Piket Membawa Air ke Sekolah Saat Kemarau

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Adena (9) berjalan perlahan saat memasuki gerbang sekolah agar air yang dibawanya dengan menggunakan ember tidak tumpah. Pagi itu, murid kelas III di SD Negeri 1 Burikan, Cawas, Klaten, Jawa Tengah, tersebut kembali mendapat giliran membawa air dari rumah untuk digunakan di sekolah, Kamis (13/8/2026).

Mengambil air dari rumah.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Berjalan menuju sekolah.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Menggunakan ember untuk membawa air.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Rutinitas membawa air ke sekolah sudah ia jalani bersama teman-temannya selama beberapa tahun terakhir setiap kemarau berlangsung. Kekeringan akibat kemarau membuat sekolah itu tidak memiliki air setetes pun untuk digunakan selama kegiatan sekolah berlangsung.

”Saya membawa air dari rumah karena air di sekolah habis. Air itu dipakai untuk cuci tangan sama buang air kecil,” tutur Adena. Dalam seminggu, anak perempuan itu dan teman sekelasnya mendapat tiga kali giliran membawa air ke sekolah.

Hal serupa dilakukan oleh guru di sekolah itu. Siti Fatimah (34), guru pendidikan agama Islam, juga membawa botol plastik yang diisi air dari rumahnya agar dapat digunakan selama mengajar di sekolah.  

”Kemarau yang panjang membuat di sekolah kami tidak ada air. Kami berharap sama anak-anak. Mereka kami jadwalkan membawa air bersih dari rumah masing-masing dengan membawa ember atau botol air mineral,” ujar Fatimah. Air yang dibawa oleh murid kemudian biasanya dimasukkan ke bak air di kamar mandi sekolah agar dapat digunakan bersama-sama.

Rutinitas membawa air ke sekolah sudah berlangsung sejak sebelum ia bekerja di sekolah itu pada 2017. Saat musim hujan, mereka tidak mengalami kesulitan air bersih.

Ketika air yang dibawa oleh murid habis, maka siswa yang membutuhkan air saat menggunakan toilet terpaksa dititipkan ke rumah warga yang ada di sekitar sekolah. Jika alternatif tersebut tidak memungkinkan, murid yang membutuhkan air diminta untuk pulang ke rumah masing-masing.

Kesulitan memperoleh air juga menyebabkan sekolah itu sementara meniadakan kegiatan shalat Duha yang biasanya mereka laksanakan secara berjemaah. ”Saat ini untuk shalat Duha pun kami tidak mengadakan karena tidak ada air untuk wudu. Kalaupun kami jalan ke masjid di luar sekolah, di sana pun juga tidak ada air,” tutur Fatimah.

SD Negeri 1 Burikan saat ini menjadi tempat menimba ilmu bagi 85 siswa. Sebuah tandon air berwarna biru yang merupakan bagian dari sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimnas) didirikan di samping sekolah, tetapi tidak ada air yang tersedia di dalamnya.

Sejumlah tempat cuci tangan di depan ruang kelas sekolah itu tampak penuh kerak dan sebagian kerannya macet hingga susah diputar. Beberapa tanaman yang diletakkan di selasar sekolah pun tampak layu karena tidak tersedia air untuk menyiraminya.

Desa Burikan berjarak sekitar 22 kilometer dari Alun-alun Klaten. Lokasinya berada di kaki bukit yang merupakan area perbatasan antara Kabupaten Klaten dan Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta.

Kekeringan sudah menjadi fenomena tahunan di desa itu. Namun, sekitar tiga tahun terakhir, kekeringan di desa itu termasuk yang paling parah.

Sejak gempa 2006, debit air pada sejumlah sumur yang menjadi andalan warga Burikan terus menyusut. ”Kami sudah mencoba membuat sumur di lima titik, tetapi debit airnya tidak sesuai ekspektasi,” ujar Arifin (48), salah satu warga yang dipercaya untuk mengelola distribusi air di desa itu.

Mereka kemudian terpaksa mengalihkan aliran air dari sumur yang dibuat di areal sawah menuju tempat penampungan di tengah desa agar sekelumit air yang tersedia masih dapat digunakan untuk keperluan warga. Hal itu membuat mayoritas petak sawah di desa tersebut dibiarkan mengering selama kemarau demi memberikan kesempatan kepada warga untuk bertahan hidup.

Masyarakat desa itu kemudian menggandeng Yayasan Tanah Air Lestari untuk mengeksplorasi potensi mata air baru di bawah tanah tempat warga berpijak. ”Terdapat dua titik di Desa Burikan yang berpotensi untuk digali. Kami akan mengupayakan pengeboran sumur dengan kedalaman berkisar 70-100 meter,” ujar Revangga Twin Theodora dari tim Tanah Air Lestari.

Yayasan itu akan bekerja sama seorang spesialis air tanah dan karst dari Universitas Gadjah Mada. Teknologi geosonar pun digunakan untuk memaksimalkan akurasi titik pengeboran.

Biaya pembuatan sumur tersebut sekitar Rp 70 juta dan akan diupayakan melalui penggalangan dana dari masyarakat. Upaya tersebut ditargetkan akan mengatasi problem kesulitan air di desa itu.

Air merupakan kebutuhan fundamental bagi setiap insan. Warga Desa Burikan pun berharap air tersedia sepanjang tahun sehingga ungkapan ”Gemah Ripah Loh Jinawi” tidak sekadar menjadi utopia bagi mereka.

 

Baca JugaCerita Warga Kala Sungai Cipamingkis Makin Surut
Baca JugaAir Hujan Hilang, Warga Pun Berharap dari Air Bantuan
Baca JugaKami Sudah Lelah Kesulitan Air, Pak!
Baca JugaMenyedot Selang untuk Mengalirkan Air


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rapat Bareng Kepala BGN, Mendagri Minta Daerah Permudah Izin Usaha SPPG dan Penerbitan SLHS
• 18 jam lalu
0
thumb
BMKG: 9 Kota Berpotensi Hujan Hari Ini Jumat 14 Agustus, Waspada di Sumatera dan Papua
• 4 jam lalu
0
thumb
35 Pohon di Bandung Ditebang Tanpa Izin, Farhan Pastikan Usut Tuntas.
• 13 jam lalu
0
thumb
Mantan PM China Zhu Rongji Meninggal Dunia di Usia 97 Tahun, Tinggalkan Jejak Besar Reformasi Ekonomi
• 21 jam lalu
0
thumb
Komisi III DPR Pastikan Tak Loloskan Calon Hakim yang Dinilai Tak Layak
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.