Aturan 90 Detik yang Bisa Bikin Hidup Lebih Bahagia, Coba Terapkan untuk Menyambut Senin

beautynesia.id
4 jam lalu
Cover Berita

Bagi sebagian orang, mudah untuk larut dan terjebak dalam emosi intens yang sedang mereka rasakan. Misalnya, ketika mereka sedang menghadapi masalah rumit yang membuat mereka stres. Amarah sudah di membuncah, kata menyerah sudah terasa di ujung lidah. 

Membiarkan emosi negatif menguasai diri terus-menerus adalah cara pintas untuk membuang ketenangan dan kebahagiaan dari dalam hidup. Amarah dan stres yang berlebih bisa merusak kualitas hidup.

Bila kamu sedang berada di posisi ini, kamu bisa coba "aturan 90 detik" yang membantu untuk mengatasi emosi negatif yang terjebak di dalam diri. Mantan Chief Business Officer di Google [X] dan penulis empat buku terlaris internasional, Mo Gawdat telah meneliti sains tentang kebahagiaan selama lebih dari 20 tahun dari perspektif logis dan filosofis, dengan menggunakan bagan alur serta rumus untuk menemukan akar penyebab ketidakbahagiaan.

Ia mempelajari sebuah kebiasaan yang dapat membantu kita menemukan sukacita dan kepuasan dalam waktu singkat. Dalam podcast "High Performance", Gawdat menyebut kebiasaan ini sebagai "aturan 90 detik". Ketika ada sesuatu yang memicu kemarahan atau kecemasan terjadi dalam hidup, berikan diri kita waktu selama 90 detik untuk merasakan kekesalan tersebut. Setelah itu, pilihlah untuk mengalihkan fokus ke hal-hal lain.

Kebiasaan ini didasarkan pada wawasan yang diperoleh Gawdat dari seorang ahli saraf lulusan Harvard, Jill Bolte Taylor. Taylor menemukan bahwa hanya dibutuhkan waktu 90 detik bagi hormon stres dan kemarahan, seperti kortisol dan adrenalin, untuk dikeluarkan dari dalam tubuh.

Jika kita masih marah setelah 90 detik, ini terjadi karena kita memutar ulang pikiran penyebab kekesalan itu di dalam kepala secara tidak sadar. Setiap kita memikirkannya lagi, tubuh kembali merilis hormon stres tersebut.

Nah, setelah 90 detik pertama berlalu dan efeknya mereda di dalam tubuh, muncul sebuah jeda. Di fase ini, reaksi fisik tubuh sudah lebih tenang, sehingga emosi tidak lagi memegang kendali penuh atas diri. Setelah itu, kita punya kekuatan untuk apakah ingin terus berputar pada emosi tersebut, atau menggunakan akal untuk fokus ke hal lain dan mencari solusi.

(naq/naq)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Eks Kadiv Hubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal, Kuasa Hukum Sebut karena Sakit
• 5 jam lalu
0
thumb
Operasi Sarang Narkoba, Uang Rp46 Juta dan Ganja Disita, Pria 42 Tahun Diciduk!
• 4 jam lalu
0
thumb
Gelar TFG, Polres Metro Bekasi Kota Siapkan Sispamkota Antisipasi Mobilisasi Pelajar ke Jakarta
• 5 jam lalu
0
thumb
Mengenal qEEG, Teknologi Pemetaan Aktivitas Otak yang Bisa Membantu Memahami Kesehatan Mental
• 2 jam lalu
0
thumb
Polisi Ungkap Pembukaan Lahan untuk Cetak Sawah Picu Kabut Asap di Merauke | SAPA MALAM
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.