Merawat Rumah Golkar (6-Habis)

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Perjalanan di Partai Golkar menyimpan kisah tentang proses, ketekunan, dan pengabdian. Dari merintis karier politik di tangga terbawah, menghadapi kegagalan dalam pemilu, hingga mendapat kepercayaan menduduki jabatan publik, setiap pengalaman membentuk cara pandang para kader terhadap partai yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.

Di tengah perubahan zaman dan tantangan politik, mereka berharap Golkar tetap menjadi rumah bersama yang inklusif, membuka ruang bagi generasi muda, serta mengedepankan kaderisasi, meritokrasi, dan integritas. Bukan sekadar menjaga keberlangsungan partai, Golkar diharapkan mampu terus beradaptasi, menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, dan melahirkan pemimpin yang tumbuh melalui proses serta kerja nyata.

Berikut pengalaman dan harapan sejumlah kader Partai Golkar yang kini mengemban amanah di pemerintahan dan kepengurusan partai.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden/Wakil Ketua Umum Golkar Bambang Soesatyo

Profesi sebagai wartawan ekonomi di Harian Umum Prioritas sekitar tahun 1985 menjadi pintu awal bagi saya dalam mengenal Partai Golkar. Kala itu, saya bertugas memburu kisah sukses para tokoh, yang kebetulan ada dari elite Golkar seperti sosok Akbar Tandjung, Agung Laksono, Fadel Muhammad, hingga Aburizal Bakrie. Kedekatan dengan para narasumber berlanjut di luar wawancara hingga akhirnya mengantarkan saya bergabung dengan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), organisasi kepemudaan yang berafiliasi dengan Golkar.

Karier politik saya juga dibangun dari bawah dengan mengikuti jenjang kaderisasi dan pelatihan dalam mengenal doktrin kekaryaan. Saya memulainya dengan menjadi anggota Pokja Ekonomi dalam kepengurusan DPP Partai Golkar di bawah kepemimpinan Harmoko di awal 1990-an.

Jika publik kini melihat saya sudah pernah berada di pucuk pimpinan di Senayan, banyak yang tak melihat kalau jalannya terjal. Saya sempat gagal empat kali berturut-turut dalam pemilu. Baru pada Pemilu 2009, saya terpilih menjadi anggota DPR. Namun, dari proses kegagalan itulah saya belajar tentang pentingnya kerja keras dan konsistensi.

Namun, ujian terbesar bukanlah dari kegagalan elektoral. Pengalaman pahit yang paling tak terlupakan justru ketika mengawal kepemimpinan Bang Akbar Tandjung di masa genting pascareformasi 1999-2004. Waktu itu kebencian terhadap Golkar luar biasa terjadi, kantor-kantor di daerah dibakar hingga dikepung massa.

Di tengah ancaman nyawa itu, saya menyaksikan keteladanan sosok Bang Akbar yang tidak pernah takut dan terus berkeliling tanpa henti hingga pelosok kecamatan untuk menyemangati para kader. Dari militansi itu, Golkar yang sempat terancam dibubarkan justru bangkit menjadi pemenang kedua pada Pemilu 1999 lalu pemenang pertama pada Pemilu 2004.

Pengalaman itu kerap membuat saya tersenyum ketika ditanya mengapa tidak pernah terpikir berpaling ke partai lain. Jawaban saya sederhana, rasa memiliki dan tanggung jawab. Harapan terbesar saya ke depan adalah kembalinya marwah kaderisasi dan meritokrasi secara konsisten. Partai tidak boleh terjebak dalam pragmatisme instan yang menempatkan seseorang dalam kepengurusan hanya karena modal materi, hubungan keluarga atau pertemanan, politik balas budi, maupun nepotisme. Kepemimpinan harus tumbuh melalui proses, kapasitas, dan pengabdian.

Menteri Komunikasi dan Digital/Wakil Ketua Umum Partai Golkar Meutya Hafid

Saya bergabung dengan Partai Golkar pada akhir 2008, menjelang Pemilu 2009, setelah lebih kurang sepuluh tahun menjadi jurnalis. Ketika itu, yang mengajak saya adalah Ketua Umum Golkar Pak Jusuf Kalla. Beliau menyampaikan pentingnya memperkuat keterwakilan perempuan dan anak muda dalam politik maupun parlemen.

Saat itu, saya sempat ragu, tetapi saya meyakini Golkar merupakan rumah yang memberikan ruang bagi orang-orang dari berbagai latar belakang untuk tumbuh, berkembang, dan bersuara. Hal itu yang melandasi keputusan bergabung.

Saya kemudian maju sebagai calon anggota DPR di Pemilu 2009. Namun, suara yang diperoleh belum cukup. Saya baru masuk ke DPR setelah menggantikan almarhum Pak Burhanuddin Napitupulu, yang wafat ketika menjalankan tugas sebagai anggota DPR. Perjalanan saya di Golkar dan DPR berlangsung bertahap. Di partai, saya mulai dari Wakil Sekretaris Jenderal hingga sekarang menjadi Wakil Ketua Umum. Di DPR, saya mulai sebagai anggota hingga pernah menjabat Ketua Komisi I.

