REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — J-10C China datang ke Thailand dengan reputasi yang berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Jet tempur bermesin tunggal itu kini bukan lagi sekadar produk industri pertahanan Beijing yang kekuatannya diperdebatkan di atas kertas, melainkan pesawat yang telah melewati ujian tempur dan membuat komunitas penerbangan militer dunia memperhatikannya.
Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLA Air Force mengerahkan J-10C dalam latihan bersama Falcon Strike 2026 dengan Angkatan Udara Kerajaan Thailand. Di langit Thailand, pesawat China itu bertemu salah satu jet tempur Barat yang mempunyai reputasi kuat dalam peperangan berbasis jaringan: Saab JAS 39 Gripen.
Baca Juga
Rayakan Kemerdekaan, Pertamina Patra Niaga Undi 25 Motor untuk Ojol Lewat BOOM Periode 2
Tasyakuran HUT ke-81 RI, Benyamin Ajak Masyarakat Tangsel Perkuat Kebersamaan
Kisah Anak Kecil, Penyihir, dan Rahib Sekaligus 30 Hikmah Penting yang Patut Direnungkan
Latihan tersebut bukan duel perang sesungguhnya dan tidak ada skor resmi yang dapat digunakan untuk menyatakan J-10C atau Gripen sebagai pemenang. Namun, kehadiran kedua jet dalam satu latihan memberi kesempatan langka bagi pilot China dan Thailand untuk menguji taktik, interoperabilitas, pertahanan udara, pembagian sasaran, dan koordinasi dalam lingkungan operasi yang melibatkan dua tradisi teknologi berbeda.
Falcon Strike 2026 juga menunjukkan bahwa China datang tidak hanya membawa pesawat tempur. Kontingennya mencakup J-10C, J-10S, pesawat angkut strategis Y-20, pesawat peringatan dini, tanker pengisian bahan bakar udara, hingga unsur pertahanan udara berbasis darat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Komposisi tersebut penting karena perang udara modern tidak lagi dimenangkan hanya oleh jet yang paling cepat atau paling lincah. Kemenangan semakin ditentukan oleh siapa yang lebih dahulu melihat lawan, menyebarkan informasi kepada seluruh unsur tempur, memperoleh posisi menembak, lalu mengirim senjata sebelum dirinya terdeteksi. Itulah pelajaran yang membuat reputasi J-10C berubah drastis sejak Mei 2025.
J-10C Tak Lagi Hanya Menjual Spesifikasi
J-10C merupakan varian modern keluarga Chengdu J-10, jet tempur bermesin tunggal dengan konfigurasi sayap delta dan canard. Pesawat ini dikembangkan menjadi salah satu tulang punggung tempur PLA Air Force dan dilengkapi avionik modern serta kemampuan membawa rudal udara-ke-udara jarak jauh keluarga PL-15. Tetapi spesifikasi di brosur bukan alasan utama mengapa J-10C sekarang diperhatikan.
Pada 7 Mei 2025, pesawat J-10 yang dioperasikan Angkatan Udara Pakistan terlibat dalam pertempuran udara besar melawan India. Reuters, mengutip pejabat AS, melaporkan pesawat China tersebut menembak jatuh setidaknya satu Rafale milik India.
Pakistan mengklaim jumlah pesawat India yang ditembak jatuh jauh lebih banyak, termasuk beberapa Rafale. Namun, seluruh klaim tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai fakta terverifikasi, dan India tidak memberikan rincian penuh mengenai semua kerugiannya.
Yang jauh lebih penting dari perdebatan jumlah kemenangan adalah bagaimana J-10 digunakan. Investigasi Reuters kemudian menunjukkan bahwa duel tersebut bukan cerita sederhana tentang “J-10 mengalahkan Rafale”. Pakistan menghubungkan pesawat tempurnya dengan sensor udara dan darat melalui jaringan data sehingga pilot memperoleh gambaran medan pertempuran yang lebih luas.
J-10 bahkan dapat memperoleh informasi radar dari pesawat pengawasan yang berada lebih jauh di belakang. Menurut pejabat Pakistan yang diwawancarai Reuters, sistem itu memungkinkan pesawat tempur yang berada lebih dekat ke India mengurangi ketergantungan terhadap radar mereka sendiri. Di ujung rantai tersebut terdapat PL-15.
Komentar (0)