Dampak Kemarau, Peristiwa Kebakaran Meningkat di Makassar

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

MAKASSAR, KOMPAS — Peristiwa kebakaran di Kota Makassar belakangan meningkat seiring kemarau panjang yang memasuki puncaknya. Dalam tiga bulan terakhir terjadi lebih 100 kali peristiwa kebakaran. Warga diminta ikut mengantisipasi.

Kepala Bidang Pemadaman, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Makassar, Muhammad Cakrawala Angkasa mengatakan, seiring kasus kebakaran yang kian meningkat, langkah antisipasi dan mitigasi juga terus dilakukan.

“Memang beberapa waktu terakhir kasusnya kian meningkat. Bahkan pada Selasa malam, ada tujuh titik kebakaran dalam satu malam. Saat ini armada dan personel terus disiagakan di beberapa posko,” katanya, Rabu (12/8/2026) malam di Makassar.

Kebakaran di Makassar beberapa hari terakhir terjadi dalam rentang waktu cukup dekat. Beberapa terjadi bersamaan di tempat berbeda. Pada Minggu (9/8/2026), kebakaran terjadi di Mal Nipah.

Keesokan harinya disusul kebakaran yang menghabiskan puluhan rumah di kawasan padat penduduk, di jalan Kandea. Kebakaran selanjutnya terjadi di permukiman warga di Todopuli, dan beberapa kawasan lainnya pada Selasa siang dan disusul kebakaran di beberapa titik pada malam hari.

Berdasarkan data Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Kota Makassar, sepanjang Januari hingga Agustus ini, jumlah kebakaran sudah mencapai 181 kali dengan tiga korban meninggal. Peristiwa terbanyak adalah tiga bulan terakhir masing-masing 31 pada Juni dan 47 kasus sepanjang bulan Juli.

Baca JugaMal Nipah Park Makassar Terbakar, Operasional Berlanjut

Pada Agustus ini, belum lagi setengah bulan, jumlah kejadian kebakaran sudah lebih 30 kali. Sebagian besar penyebabnya adalah kebakaran alang-alang dan sampah. Selebihnya korsleting listrik. Sepanjang tahun ini kebakaran menyebabkan 194 rumah terbakar. Selebihnya adalah tempat usaha termasuk gudang.

Pada 2025, kebakaran sepanjang tahun terjadi 258 kali. Jumlah ini lebih sedikit dibanding 2023 saat Indonesia juga mengalami kemarau panjang. Saat itu terjadi hampir 400 peristiwa kebakaran.

“Mengantisipasi intensitas peristiwa kebakaran yang terus meningkat, saat ini Dinas Damkarmat menyiagakan sedikitnya 150 personel setiap hari. Mereka berjaga di enam posko yang tersebar di beberapa titik strategis di Makassar,” tambah Cakra.

Posko ini adalah posko pengayoman, posko KIMA, posko GMTD, Carester (Care Emergency Center) Ujung Tanah, Carester Tamalanrea,  dan Carester Manggala. Ini belum termasuk posko induk di  kantor Damkarmat. “Armada saat ini yang siap sebanyak 60 unit dengan  kapasitas tangki bervariasi mulai dari 3000 hingga 8000 liter,” katanya.

Baca JugaKebakaran di Trans Mall Makassar, Pencarian Korban Masih Dilakukan

Penempatan posko pada titik strategis ini diakui Cakra merupakan upaya cepat tanggap merespons kejadian kebakaran. “Kalau SOP kami, setelah menerima laporan, maksimal 15 menit petugas sudah di lokasi. Namun sejauh ini tak pernah sampai 15 menit, petugas sudah tiba dan melakukan pemadaman,” katanya.

Untuk mengantisipasi dan memitigasi agar peristiwa kebakaran bisa diminimalkan, pihak Damkarmat aktif melakukan sosialisasi dan edukasi. Lingkungan atau permukiman padat penduduk hingga sekolah menjadi sasaran.

Tak hanya kasus kebakaran yang meningkat, kemarau juga membuat layanan air bersih PDAM Makassar terganggu. Hal ini disebabkan berkurangnya debit air di bendung dan waduk yang menjadi sumber air baku PDAM Makassar.

Di sejumlah wilayah, kondisi ini menyebabkan suplai air terganggu. Di wilayah yang berada di Timur dan Utara Makassar misalnya, air hanya mengalir pada waktu malam. Di sebagian wilayah lainnya sejak Maret lalu, air sudah tidak mengalir. Wilayah utara Makassar termasuk daerah rawan kebakaran.

Baca JugaAda Masalah? Lapor Damkar Saja

Pelaksana Tugas Direktur PDAM Makassar A Syahrum Makkuradde, Senin (3/8/2026) lalu mengatakan lebih dari 30 persen dari 200.000 pelanggan PDAM Makassar merasakan dampak terganggunya suplai air ini. Gangguan suplai air ini setidaknya berdampak ke sembilan kecamatan yakni Manggala, Panakkukang, Wajo, Bontoala, Ujung Tanah, Tallo, Makassar, Tamalanrea, dan Biringkanaya.

“Debit di Waduk Lekopancing berkurang hingga di bawah 200 liter per detik. Normalnya di atas 300 liter per detik. Kami sudah coba membantu dengan memompa air dari Sungai Moncongloe tapi tidak banyak membantu,” katanya.

Makassar memiliki tiga bendung air yakni Lekopancing, Somba Opu, dan Maccini Sombala. Ketiganya memanfaatkan sumber air Sungai Jeneberang, Sungai Tallo dan Moncongloe, serta Sungai Maros.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bunga Kredit PNM Mekaar Dipangkas Jadi 8%, Berlaku Mulai September 2026
• 23 jam lalu
0
thumb
Tinjau Kali Cakung Lama, Pramono Targetkan Normalisasi Rampung 2028
• 2 jam lalu
0
thumb
Semangat Gotong Royong di Balik Terowongan Merah Putih 72 Meter Cikutra, Bandung
• 18 jam lalu
0
thumb
DPR Bocorkan Nama Calon Deputi Gubernur Senior dan Deputi Gubernur BI Usulan Prabowo
• 16 jam lalu
0
thumb
MK: Hanya Presiden dan Wapres yang Bisa Lapor Penghinaan
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.