Setelah hampir dua dekade bersama Golkar, saya melihat partai ini sebagai organisasi yang memiliki pengalaman panjang dan kemampuan untuk terus beradaptasi. Saya berharap di bawah kepemimpinan Ketua Umum Pak Bahlil Lahadalia, Golkar semakin memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus mempersiapkan kader-kader terbaik menghadapi Pemilu 2029.

Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah regenerasi. Golkar memiliki banyak tokoh senior dengan pengalaman luar biasa, tetapi juga harus memberikan ruang yang lebih luas kepada perempuan dan anak muda. Saya mengalami sendiri kesempatan tersebut ketika pertama kali bergabung pada 2008. Saya berharap semakin banyak kader muda mendapatkan proses pembinaan yang baik, pengalaman organisasi, dan kesempatan memimpin.

Menteri Perindustrian/Sekjen Golkar Sarmuji

Saya bergabung ke Partai Golkar dari tangga paling bawah. Awalnya, secara hampir bersamaan, saya bergabung ke ormas AMPI dan organisasi sayap Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG). Di AMPI, saya menjadi anggota salah satu departemennya, sementara di AMPG saya menjadi pengurus Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang).

Ada cerita lucu waktu awal-awal itu. Sewaktu pelantikan AMPI, saya sempat bingung dan belum tahu di mana mencari seragam pelantikannya. Karena seragam AMPI itu berwarna biru, dan kebetulan seragam almamater kampus saya di Universitas Jember (Unej) juga berwarna biru, ya sudah akhirnya saya pakai saja seragam almamater kampus itu untuk pelantikan pengurus.

Hal serupa juga terjadi di AMPG. Kala itu, saya bergabung sambil menyelesaikan S-2. Menjelang Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) AMPG di Hotel Borobudur, saya sempat ingin membeli jaket khas AMPG seharga Rp 85.000. Namun, niat itu urung saya lakukan karena di kantong hanya tersisa uang Rp 200.000 yang harus saya simpan ketat sebagai uang transpor kuliah.

Dulu sewaktu masih menjadi aktivis, ada kawan yang pernah bertanya, ”Andaikan masuk partai, mau masuk partai apa?” Saya jawab dengan yakin, masuk Golkar. Kawan saya itu sempat sedikit kaget dengan jawaban saya. Bagi saya, hal yang paling menarik dari Golkar adalah pluralitasnya. Sangat beragam tetapi bisa dirangkai dalam ikatan yang kuat, bukan hanya mengandalkan kekentalan ideologis, melainkan orientasi nyata untuk menghadirkan manfaat.

Dari tangga terbawah itu, perlahan saya merangkak naik. Perjalanan saya lalui dengan menjadi Wasekjen AMPI, Sekjen AMPG, anggota departemen DPP, Wasekjen DPP, Pelaksana Tugas Ketua di Babel dan Jambi, Ketua DPD Jatim, hingga sekarang diamanahkan menjadi Sekjen DPP Partai Golkar. Di DPR pun prosesnya panjang, bermula dari koordinator tenaga ahli fraksi, menjadi anggota Dewan, Wakil Ketua Baleg, Wakil Ketua Komisi VI, hingga jabatan terakhir menjadi Ketua Fraksi Partai Golkar DPR.

Melihat perjalanan panjang ini, harapan saya ke depan adalah Golkar harus terus menjadi partai yang adaptif terhadap perubahan zaman. Golkar eksis hari ini karena selalu bisa relate dan relevan dengan keadaan. Bahkan, jika Golkar mampu membaca pola-pola perubahan ke depan, kita bukan hanya sekadar eksis, melainkan akan dapat memimpin perubahan itu sendiri.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional/Wakil Ketua Umum Partai Golkar Wihaji

Setiap mengingat Partai Golkar, memori masa kecil saya tertuju pada akronim ABG—ABRI, Birokrasi, dan Golongan Karya. Kedekatan itu tidak lepas dari lingkungan keluarga, terutama ayah saya yang bekerja sebagai PNS di sebuah madrasah tsanawiyah negeri di Plupuh, Sragen, Jawa Tengah. Persinggungan langsung saya dengan Golkar terjadi menjelang Pemilu 1997, ketika usia saya belum genap 17 tahun. Saat itu, saya ikut meramaikan kampanye Golkar.

Pengalaman tersebut berlanjut ketika saya aktif dalam organisasi mahasiswa di STAIN Salatiga (kini UIN Salatiga). Jiwa aktivis membawa saya merantau ke Jakarta untuk mengenal politik lebih dekat. Saya merintis karier dari nol sebagai tenaga ahli anggota DPR dari Fraksi Golkar.

