Hidup di Atas Patahan Gempa

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Gempa Flores 2026 kembali mengingatkan Indonesia pada kenyataan yang tak terhindarkan bahwa negeri ini hidup di atas jaringan sumber gempa yang sangat kompleks. Bencana ini menjadi pintu masuk untuk membaca kembali Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, yang memperlihatkan bahwa ancaman gempa ternyata jauh lebih luas daripada yang sebelumnya dipahami.

Dalam Peta Gempa 2017, Indonesia memiliki 273 sumber sesar aktif. Pada pemutakhiran 2024, jumlah itu meningkat menjadi 401 sumber, bertambah 128 sumber baru. Jika dibandingkan Peta Gempa 2010 yang baru memuat 52 sumber sesar, peningkatannya bahkan mencapai sekitar 450 persen.

Angka ini perlu dibaca dengan hati-hati. Bukan berarti dalam tujuh tahun Indonesia tiba-tiba memiliki ratusan sesar baru. Sebagian merupakan sumber yang sebelumnya belum teridentifikasi, belum terpetakan dengan baik, atau belum memiliki data cukup untuk dimasukkan ke dalam model bahaya. Yang bertambah terutama adalah pengetahuan kita tentang ancaman.

Baca JugaGempa Flores Belum Reda: Seberapa Besar Ancaman Berikutnya?

”Salah satu tambahan penting dalam Peta Gempa 2024 adalah pendetailan Flores Back-arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores,” kata ahli gempa dan Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano, Kamis (20/8/2026).

Irwan, yang terlibat dalam penyusunan Peta Gempa 2017 dan 2024, menjelaskan, pembaruan dilakukan dengan menggabungkan data geologi, seismologi, dan geodesi, termasuk GPS, pendetailan geometri sesar, segmentasi, laju pergerakan (slip rate), magnitudo maksimum, hingga model prediksi guncangan tanah.

Jawa tak menjadi lebih berbahaya karena peta 2024. Kita hanya jadi lebih sadar bahwa risikonya besar,

Peta terbaru juga memasukkan pelajaran dari gempa bumi skala besar setelah tahun 2017, seperti Lombok, Palu, Ambon, Mamuju, Cianjur, hingga Bawean.

Perubahan paling mencolok terjadi di Jawa. Jumlah sumber sesar aktif meningkat dari 36 menjadi 82. Sumatera bertambah dari 56 menjadi 86, Sulawesi dari 48 menjadi 77, Bali–Nusa Tenggara–Banda–Maluku dari 47 menjadi 68, dan Kalimantan dari tiga menjadi 10.

" Jawa tak menjadi lebih berbahaya karena peta 2024. Kita hanya jadi lebih sadar bahwa risikonya besar," kata Irwan. Risiko tak hanya ditentukan banyaknya sumber gempa, tapi juga kepadatan penduduk dan kerentanan bangunan. Gempa Bantul 2006 dan Cianjur 2022 menunjukkan gempa bermagnitudo sedang pun bisa berubah jadi bencana besar.

Baca Juga129 Sumber Gempa Baru Diidentifikasi di Indonesia
Sesar aktif kerak dangkal

Peta terbaru juga memperlihatkan ancaman gempa Indonesia tidak hanya berasal dari megathrust atau zona subduksi. Perubahan penting justru terjadi pada sesar aktif kerak dangkal, yang sumbernya dekat dengan permukiman dan dapat menghasilkan guncangan sangat kuat.

Flores memperlihatkan kompleksitas itu. Peta Gempa 2024 mencatat Flores Back-arc Thrust sebagai sistem sesar sepanjang sekitar 2.000 kilometer, membentang dari utara Flores hingga Timor dan tersambung ke Sesar Kendeng di Jawa. Data geodesi menunjukkan sistem ini masih aktif dan menyimpan potensi gempa serta tsunami.

Menurut Irwan, sejak pengamatan instrumental berkembang pada 1970-an, kawasan dari utara Bali hingga Timor telah mengalami sekitar 40 gempa merusak bermagnitudo di atas 6.

Dalam 50 tahun terakhir, Flores juga mengalami beberapa gempa yang disertai tsunami, seperti pada 1977, 1992, dan 1995. Bahkan gempa Laut Flores 2021 berasal dari sesar yang sebelumnya belum dikenali, yang kemudian dinamai Sesar Kalaotoa.

Namun Indonesia juga telah berkembang jauh dalam memantau ancaman tersebut. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan, pelajaran dari gempa dan tsunami Aceh 2004 serta tsunami Selat Sunda dan Palu 2018 mendorong penguatan sistem pemantauan dan peringatan dini.

