MSCI Pertahankan Status "Emerging Market" Indonesia, 10 Saham Dihapus Per September 2026

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Penyedia indeks global terkemuka, MSCI, mempertahankan status pasar saham Indonesia sebagai negara berkembang atau emerging market. Kendati status kawasan tetap terjaga, MSCI melakukan perombakan signifikan terhadap susunan konstituen saham Indonesia dalam evaluasi berkala periode Agustus 2026.

Keputusan tersebut diumumkan pada Kamis (13/8/2026) waktu Indonesia. Dalam peninjauan tahunan MSCI Frontier Emerging Markets Index Annual Country Review 2026, secara umum, MSCI tidak mengubah status kelas pasar seluruh indeks di kelas Emerging Market.

"Tidak ada perubahan terhadap daftar negara Emerging Markets yang saat ini termasuk dalam MSCI Frontier Emerging Markets Index sebagai hasil dari review ini," tulis MSCI.

Dalam pengumuman resminya, pihak MSCI menjelaskan bahwa indeks MSCI Frontier Emerging Markets dibangun dengan mengagregasikan seluruh indeks negara dalam MSCI Frontier Markets Index serta indeks negara terpilih dalam MSCI Emerging Markets Index.

Evaluasi terhadap komposisi negara peserta dilakukan secara rutin setiap tahun guna memastikan representasi kondisi pasar terkini.

Sebelumnya, pada pengumuman MSCI 2026 Market Classification Review, Rabu (24/6/2026), MSCI memberikan catatan keras mengenai potensi penurunan kelas (downgrade) bagi pasar saham Indonesia akibat isu transparansi kepemilikan saham dan dugaan perdagangan yang terkoordinasi.

MSCI masih akan mempertahankan status pasar Indonesia di kelas Emerging Market atau Pasar Berkembang sampai waktu evaluasi berikutnya pada November 2026.

Baca JugaMSCI Perpanjang Evaluasi Status Pasar Saham Indonesia hingga November

Seperti diketahui, sejak akhir Januari 2026, MSCI mendorong perbaikan transparansi dan investability di Bursa Indonesia. Hal ini disambut dengan upaya transformasi pasar modal oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) seperti Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

"Jika kemajuan yang cukup tidak terlihat pada saat Tinjauan Indeks MSCI November 2026, MSCI akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk perlakuan yang tepat bagi pasar Indonesia, termasuk kemungkinan konsultasi tentang reklasifikasi Indonesia dari Pasar Berkembang menjadi Pasar Perbatasan (Frontier Market)," kata MSCI saat itu.

Selain terkait klasifikasi kelas indeks, pada periode ini, MSCI mengumumkan perubahan pada daftar indeks global MSCI. Sebanyak 10 saham emiten dihapus dari keanggotaan indeks, yang baru mulai berlaku efektif setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026.

Satu perubahan utama yang menyita perhatian pelaku pasar adalah dikeluarkannya PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari kategori MSCI Global Standard Indexes.

Dalam pengumumannya, MSCI mengonfirmasi akan menghapus saham GOTO secara menyeluruh dari MSCI Indonesia Investable Market Index dengan menerapkan perhitungan harga sistem terendah sebesar 0,00001 dari mata uang harga saham yang bersangkutan.

Langkah tegas MSCI merevisi posisi GOTO dipicu oleh masalah keterulangan indeks (index replicability) akibat batas likuiditas yang sangat rendah. Saham GOTO diketahui telah tertahan di batas harga minimum perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp 50 per lembar saham sejak penutupan perdagangan 13 Mei 2026.

"Treatment ini diterapkan karena adanya potensi masalah replicability indeks yang berkaitan dengan likuiditasnya yang sangat rendah akibat berdagang pada harga minimum perdagangan Rp 50 di Bursa Efek Indonesia sejak penutupan 13 Mei 2026," terang MSCI.

Sementara itu, emiten unggulan sektor peternakan dan unggas, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), turun kelas (downgrade). CPIN yang semula tercatat dalam kelompok Global Standard Indexes kini posisinya diturunkan ke dalam kategori Global Small Cap Indexes.

Tidak hanya pada kelompok papan atas, evaluasi portofolio juga menyasar kelompok saham berkapitalisasi kecil.

MSCI mengevaluasi posisi sembilan emiten Indonesia dari kategori MSCI Global Small Cap Indexes, yaitu PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT MD Entertainment Tbk (FILM).

Kemudian, saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kejagung Tetapkan 2 Tersangka Korupsi Transfer Pricing PT TPL
• 16 jam lalu
0
thumb
Kasus Pengerukan Tanjung Perak Disebut Kriminalisasi, Kuasa Hukum: Terdakwa Tak Rugikan Negara
• 12 jam lalu
0
thumb
Warga Diminta Tak Main Hakim Sikapi Tantangan Baca Ayat Al-Quran Berhadiah Miras
• 7 jam lalu
0
thumb
Kejari Ponorogo Sita Total Rp3,037 Miliar Kasus Tunjangan Rumah DPRD
• 17 jam lalu
0
thumb
Korban Tolak Damai, Sidang Dugaan Pengeroyokan oleh Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Berlanjut
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.