Sejak Kapan Kita Mengerti Kata “Tertemper”?

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Hari ini kita mungkin membaca beberapa berita tentang kereta api. Di antara kabar keterlambatan perjalanan, kecelakaan di sekitar jalur rel, dan imbauan keselamatan, ada satu kata yang cukup menarik untuk diperhatikan: tertemper. Ada orang yang tertemper KRL, kendaraan yang tertemper kereta, dan perjalanan Commuter Line yang terganggu akibat temperan. Kata itu ditulis begitu saja. Tidak selalu disertai penjelasan, seolah-olah kita sebagai pembaca memang sudah tahu artinya.

Dan mungkin memang begitu. Ketika membaca “seorang pengendara tertemper kereta api”, kita langsung memahami bahwa telah terjadi benturan atau tabrakan. Namun, jika berhenti sebentar dan memikirkannya, muncul pertanyaan sederhana: sejak kapan kita mengerti kata “tertemper”? Barangkali kita tidak ingat pernah mempelajarinya di sekolah. Dalam percakapan sehari-hari pun rasanya kata itu jarang digunakan. Dua sepeda motor yang bertabrakan tidak biasa kita sebut saling menemper. Mobil yang menabrak pagar juga hampir tidak pernah kita sebut menemper pagar.

Namun, begitu kata tertemper bertemu dengan kata kereta api, keasingannya seperti menghilang dan seolah sudah biasa dengan kosakata ini.

Salah satu jejak menarik dapat kita temukan pada 9 September 2016. Ketika itu, akun KAI Commuter di Twitter—sekarang X—mendapat pertanyaan mengenai arti tertemper. Jawabannya sangat singkat: “tertemper adalah tertabrak.” Jejak percakapan tersebut kemudian dirujuk kembali oleh Detik ketika membahas arti tertemper pada 2024. Detik juga mencatat bahwa temper, tertemper, dan menemper ketika ditelusuri ternyata belum ditemukan sebagai lema dalam KBBI Daring.

Fakta bahwa KAI Commuter pernah merasa perlu menjelaskan kata tersebut sebenarnya menarik. Setidaknya ada pembaca pada 2016 yang menjumpai tertemper dan bertanya apa artinya. KAI kemudian menjawabnya menggunakan kata yang jauh lebih umum dan mudah dikenali: tertabrak.

Sepanjang 2026, tertemper muncul berulang kali dalam pemberitaan kereta api. Bahkan KAI menggunakan bentuk lain dari kata yang sama, yaitu temperan, sebagai kategori kejadian. Pada Januari hingga April 2026, misalnya, KAI mencatat 293 kejadian temperan. Dalam keterangannya, temperan dijelaskan sebagai benturan antara kereta api dengan manusia, kendaraan, hewan, ataupun benda lainnya.

Artinya, temper bukan sekadar istilah yang kebetulan dipilih oleh beberapa wartawan.

Dalam komunikasi perkeretaapian kita menemukan satu keluarga kata yang cukup produktif. Ada kendaraan yang menemper kereta, ada orang atau kendaraan yang tertemper, dan peristiwanya disebut temperan. Sebuah kata yang pada 2016 masih perlu dijelaskan kepada publik, sepuluh tahun kemudian digunakan dalam berita dan komunikasi perkeretaapian dengan asumsi bahwa pembaca telah memahami maksudnya.

Kita seperti sedang menyaksikan bagaimana sebuah jargon keluar dari lingkungan profesinya. Institusi menggunakannya, media mengutipnya, masyarakat membacanya berkali-kali, lalu pada suatu titik kita berhenti bertanya apa artinya.

Namun, ketika kata temper ditelusuri lebih jauh, muncul sesuatu yang membuat ceritanya semakin menarik.

Jangan-jangan Kita Mengenalnya dari Bahasa Jawa?

Bagi sebagian orang, terutama yang pernah hidup di lingkungan penutur bahasa Jawa, temper mungkin terdengar agak familiar. Seperti ada kata yang pernah kita dengar sebelumnya, meskipun kita mungkin sulit mengingat kapan dan dalam konteks apa. Ternyata perasaan familiar tersebut mempunyai dasar yang menarik.

Dalam Kamus Bahasa Jawa–Indonesia (KBJI) yang tersedia melalui Kemendikdasmen terdapat bentuk ketèmper. Salah satu makna yang dicatat untuk kata tersebut adalah “tertabrak”.

Temuan kecil ini segera mengubah pertanyaannya.

KAI Commuter pernah menjelaskan:

tertemper = tertabrak.

Sementara dalam kamus bahasa Jawa kita menemukan:

ketèmper = tertabrak.