Kehidupan di parlemen kemudian membuka jalan bagi saya untuk masuk ke kepengurusan partai pada era kepemimpinan Jusuf Kalla. Dengan latar belakang pendidikan di perguruan tinggi Islam, saya dipercaya mengurus Kelompok Kerja Keagamaan. Karier berlanjut melewati berbagai periode kepemimpinan, mulai dari era Aburizal Bakrie dan Setya Novanto hingga dipercaya menjadi Ketua Harian DPD Golkar Jawa Tengah pada masa Airlangga Hartarto.

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Saya pernah mengalami kekalahan saat maju sebagai calon anggota DPR pada Pemilu 2014. Kekecewaan tersebut membekas, tetapi nasihat para senior, terutama Akbar Tandjung, mengingatkan saya bahwa politik merupakan seni mencapai tujuan mulia dengan dinamika yang dapat berubah setiap saat. Keteguhan itu akhirnya berbuah ketika Golkar memberikan jalan dan dukungan hingga saya terpilih menjadi Bupati Batang periode 2017-2022.

Bagi saya, Golkar merupakan partai yang inklusif dan egaliter, tempat orang dari berbagai latar belakang, profesi, dan daerah memiliki kesempatan untuk berkiprah.

Ke depan, saya berharap Golkar terus bertransformasi sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan nyata masyarakat. Bagi generasi muda yang ingin meniti jalan politik, jangan takut melangkah dan jangan menyerah ketika menghadapi kekalahan.

Wakil Menteri Perdagangan/Wakil Bendahara Umum Partai Golkar Dyah Roro Esti Widya Putri

Pengalaman paling membekas dimulai tahun 2009-an ketika diajak Bapak saya, politisi senior Partai Golkar, Satya Widya Yudha, menyusuri pelosok desa, duduk bersama warga, dan mendengar keluh kesah mereka secara langsung di salah satu daerah di Jawa Timur. Kala itu, saya masih berusia remaja dan belum memahami rumitnya konstelasi politik. Namun, kehangatan dengan masyarakat itu diam-diam menancapkan kesadaran batin untuk terlibat menghadirkan perubahan sosial.

Setelah menyelesaikan kuliah di Imperial College London, Inggris, pada 2015, saya kembali ke Tanah Air dan bersama adik mendirikan Indonesian Energy and Environmental Institute. Melalui lembaga ini, kami bekerja sama dengan pemerintah untuk mendorong perubahan kebijakan di daerah. Dari pengalaman advokasi itu, saya menyadari bahwa untuk menghadirkan perubahan berskala nasional, kita perlu masuk ke dalam sistem.

Kesadaran tersebut mengantarkan saya bergabung dengan Golkar pada 2018. Setahun kemudian, saya terpilih menjadi anggota DPR dari Daerah Pemilihan Jawa Timur X. Sebagai perempuan dan politisi muda, saya menghadapi stereotipe serta keraguan publik. Saya memilih menjawabnya melalui kerja nyata di lapangan dan mendokumentasikan kinerja secara transparan di media sosial sebagai bentuk akuntabilitas kepada konstituen.

Di Golkar, saya bersyukur mendapat ruang untuk berkembang melalui mentoring dan kaderisasi lintas generasi, termasuk program Under 40 pada era Airlangga Hartarto dan Golkar Institute. Wadah tersebut menunjukkan bahwa partai yang telah matang dapat terus beradaptasi dan memberi kesempatan kepada generasi baru.

Meski demikian, perjalanan politik tidak selalu mudah. Pada Pemilu 2024, saya tidak memperoleh cukup suara untuk kembali ke Senayan. Pengabdian saya kemudian berpindah ke eksekutif setelah dipercaya Presiden Prabowo Subianto menjadi Wakil Menteri Perdagangan.

Bagi saya, Golkar tetap menjadi rumah untuk bertumbuh, belajar, dan mengabdi. Di rumah besar ini, pintu pengabdian tidak tertutup bagi mereka yang konsisten menjaga integritas dan niat baik. Saya berharap generasi muda terus memperoleh ruang untuk berkiprah dan membuktikan bahwa kerja nyata dapat menghadirkan perubahan bagi bangsa.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Real Madrid Hajar Sevilla 4-1, Pangkas Jarak dari Barcelona
• 3 jam lalu
0
thumb
Serahkan Diri ke Polsek, Pemuda di Brebes Mengaku Bunuh dan Mutilasi Ayah Kandung
• 2 jam lalu
0
thumb
Aturan 90 Detik yang Bisa Bikin Hidup Lebih Bahagia, Coba Terapkan untuk Menyambut Senin
• 12 jam lalu
0
thumb
345 Jamaah RI Gagal Haji Tahun Lalu, Menhaj: Persiapkan Diri dan Jaga Kesehatan
• 59 menit lalu
0
thumb
Jangan Sampai RUU Perampasan Aset Ciptakan Ketakutan di Kalangan Pelaku Usaha
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.