Laporan ILO: Pasar Kerja Global Makin Anjlok, 67 Juta Anak Muda Menganggur

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Pasar kerja global menghadapi tekanan yang semakin besar, terutama bagi generasi muda. Hal ini tecermin dalam laporan International Labour Organization (ILO) yang mencatat 67 juta pemuda di dunia saat ini tidak memiliki pekerjaan. 

Laporan ILO menunjukkan tingkat pengangguran pemuda global mencapai 12,4% pada 2025, setara dengan sekitar 67 juta orang berusia 15-24 tahun yang tidak memiliki pekerjaan.

Dalam laporan Global Employment Trends for Youth 2026: Back to the Future, ILO juga mencatat proporsi anak muda yang tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan, maupun mengikuti pelatihan (not in employment, education or training/NEET) naik menjadi 20%. Kondisi itu mencakup lebih dari 257 juta anak muda di seluruh dunia.

Memburuknya prospek pekerjaan pemuda terjadi di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, lemahnya penciptaan lapangan kerja, ketegangan geopolitik, serta perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Direktur Jenderal ILO Gilbert F. Houngbo mengatakan generasi muda yang kesulitan memperoleh pekerjaan layak akan menghadapi tantangan dalam membangun masa depan.

“Generasi yang tidak dapat menemukan pekerjaan layak tidak dapat membangun masa depannya dengan percaya diri,” kata Houngbo dalam laporan tersebut, dikutip Kamis (13/8). 

Menurut dia, ketika anak muda kesulitan memperoleh pekerjaan berkualitas, negara akan kehilangan talenta, produktivitas, dan kohesi sosial. Karena itu, penciptaan pekerjaan layak bagi anak muda bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga investasi penting bagi suatu negara.

Prospek Kerja Pemuda di Negara Maju Memburuk

ILO mencatat peningkatan pengangguran pemuda terjadi di sebagian negara berpendapatan tinggi. Di Amerika Utara, misalnya, tingkat pengangguran pemuda meningkat dari 8,3% pada 2023 menjadi 9,8% pada 2025.

Sementara itu, tingkat pengangguran pemuda di Eropa Utara, Selatan, dan Barat masih berada pada level tinggi, yakni 15% pada 2025. Dari 29 negara di kawasan tersebut, sebanyak 20 negara mencatat memburuknya peluang kerja bagi anak muda.

Salah satu persoalan adalah menyusutnya pekerjaan dengan keterampilan menengah yang selama ini menjadi pintu masuk bagi pekerja muda ke pasar kerja.

Pekerjaan seperti administrasi dan tata usaha, layanan dan penjualan, manufaktur, serta sejumlah pekerjaan teknis mengalami penurunan.

Kondisi tersebut membuat anak muda semakin sulit mendapatkan pekerjaan yang stabil dan membangun jenjang karier sejak awal memasuki dunia kerja.

Negara Berkembang Kekurangan Pekerjaan Layak

Di negara berkembang, tantangannya berbeda. Negara-negara itu menghadapi kebutuhan untuk menciptakan lapangan kerja yang cukup guna menyerap pertumbuhan populasi usia muda.

ILO memperingatkan tingkat pengangguran yang rendah di sejumlah negara berkembang tidak selalu menunjukkan kondisi pasar kerja yang baik. Banyak anak muda tidak mampu menganggur dalam waktu lama sehingga akhirnya masuk ke pekerjaan informal atau pekerjaan yang tidak stabil.

Hampir sembilan dari sepuluh pekerja muda berusia 15-29 tahun di negara berpendapatan rendah dan menengah bawah bekerja di sektor informal.

Kondisi tersebut membatasi akses mereka terhadap pendapatan yang stabil dan perlindungan sosial.

Sub-Sahara Afrika menjadi salah satu kawasan yang menghadapi tekanan demografi paling kuat, sementara ketersediaan pekerjaan layak masih terbatas. Situasi tersebut mendorong semakin banyak anak muda masuk dalam kelompok NEET.

Sementara itu, negara-negara Arab dan Afrika Utara mencatat tingkat pengangguran pemuda tertinggi di dunia. Pada 2025, tingkat pengangguran pemuda mencapai 26,2% di negara-negara Arab dan 22,6% di Afrika Utara.

Di kedua kawasan tersebut, sedikitnya satu dari tiga anak muda juga masuk kategori NEET.

AI Ikut Mengubah Pasar Kerja Pemuda

Perubahan teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI), turut mengubah prospek pekerjaan bagi generasi muda. ILO memperkirakan 6,1% pekerjaan yang dimiliki pekerja muda berusia 15-29 tahun berada pada jenis pekerjaan yang sangat terpapar perubahan akibat AI.

Sebagian pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan dengan keterampilan menengah yang jumlahnya telah menurun sejak 2023, terutama pekerjaan administrasi dan tata usaha.

Namun, perrkembangan teknologi juga dinilai menciptakan peluang baru. Permintaan terhadap sejumlah pekerjaan teknis berbasis pengetahuan terus meningkat, terutama di bidang sains, kesehatan, dan teknik. Karena itu, peningkatan keterampilan menjadi kunci agar generasi muda dapat mengikuti perubahan kebutuhan pasar kerja.

Direktur Departemen Ketenagakerjaan, Keterampilan, dan Perusahaan Berkelanjutan ILO Sukti Dasgupta mengatakan dampak langsung AI terhadap lapangan kerja masih belum sepenuhnya jelas. Namun, pemerintah dan pemangku kepentingan tidak boleh mengabaikan risikonya.

“Kita perlu meningkatkan investasi dalam keterampilan, pembelajaran sepanjang hayat, dan perlindungan sosial agar anak muda dapat beradaptasi dengan perubahan dan memanfaatkan peluang baru,” ujarnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Konsumsi Listrik SPKLU Tembus 62,4 Juta kWh di 2026
• 4 jam lalu
0
thumb
Kejagung Tetapkan 2 Pegawai Pajak Tersangka Kasus Manipulasi Ekspor Pulp
• 16 jam lalu
0
thumb
Rosan Ungkap Potensi Motor Listrik di Indonesia Capai 140 Juta Molis
• 1 jam lalu
0
thumb
Purbaya Ungkap Rencana Pemerintah Tarik Sebagian Keuntungan Danantara
• 22 jam lalu
0
thumb
Warganet RI Banjiri Meme Politik AS: Cari Cuan dari Algoritma, Bukan Politisi
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.