Bukan hanya bunyinya yang berdekatan. Maknanya bertemu pada kata yang sama: tertabrak.

Hal ini mungkin membantu menjelaskan mengapa tertemper tidak terasa sepenuhnya asing bagi sebagian pembaca yang akrab dengan bahasa Jawa. Bisa jadi kita tidak pernah menggunakan tertemper dalam percakapan bahasa Indonesia, tetapi telinga kita telah mengenali bentuk yang dekat dengannya.

Namun, apakah itu berarti tertemper dalam dunia perkeretaapian berasal dari bahasa Jawa?

Jawabannya belum tentu.

Jika kita bergerak lebih jauh ke belakang, bentuk temper ternyata bukan sesuatu yang baru dalam leksikon Jawa. Bausastra Jawa karya W.J.S. Poerwadarminta yang terbit pada 1939 sudah mencatat bentuk tèmpêr/ketèmpêr. Akan tetapi, makna yang tercatat di sana bukan “tertabrak”, melainkan berkaitan dengan klêngêr atau sumaput—kurang lebih pingsan—serta kalah.

Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa bentuk tèmpêr/ketèmpêr telah terdokumentasi dalam bahasa Jawa jauh sebelum media sosial dan jauh sebelum KAI Commuter menjelaskan arti tertemper pada 2016. Tetapi pada saat yang sama, catatan tahun 1939 itu belum cukup untuk membuktikan bahwa istilah perkeretaapian tertemper berasal dari bahasa Jawa.

Pada 1939, tèmpêr/ketèmpêr sudah tercatat dalam bahasa Jawa, tetapi dengan makna pingsan atau kalah. Dalam Kamus Bahasa Jawa–Indonesia modern, ketèmper memiliki salah satu arti “tertabrak”. Sementara dalam dunia perkeretaapian kita mengenal menemper, tertemper, dan temperan dengan makna yang berkaitan dengan benturan.

Tetapi, sejarah bahasa tidak dapat dibangun hanya berdasarkan kemiripan bunyi dan makna. Kita masih membutuhkan bukti mengenai kapan ketèmper mulai digunakan dengan arti “tertabrak”, kapan temper mulai digunakan oleh pekerja kereta api, dan bagaimana hubungan antara keduanya terbentuk.

Bisa jadi kosakata Jawa masuk ke lingkungan perkeretaapian. Bisa jadi perkembangan maknanya berlangsung melalui jalur lain. Bisa pula penggunaan dalam dunia kereta api kemudian ikut memperkuat penggunaan ketèmper dalam bahasa Jawa modern.

Untuk sementara, jawaban yang paling aman adalah: kita belum tahu.

Dari “Ketèmper” Menjadi “Tertemper”?

Meski asal-usulnya belum dapat dipastikan, kemungkinan proses pembentukan katanya menarik untuk diperhatikan. Jika temper memang pernah berpindah dari kosakata Jawa ke lingkungan berbahasa Indonesia, kata tersebut tampaknya kemudian diperlakukan seperti sebuah kata dasar bahasa Indonesia.

Dari temper, kita memperoleh menemper. Dari kata yang sama muncul tertemper dan temperan. Polanya terasa wajar karena bahasa Indonesia melakukan hal serupa terhadap banyak kata: tabrak menjadi menabrak dan tertabrak, sedangkan senggol menjadi menyenggol dan tersenggol.

Dengan demikian, jika memang terdapat hubungan dengan bahasa Jawa, prosesnya mungkin bukan sekadar memindahkan ketèmper bulat-bulat ke bahasa Indonesia. Bisa jadi unsur temper yang berpindah, kemudian menyesuaikan diri dengan pola pembentukan kata bahasa Indonesia.

Fenomena seperti ini sebenarnya tidak aneh. Bahasa Indonesia tumbuh melalui perjumpaan panjang dengan berbagai bahasa daerah. Batas di antara keduanya dalam kehidupan sehari-hari juga tidak selalu setegas batas yang kita lihat dalam kamus. Kata dapat berpindah, bunyinya menyesuaikan diri, maknanya bergeser, lalu generasi berikutnya menggunakannya tanpa lagi mengetahui dari mana asalnya.

Karena itu, cerita tertemper sebenarnya membawa kita pada persoalan yang lebih luas daripada sekadar istilah kereta api. Ia menunjukkan bahwa sebuah kata dapat hidup sekaligus di persimpangan bahasa daerah, bahasa profesi, bahasa media, dan bahasa Indonesia.