Saat ini BMKG memiliki 553 seismograf yang tersebar di Indonesia dan sekitar 600 akselerograf untuk merekam guncangan tanah. Pemantauan tsunami juga diperkuat dengan sekitar 500 alat pengukur muka laut, termasuk yang dipasang BMKG dan Badan Informasi Geospasial (BIG).

Sistem tersebut dilengkapi dengan CCTV atau kamera pemantau maupun radar untuk memantau perubahan gelombang serta kondisi laut.

Faisal mengatakan sejumlah perangkat milik Bakamla yang dapat memantau kondisi laut hingga ratusan kilometer juga diintegrasikan dengan sistem BMKG.

Baca JugaNestapa Korban Gempa Flores: Sering Dilewati Truk Pengangkut Bantuan, tetapi Belum Dapat Bantuan

Data dari berbagai lembaga tersebut dibagikan dan diintegrasikan, termasuk dengan jaringan internasional seperti USGS. Dengan sistem yang semakin otomatis, informasi gempa dapat disampaikan ke berbagai kanal dalam sekitar dua menit setelah kejadian.

Kemampuan tersebut menunjukkan perubahan besar sejak 2004. Namun akurasi dan kecepatan informasi tidak serta-merta menghilangkan risiko.

Faisal menyebut masyarakat Flores kini banyak dihantui kekhawatiran akan gempa besar berikutnya. Berdasarkan analisis BMKG, setelah pelepasan energi besar dalam gempa ini, dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengakumulasi energi dalam jumlah serupa.

Pernyataan itu bukan berarti gempa besar dapat dipastikan tidak terjadi dalam waktu dekat. Gempa bumi tidak dapat diprediksi secara tepat kapan, di mana, dan berapa magnitudonya. Hal yang bisa dilakukan yakni memperkirakan sumber bahaya, memantau aktivitas, dan mengurangi kerentanan.

Di sinilah persoalan terbesar Indonesia berada. "Informasi tentang gempa bumi dan tsunami saja tidak cukup untuk mengurangi risiko bencana," ujar Faisal.

Peta Gempa 2024, jaringan sensor yang kian rapat, serta sistem peringatan dini yang makin cepat baru akan bermakna jika diterjemahkan jadi tindakan. Penataan ruang, standar bangunan, penguatan sekolah dan rumah sakit, jalur evakuasi, serta kesiapsiagaan masyarakat harus mengikuti pengetahuan tentang sumber bahaya.

Kita menghadapi sebuah paradoks: peta semakin detail, sensor semakin banyak, dan informasi semakin cepat, tetapi bangunan belum tentu semakin aman.

Karena itu, kota dan wilayah dengan kombinasi sumber gempa aktif, penduduk padat, dan bangunan rentan harus menjadi prioritas. Mitigasi tidak cukup berhenti pada pembangunan gedung baru yang tahan gempa, tetapi juga memperkuat bangunan lama dan memasukkan risiko gempa ke dalam setiap keputusan pembangunan.

Indonesia tidak sedang menemukan lebih banyak gempa. Kita sedang semakin mengenali sumber-sumber bahaya yang selama ini tersembunyi.

Dari 273 menjadi 401 sumber sesar dalam tujuh tahun. Dari 36 menjadi 82 sumber di Jawa. Setiap angka baru itu bukan sekadar tambahan di atas peta, melainkan peringatan bagi kota, pemerintah, pengembang, dan masyarakat yang hidup di atasnya.

Gempa Flores mengingatkan bahwa bumi tidak pernah berhenti bergerak. Peta kita kini jauh lebih baik dalam membaca gerak itu. Tantangannya adalah memastikan bahwa pengetahuan yang semakin lengkap benar-benar membuat kita lebih siap, bukan sekadar lebih cepat mengetahui ketika bencana telah terjadi.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pemkab Jeneponto Perkuat Sinergi Dengan Pemprov Sulsel, Dorong Kemandirian Ekonomi Perempuan
• 23 jam lalu
0
thumb
Update Korban Jiwa Gempa NTT, 72 Orang Meninggal Dunia
• 22 jam lalu
0
thumb
Apresiasi Pameran Foto 'Prahara Pulau Emas', Wali Kota Medan: Foto Jurnalistik Menggugah Empati dan Menciptakan Harapan
• 7 jam lalu
0
thumb
Buru Bos Narkoba Planet Batam ke Singapura, Bareskrim Polri Terbitkan DPO Yuwanky
• 10 jam lalu
0
thumb
Bukan Australia yang Jadi Ancaman Timnas Indonesia, Justru Malaysia Bisa Sulitkan Garuda Muda di Kualifikasi Piala Asia U-20 2027
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.