Direktur STB: Kelola pengeluaran kunci agar tak bergantung "paylater"

antaranews.com
16 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Managing Director perusahaan induk investasi dan penyedia layanan finansial PT Samuel Tumbuh Bersama (STB) Tae Yong Shim mengatakan pengelolaan pengeluaran menjadi kunci agar masyarakat tidak bergantung pada utang konsumtif, termasuk layanan paylater, untuk memenuhi kebutuhan bulanan.

Shim menyarankan masyarakat memastikan pengeluaran tidak melampaui pendapatan sebagai salah satu prinsip dasar dalam perencanaan keuangan pribadi.

"Pertama-tama, dalam hal perencanaan keuangan, Anda harus memastikan bahwa pengeluaran Anda berada dalam batasan pendapatan Anda," kata Shim dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, utang sebaiknya tidak terus digunakan untuk menutup selisih antara pendapatan dan pengeluaran konsumsi bulanan.

Apabila seseorang memutuskan berutang, lanjutnya, penggunaan dana tersebut idealnya diimbangi dengan pembentukan aset yang mempunyai nilai ekonomi dan mampu menghasilkan pendapatan.

"Jika Anda memutuskan untuk meminjam uang, harus ada aset yang sepadan dan aset tersebut harus menghasilkan pendapatan," ujarnya.

Pandangan tersebut disampaikan ketika penggunaan layanan buy now pay later (BNPL) di Indonesia terus meningkat.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat baki debet BNPL perbankan mencapai Rp30,1 triliun pada Mei 2026 atau tumbuh 37,72 persen secara tahunan, dengan jumlah rekening mencapai 31,76 juta. Porsinya masih sebesar 0,34 persen terhadap total kredit perbankan.

Sementara itu, pada industri perusahaan pembiayaan, pembiayaan BNPL mencapai Rp13,18 triliun pada Mei 2026 atau tumbuh 53,78 persen secara tahunan. Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) bruto tercatat 3,44 persen.

Shim menilai pengeluaran menjadi salah satu unsur keuangan yang lebih dapat dikendalikan oleh individu dibandingkan pergerakan imbal hasil investasi.

Karena itu, dalam materi yang dipaparkan, ia mencontohkan perlunya mengevaluasi berbagai pos pengeluaran, mulai dari tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, transportasi, makan, komunikasi, asuransi, hiburan hingga pembayaran bunga pinjaman.

Simulasi dalam materi tersebut menggunakan contoh pendapatan Rp20 juta per bulan dan pengeluaran Rp16 juta, sehingga terdapat selisih Rp4 juta yang dapat dialokasikan untuk investasi bulanan.

Menurut Shim, masyarakat juga perlu menentukan tujuan keuangan berdasarkan jangka waktunya, yakni jangka pendek, menengah, dan panjang, kemudian menyesuaikan pengeluaran serta investasi dengan kebutuhan pada setiap tahap kehidupan.

Ia juga menekankan pentingnya membangun aset yang menghasilkan pendapatan atau income-generating assets, sekaligus menjaga konsistensi investasi dalam jangka panjang.

Kebutuhan meningkatkan kecakapan mengelola keuangan turut tercermin dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS).

Survei tersebut mencatat indeks inklusi keuangan nasional sebesar 80,51 persen, sedangkan indeks literasi keuangan sebesar 66,46 persen. Dengan demikian, tingkat akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan masih lebih tinggi dibandingkan tingkat pemahamannya.

Lebih lanjut, Shim menyarankan generasi muda mengenal berbagai instrumen keuangan secara bertahap, mulai dari obligasi, saham, reksa dana hingga produk proteksi, agar memahami karakteristik dan risikonya sebelum menempatkan dana dalam jumlah lebih besar.

"Karena di usia muda, trial and error, pelajaran yang dipetik menurut saya terkadang lebih berharga daripada hasil investasi itu sendiri," ucap Shim.

Menurut dia, pengalaman tersebut dapat membantu generasi muda menemukan instrumen yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi keuangan masing-masing.

Ia menyebutkan bahwa seiring bertambahnya usia dan nilai aset, keputusan keuangan juga perlu diambil dengan pertimbangan yang semakin matang.

Dengan demikian, Shim menilai perencanaan keuangan tidak hanya terkait pemilihan instrumen investasi, tetapi juga disiplin mengelola pengeluaran, menggunakan utang secara terukur, membangun aset produktif, serta mempersiapkan kebutuhan keuangan dalam jangka panjang.

"Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda, tetapi prinsip dasarnya sama. Pahami kebutuhan, kendalikan pengeluaran, mulai berinvestasi sedini mungkin, dan siapkan proteksi. Dalam perencanaan keuangan, waktu adalah salah satu aset yang paling penting," ungkap Shim.

Baca juga: OJK: Baki debet "paylater" tumbuh 33,54 persen, didorong KBMI 1 dan 3

Baca juga: Ekonom sebut pembatasan paylater perkuat pelindungan konsumen


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Berawal dari Aplikasi Kencan, Motor Siswa SMK di Jakbar Dibawa Kabur Kenalannya
• 17 jam lalu
0
thumb
Penampakan Febrie Adriansyah Usai 7 Jam Diperiksa Kejagung
• 17 jam lalu
0
thumb
Pemuda Penyayat Leher Kekasih Mantan Pacar di Depok Ditangkap
• 22 jam lalu
0
thumb
Lima Jamban Dibangun di Tiga Kecamatan, TMMD Bone Sasar Sanitasi Warga Desa
• 23 jam lalu
0
thumb
Perkuat Ekosistem EV, VinFast Gandeng Danamon untuk Pembiayaan Diler
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.