Dari Jargon Menjadi Bahasa yang Kita Pahami

Media mempunyai peranan besar dalam perjalanan seperti ini. Bayangkan berapa kali kita membaca tertemper dalam berita selama bertahun-tahun. Pada kemunculan pertama mungkin terasa asing. Setelah beberapa kali melihatnya dalam konteks yang sama, kita mulai menebak artinya. Pada akhirnya, kita tidak lagi menerjemahkannya.

Konteks telah mengajarkannya kepada kita. Tidak ada guru yang mengatakan, “Hari ini kita akan belajar arti kata tertemper.” Kita juga tidak selalu membuka kamus. Kita belajar dari kalimat seperti “pengendara tertemper kereta”, “mobil menemper KA”, dan “perjalanan terganggu akibat temperan”. Setelah membaca konstruksi semacam itu berkali-kali, hubungan antara kata dan maknanya terbentuk dengan sendirinya.

Barangkali itulah yang terjadi dalam satu dekade terakhir. Pada 2016, masih ada orang yang bertanya kepada KAI Commuter mengenai arti tertemper. Pada 2026, kata yang sama dapat muncul dalam judul berita dan banyak pembaca langsung memahami maksudnya.

Bahasa ternyata tidak selalu bergerak dari kamus menuju masyarakat. Sering kali arahnya justru sebaliknya.

Sebuah komunitas menggunakan kata. Institusi mempertahankannya. Media menyebarkannya. Masyarakat membacanya. Jika penggunaan tersebut bertahan dan meluas, suatu hari kamus mungkin datang belakangan untuk mencatatnya.

Tetapi Mengapa Tidak “Tabrak”?

Ada satu pertanyaan lain yang layak diajukan. Jika tertemper pada akhirnya begitu dekat dengan tertabrak, mengapa dunia perkeretaapian tidak menggunakan kata tabrak saja?

Bandingkan:

“Kereta menabrak mobil.”

dengan:

“Mobil menemper kereta.”

Secara fisik, kedua kalimat dapat menggambarkan benturan antara objek yang sama. Tetapi secara bahasa, perhatian kita diarahkan ke tempat yang berbeda. Kalimat pertama menjadikan kereta sebagai subjek yang melakukan tindakan. Kalimat kedua menempatkan mobil sebagai pihak yang melakukan tindakan terhadap kereta.

Perbedaan itu cukup penting dalam konteks perkeretaapian. Kereta bergerak pada jalur tetap. Ia tidak dapat berbelok ketika ada kendaraan atau orang di depannya dan membutuhkan jarak yang tidak pendek untuk berhenti. Karena itu, dunia perkeretaapian mungkin mempunyai kebutuhan terminologis tersendiri ketika menggambarkan benturan yang terjadi di jalur kereta.

Namun, kita juga tidak perlu terburu-buru menganggap penggunaan temper sebagai cara untuk mengalihkan tanggung jawab. Penyebab sebuah kecelakaan tetap harus ditentukan berdasarkan kronologi, aturan keselamatan, bukti, dan hasil penyelidikan.

Yang menarik di sini adalah bagaimana pilihan kata dapat memengaruhi sudut pandang terhadap sebuah peristiwa. “Kereta menabrak kendaraan”, “kendaraan menemper kereta”, dan “terjadi temperan” mungkin berbicara tentang benturan yang sama, tetapi ketiganya tidak sepenuhnya menghasilkan gambaran yang sama di kepala pembaca.

Bahasa bukan hanya mengatakan apa yang terjadi. Bahasa juga dapat menentukan dari sudut mana kita melihat apa yang terjadi.

Sejak kapan kita tidak lagi merasa bahwa kata itu asing?

Barangkali begitulah sebuah kata menemukan tempatnya dalam bahasa. Ia tidak selalu datang melalui pelajaran di sekolah atau definisi dalam kamus. Kadang-kadang ia datang dari bahasa yang hidup di sekitar kita, menetap dalam sebuah profesi, menyebar melalui media, lalu perlahan-lahan menjadi bagian dari ingatan bersama.

Sampai suatu hari kita membacanya dan langsung mengerti—tanpa lagi ingat siapa yang pertama kali mengajarkannya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Biaya Marketplace Naik? Ini Strategi Menjaga Margin Bisnis
• 15 jam lalu
0
thumb
BI Dorong 1 Bank Himbara Jadi Bank Kliring Renminbi
• 17 jam lalu
0
thumb
Perlinsos Digital Pangkas Proses Daftar Dari 200 Hari Jadi 5 Menit
• 13 jam lalu
0
thumb
Kasus Kematian Sutrimo, Eks Hakim PT Jakarta: Hipotesis Saya Terjadi Pembunuhan Berencana!
• 13 jam lalu
0
thumb
Kejuaraan Dunia BWF 2026: Thalita tak Sanggup Jegal Unggulan Pertama
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.