Perimenopause merupakan fase transisi menuju menopause yang ditandai dengan berbagai perubahan dalam tubuh. Selain siklus menstruasi yang mulai berubah, banyak perempuan juga mulai merasakan kulit lebih kering, muncul garis halus, hingga rambut yang semakin mudah rontok.
Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer Konsultan Functional, Orthomolecular, and Metabolic Care dari Primaya Hospital, Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed (AAM)., Sp.KKLP, Subsp.FOMC, mengatakan perubahan tersebut berkaitan dengan perubahan biologis yang terjadi selama perimenopause, terutama akibat menurunnya kadar hormon estrogen.
Menurut dr. Nining, estrogen berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit. Hormon ini membantu mempertahankan produksi kolagen, elastin, dan asam hialuronat yang berfungsi menjaga kulit tetap kenyal, elastis, dan lembap.
Saat kadar estrogen mulai menurun, produksi ketiga komponen tersebut ikut berkurang sehingga kulit menjadi lebih tipis, kehilangan kekencangan, dan terasa lebih kering.
Di saat yang sama, proses regenerasi sel juga melambat sehingga tanda-tanda penuaan lebih mudah terlihat. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya radikal bebas dan peradangan kronis yang dapat merusak kolagen, elastin, hingga DNA sel kulit.
"Sekitar 30 persen kolagen kulit dapat hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause. Setelah itu, jumlah kolagen terus berkurang sekitar 2 persen setiap tahunnya," ujarnya. Kondisi tersebut membuat kulit tampak lebih kendur dan garis-garis halus menjadi semakin jelas.
Perubahan hormon juga memengaruhi siklus pertumbuhan rambut. Selain itu, pada masa perimenopause, fase pertumbuhan rambut menjadi lebih pendek sehingga lebih banyak rambut memasuki fase rontok. Diameter batang rambut juga mengecil sehingga rambut tampak lebih tipis dan volumenya berkurang.
Akibatnya, garis belahan rambut terlihat semakin lebar dibanding sebelumnya. Penurunan aliran darah ke kulit kepala juga menyebabkan nutrisi yang diterima folikel rambut berkurang sehingga pertumbuhan rambut tidak seoptimal sebelumnya.
Meski demikian, dr. Nining menegaskan bahwa tidak semua perempuan mengalami perubahan dengan tingkat keparahan yang sama.
"Kondisi kulit dan rambut selama perimenopause juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, pola makan, kualitas tidur, tingkat stres, paparan sinar ultraviolet (UV), kebiasaan merokok, serta penyakit metabolik," ujarnya.
Untuk membantu menjaga kesehatan kulit dan rambut selama perimenopause, ia menyarankan perempuan menggunakan sunscreen setiap hari, memenuhi kebutuhan protein, tidur selama 7–8 jam setiap malam, rutin berolahraga, serta mengelola stres.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghentikan kebiasaan merokok dan memeriksakan kadar zat besi maupun vitamin apabila rambut mulai mengalami kerontokan.
Apabila perubahan pada kulit dan rambut mulai terasa mengganggu, segera berkonsultasi dengan dokter. Dengan evaluasi sejak dini, penyebab keluhan dapat diketahui sehingga penanganan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.






Komentar (0)