OJK Prediksi Dampak Rebalancing MSCI Agustus Tak Seganas Mei

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap MSCI segera mencabut pembekuan atau freeze terhadap saham Indonesia pada rebalancing berikutnya. Pencabutan kebijakan tersebut dinilai dapat membuka kembali peluang saham-saham Indonesia untuk masuk ke dalam indeks MSCI.

OJK pun memprediksi dampak rebalancing periode ini akan lebih ringan dibanding sebelumnya. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengatakan, BEI dan OJK telah melakukan berbagai perbaikan untuk meningkatkan transparansi pasar modal Indonesia.

Menurut dia, perbaikan tersebut perlu menjadi pertimbangan MSCI dalam mengevaluasi kebijakan freeze. "Kita harapkan nanti secara fair mereka dapat melihat dan menilai, memperbandingkan tingkat transparansi pasar kita," kata Hasan ketika ditemui seusai acara Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia 2026 di Jakarta, Selasa (11/8).

"Bahkan, rasanya sudah jauh lebih bagus dibanding pasar-pasar lainnya," ujarnya.

Hasan berharap perbaikan transparansi yang sudah dilakukan otoritas BEI dapat menjadi dasar bagi MSCI untuk memberikan relief atau mencabut pembekuan. Dengan begitu, saham-saham Indonesia yang berpotensi dapat kembali dinilai untuk masuk ke dalam indeks MSCI.

Hasan mengatakan, dampak rebalancing pada periode Agustus 2026 diperkirakan tidak akan sebesar rebalancing mayor pada Mei yang berdampak pada Juni lalu. Berdasarkan perhitungan OJK dan BEI, saham-saham Indonesia yang masih bertahan dalam indeks MSCI dinilai masih layak untuk dipertahankan.

“Kalaupun ada yang keluar, rasanya dari perhitungan kami sementara ini tidak akan sebesar atau lebih signifikan dibanding keputusan rebalancing yang mereka lakukan di Bulan Mei yang lalu,” kata dia.

Pada rebalancing Mei, ada 18 saham Indonesia di terdepak dari lembaga pengelola indeks global tersebut. Kendati begitu, Hasan menilai pasar saham Indonesia masih mampu menyerap tekanan dari penyesuaian portofolio investor pasif yang mengikuti perubahan konstituen indeks.

Menurut dia, kedalaman transaksi bursa serta peran investor aktif dan investor domestik, termasuk investor ritel, membantu pasar tetap resilien menghadapi tekanan tersebut.

Hasan berharap kondisi serupa kembali terjadi pada rebalancing Agustus ini. Dia menilai dampaknya tidak akan terlalu signifikan sehingga pasar masih memiliki daya tahan untuk menghadapinya.

Hasan bahkan melihat ada peluang yang akan muncul apabila MSCI mencabut kebijakan freeze yang telah berlangsung sejak pengumuman pada Januari lalu. Menurut dia, investor seharusnya sudah memperhitungkan risiko dari kebijakan tersebut. Karena itu, pencabutan freeze justru berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham Indonesia.

“Kita berharap justru upside-nya ada pada saat freeze itu diangkat,” ujar Hasan.

Dia menilai pencabutan freeze dapat menjadi sinyal positif bagi investor Indonesia maupun regional dan global. Kebijakan tersebut juga akan menunjukkan bahwa MSCI mengakui adanya perbaikan transparansi, konsistensi dan komitmen Indonesia dalam memperbaiki pasar modal.

Sementara itu, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, OJK dan self regulatory organizations (SROs) telah menyampaikan berbagai reformasi pasar modal kepada MSCI, FTSE Russell, maupun investor global secara rutin. Namun, Jeffrey menegaskan keputusan untuk mencabut freeze sepenuhnya berada di tangan penyedia indeks global.

“Dari kami di SRO dan OJK, kami sudah menyampaikan seluruh aksi reformasi yang kita lakukan dan sudah kami komunikasikan juga, baik kepada MSCI, FTSE, maupun kepada global investors. Tentu kembali kewenangan sepenuhnya ada di global index provider,” ujar Jeffrey.

MSCI akan melakukan rebalancing periode Agustus pada Kamis (13/8) dini hari waktu Indonesia. Pada periode ini, MSCI kembali membekukan atau freeze saham Indonesia. Alhasil, kebijakan tersebut membuat tidak ada saham Indonesia yang masuk atau ditambahkan ke dalam indeks MSCI. 

Namun seperti pada periode Februari dan Mei, sejumlah saham Indonesia tetap berpotensi mengalami perubahan konstituen maupun bobot apabila terdapat penyesuaian dalam indeks.

Pada rebalancing ini, sejumlah analis memandang ada dua saham yang akan didepak MSCI. Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin mengatakan, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) berpotensi diturunkan dari indeks MSCI. Penyebabnya adalah kapitalisasi pasar yang telah disesuaikan dengan foreign inclusion factor (FIF) berada di bawah ambang batas indeks standar.

Kondisi tersebut terjadi setelah harga saham CPIN terkoreksi 22,5% sejak tinjauan MSCI pada Mei lalu.

Wilbert memperkirakan review kali ini dapat memangkas kapitalisasi pasar indeks MSCI Indonesia sebesar 1,9%. Sementara itu, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets diperkirakan turun 0,01 poin.

Selain CPIN, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga diperkirakan berpotensi keluar dari indeks MSCI.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dua Orang Jamaah yang Berhasil Menangkan THR Umrah Gratis
• 3 jam lalu
0
thumb
Cegah Kasus Keracunan, MBG Diberi Label Harus Dikonsumsi Maksimal 4 Jam Setelah Masakan Matang
• 17 jam lalu
0
thumb
Ada Apa dengan Iran? Petinggi Militer dan Keamanan Mendadak Diganti
• 2 jam lalu
0
thumb
Bahlil Bakal Uji Coba Penggunaan CNG 3 Kg Pekan Depan
• 6 jam lalu
0
thumb
Eko Yuli Irawan Bersiap Ukir Sejarah, Bidik Asian Games 2026
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.