenal. Tapi sayangnya terkenal karena bencana ulah manusia," jelas siswa kelas 5 itu.
Data dari Kementerian Kesehatan menyebut, secara kumulatif kasus ISPA mencapai 283.270 di wilayah Kalimantan dan beberapa provinsi lain yang terdampak Karhutla periode 18 Agustus–13 Oktober 2026.
Dari angka ini, sekitar 63.711 kasus dialami oleh anak-anak. Begitu pula dengan tingkat kualitas udara, angka Indeks kualitas udara (AQI) di Palangka Raya menyentuh level 340 atau kategori sangat berbahaya.
Fatih turut menulis narasi berita singkat sebagai bentuk dukungan kepada para jurnalis. Ia berharap suatu saat dirinya menjadi peneliti bidang mitigasi bencana untuk terlibat dalam merancang kebijakan dalam pencegahan dan mengurangi risiko akibat bencana, baik bencana alam maupun ulah manusia.
"Ingin terlibat jadi peneliti bencana, sehingga Karhutla ini tidak menjadi siklus tahunan. Enggak bisa membayangkan kalau setiap tahun begini terus," ungkapnya.





Komentar (0)