Menteri Kebudayaan Fadli Zon meluruskan sejarah mengenai rekaman suara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan yang selama ini kerap diperdengarkan setiap peringatan 17 Agustus.
Ia bercerita suara yang dikenal masyarakat bukanlah rekaman saat Presiden pertama Sukarno membacakan Proklamasi pada 17 Agustus 1945, melainkan direkam ulang beberapa tahun setelahnya.
Fadli menyampaikan hal tersebut saat menghadiri kegiatan Tapak Tilas Proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta, Minggu (16/8). Dalam sambutannya, ia kembali menceritakan rangkaian peristiwa mulai dari Rengasdengklok hingga pembacaan Proklamasi di Pegangsaan Timur.
“Kalau kita juga boleh jujur, suara pidato Bung Karno ketika itu, proklamasi juga direkam lima tahun kemudian,” kata Fadli.
“Sehingga itu juga bukan rekaman pada hari H,” sambungnya.
Fadli menambahkan, pada saat pembacaan Proklamasi, terdapat rombongan yang datang terlambat sehingga tidak mendengar langsung pembacaan tersebut. Mereka kemudian meminta Soekarno mengulangi pembacaan teks Proklamasi.
Hal yang sama berlaku kepada rakyat yang tidak mendapatkan kesempatan mendengarkan suara Bung Karno ketika momen krusial tersebut.
“Dan ada delegasi rombongan yang datang terlambat, kalau tidak salah termasuk Barisan Pelopor,” ujarnya.
“Mereka meminta Bung Karno untuk membaca ulang, karena mereka tidak mendengar rasanya proklamasi itu. Tetapi kata Bung Hatta, proklamasi hanya diucapkan sekali saja,” kata Fadli.
Audio Proklamasi Direkam Ulang Tahun 1951Rekaman yang selama ini dikenal sebagai suara Soekarno membacakan Proklamasi memang bukan dokumentasi audio dari upacara pada 17 Agustus 1945.
RRI mencatat, tidak ada rekaman suara asli saat Soekarno membacakan Proklamasi di Pegangsaan Timur 56.
Beberapa tahun kemudian, pada 1951, pendiri RRI Jusuf Ronodipuro meminta Soekarno membacakan kembali teks Proklamasi di studio RRI Jakarta. Rekaman tersebut kemudian menjadi rekaman suara yang dikenal dan diperdengarkan hingga sekarang.






Komentar (0)