Di Balik Sebuah Nama Jalan, Ada Kisah Heroik Emmy Saelan

celebesmedia.id
5 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di tengah hiruk-pikuk Kota Makassar, nama Emmy Saelan sudah begitu akrab di telinga warga. Namanya digunakan sebagai nama jalan, lorong, hingga monumen.

Namun, di balik nama yang kini menjadi bagian dari penunjuk arah kota itu, tersimpan kisah seorang perempuan muda yang memilih meninggalkan profesinya sebagai perawat untuk ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Jalan Emmy Saelan menjadi salah satu ruas jalan yang tercatat dalam administrasi Kota Makassar. Pemerintah Kota Makassar juga mencatat sejumlah kawasan dan lorong yang menggunakan nama Emmy Saelan, termasuk Jalan Monumen Emmy Saelan di Kecamatan Rappocini.

Nama tersebut merujuk pada Emmy Saelan, perempuan asal Sulawesi Selatan yang terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Makassar setelah Proklamasi 1945.

Emmy Saelan mengawali kiprahnya sebagai tenaga kesehatan. Setelah masa pendudukan Jepang berakhir dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, ia bekerja sebagai juru rawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar.

Posisinya sebagai perawat kemudian mempertemukannya dengan para pejuang yang terluka dalam berbagai bentrokan dengan pasukan KNIL/NICA.

Penelitian yang tersimpan dalam pangkalan data Garuda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat Emmy tidak hanya merawat para pejuang, tetapi juga membantu menyediakan obat-obatan dan meloloskan pejuang yang sedang dirawat atau ditahan.

Perannya perlahan berubah. Dari balik ruang perawatan, Emmy mulai terlibat lebih jauh dalam perjuangan. Ia kemudian meninggalkan profesinya sebagai juru rawat dan bergabung dengan organisasi kelaskaran.

Perempuan yang dikenal dengan nama panggilan Daeng Kebo itu bahkan menjalankan misi yang lebih berisiko. Ia dipercaya melakukan penyusupan ke Makassar untuk mengumpulkan informasi mengenai kekuatan KNIL/NICA

Perjuangan Emmy Saelan berakhir di Kassi-Kassi, Makassar.

Pada Januari 1947, Emmy bersama kelompok pejuang terlibat kontak senjata dengan pasukan KNIL/NICA. Posisi mereka kemudian terdesak dan sebagian anggota kelompok ditangkap.

Dalam situasi tersebut, Emmy memilih tidak menyerah. Ia menggunakan granat untuk melawan pasukan yang mengepungnya. Peristiwa itu menyebabkan Emmy Saelan gugur bersama sejumlah anggota pasukan KNIL/NICA pada 21 Januari 1947.

Kajian yang diterbitkan melalui Kemendikbud mencatat Emmy gugur pada usia 27 tahun setelah meledakkan granat di tengah kepungan pasukan NICA.

Kematian di usia muda itu kemudian menjadi bagian penting dari ingatan sejarah perjuangan kemerdekaan di Sulawesi Selatan.

Puluhan tahun setelah perjuangannya berakhir, nama Emmy Saelan tetap hidup dalam ruang publik Makassar.

Pemkot Makassar tidak hanya menggunakan namanya sebagai ruas jalan. Di kawasan Jalan Letjen Hertasning, Kecamatan Rappocini, berdiri Monumen Maha Putra Emmy Saelan yang dibangun untuk mengenang perjuangannya melawan penjajahan Belanda.

Pemkot Makassar menyebut monumen tersebut sebagai salah satu pengingat perjuangan Emmy Saelan sebagai pahlawan perempuan asal Sulawesi Selatan.

Keberadaan monumen itu juga menunjukkan bagaimana nama Emmy Saelan dipertahankan sebagai bagian dari ruang sejarah kota.

Pemkot Makassar sebelumnya pernah melakukan kegiatan pemeliharaan di kawasan monumen menjelang peringatan Hari Pahlawan dan menyebutnya sebagai monumen bersejarah.

Kini, warga mungkin melewati Jalan Emmy Saelan tanpa selalu mengetahui cerita di balik namanya. Kendaraan terus bergerak, aktivitas perdagangan berlangsung, dan kehidupan kota berjalan seperti biasa.

Namun, sebuah nama jalan kadang menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada panjang ruas jalannya.

Emmy Saelan mengingatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan di medan pertempuran oleh laki-laki bersenjata.

Seorang perempuan muda dengan latar belakang perawat juga memilih mengambil risiko, merawat pejuang, membantu jaringan perjuangan, hingga akhirnya berdiri di garis depan.

Namanya kemudian tidak hilang bersama pertempuran itu.

Ia tinggal di dalam peta Kota Makassar—terpampang pada nama jalan, lorong, dan monumen—sebagai pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini pernah dipertahankan dengan pengorbanan yang tidak kecil.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Harta Kekayaan Akhmad Sodiq Rektor Unsoed Kena OTT KPK, Total Rp3,12 Miliar
• 10 jam lalu
0
thumb
Catatan Atas Rencana Pengaturan Distribusi Pertalite
• 3 jam lalu
0
thumb
Peralihan Status Guru PPPK Dinilai Akan Ringankan Beban Fiskal Daerah
• 11 jam lalu
0
thumb
Kembang Goeyang, Restoran Indonesia Peranakan dengan Nuansa Colorful & Modern
• 5 jam lalu
0
thumb
5 WNA Inggis Sekeluarga Terseret Arus di Pantai Lombok Barat, 1 Orang Tewas
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.