Kebakaran Permukiman Padat Jakarta Terus Berulang, Kelistrikan Jadi Biang Kerok

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Kabel yang menua, sambungan listrik berlebih, hingga penggunaan stop kontak bercabang menjadi persoalan yang terus membayangi permukiman padat Jakarta.

Kondisi itu bukan sekadar kekhawatiran warga. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta mencatat, masalah kelistrikan mendominasi pemicu kebakaran di lima kelurahan dengan frekuensi kebakaran tertinggi selama periode 2021-2026.

Kelima kelurahan tersebut yakni Kapuk, Cengkareng Timur, Penjaringan, Pegadungan, dan Pulo Gebang.

Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Bayu Megantara mengatakan, sekitar 70-80 persen kebakaran di lima wilayah tersebut dipicu persoalan kelistrikan.

"Karakteristik pemicu utama kebakaran di Kelurahan Kapuk, Cengkareng Timur, Penjaringan, Pegadungan, dan Pulo Gebang cenderung sama (homogen), yaitu didominasi oleh masalah kelistrikan sekitar 70-80 persen dari total kasus)," kata Bayu saat dihubungi Kompas.com, Kamis (20/8/2026).

Baca juga: Lari Aja, Pakai Sandal atau Enggak, Enggak Tahu, Warga Panik Selamatkan Diri Saat Kebakaran Paseban

Menurut Bayu, persoalan kelistrikan yang ditemukan antara lain penggunaan kabel berukuran kecil yang tidak sesuai kapasitas, tumpukan stop kontak atau steker bercabang secara berlebihan, serta sambungan listrik tanpa miniature circuit breaker (MCB) standar.

Beban listrik berlebih atau overload juga menjadi faktor utama. Kondisi ini dapat terjadi ketika peralatan elektronik berdaya besar digunakan bersamaan pada jaringan hunian lama yang belum ditera ulang.

Dengan kata lain, risiko kebakaran tidak selalu bermula dari api terbuka. Di dalam rumah, jaringan listrik yang dibebani melampaui kapasitas juga dapat menjadi sumber bahaya.

Namun, meski persoalan kelistrikan menjadi faktor yang sama di lima wilayah tersebut, Bayu mengatakan karakter lingkungan membuat faktor risikonya berbeda.

Di Kapuk dan Penjaringan, misalnya, keberadaan kontrakan padat, hunian sewa murah, dan permukiman liar turut meningkatkan risiko.

Gulkarmat mencatat adanya praktik penyambungan listrik langsung tanpa MCB serta penggunaan bangunan kayu atau semi permanen yang dapat mempercepat akumulasi panas.

Sementara itu, Cengkareng Timur, Pegadungan, dan Pulo Gebang memiliki karakter kawasan campuran antara permukiman dan kegiatan ekonomi seperti industri rumahan atau gudang kecil.

Di wilayah tersebut, risiko tambahan dapat berasal dari kegiatan konveksi, debu kain yang mudah terbakar, industri rumahan plastik, bengkel las, hingga penyimpanan bahan kimia atau tiner tanpa sistem proteksi kebakaran.

Baca juga: Nasib 19 Anak Korban Kebakaran Paseban Jakpus, Kehilangan Seragam dan Alat Belajar

Gang sempit hambat pemadaman

Masalah tidak berhenti pada sumber api. Ketika kebakaran terjadi, kondisi fisik permukiman turut menentukan seberapa cepat petugas dapat menjangkau titik api.

Bayu mengatakan, sejumlah jalan lingkungan di kawasan padat memiliki lebar kurang dari 2-3 meter.

Akses tersebut juga kerap terhalang kendaraan yang parkir, tiang listrik atau telekomunikasi, portal permukiman, hingga lapak pedagang.

Bangunan yang berdiri sangat rapat atau zero lot line juga membuat api lebih cepat menjalar. Dominasi bangunan semi permanen dari kayu, tripleks, dan seng menambah beban material yang dapat terbakar.

Persoalan lain adalah ketersediaan air. Menurut Gulkarmat, infrastruktur air pemadam di sejumlah kawasan padat masih minim.

Hidran mandiri tidak selalu tersedia atau berfungsi, sedangkan sumber air terbuka seperti sungai dan waduk dapat terkendala kedangkalan maupun sampah.

Jaringan kabel utilitas udara yang berantakan juga dapat mengganggu manuver armada dan membahayakan petugas. Kondisi itu berdampak langsung pada waktu respons.

Baca juga: Kebakaran Paseban Jakpus di Gang Sempit: Lansia Digendong Keluar Rumah, Ada yang Nekat Lompat

Target ideal Gulkarmat adalah waktu tanggap maksimal 15 menit. Namun, di permukiman padat, armada utama sering kali tidak dapat mencapai titik api secara langsung dan harus berhenti sekitar 100-300 meter dari lokasi kebakaran.

Petugas kemudian membawa selang secara manual menyusuri gang. Penggelaran 10-20 unit selang dapat memakan waktu sekitar 5-10 menit pada fase awal pemadaman.

Keterlambatan beberapa menit tersebut menjadi penting karena api terus berkembang.

Bayu menjelaskan, keterlambatan penetrasi api sekitar lima menit meningkatkan risiko terjadinya flashover, yakni kondisi ketika material dalam ruangan dapat terbakar secara serentak.

“Selain itu, semakin panjang selang yang digunakan, semakin besar pula kehilangan tekanan air akibat gesekan sehingga pasokan air ke titik api dapat terhambat,” kata dia.

Bagi petugas, gang sempit bukan sekadar persoalan kendaraan yang sulit masuk.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Gulkarmat mencatat petugas menghadapi gang yang menyerupai labirin, jebakan asap, dan keterbatasan jalur keluar ketika berada di dalam permukiman.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gus Yaqut Yakin Hakim Objektif: Saya Berserah Diri kepada Allah
• 2 jam lalu
0
thumb
Selebritas Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Investasi | SAPA MALAM
• 3 jam lalu
0
thumb
‎Hitung-hitungan Timnas Indonesia U-20 Lolos ke Piala Asia U-20 2027, Garuda Punya 2 Jalur
• 7 jam lalu
0
thumb
Neraca Pembayaran Indonesia Defisit USD900 Juta di Triwulan II-2026, CAD Melebar
• 13 jam lalu
0
thumb
Hidup di Atas Patahan Gempa
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.