Surabaya, ERANASIONAL.COM – Meski operasi SAR khusus pencarian korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep, Madura, Jawa Timur, telah resmi dihentikan pada Selasa (4/8), sejumlah keluarga korban masih berupaya mencari anggota keluarganya yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Kecemasan menyelimuti para keluarga lantaran nama kerabat mereka tidak tercantum dalam daftar korban yang berhasil dievakuasi, baik dalam kondisi selamat maupun meninggal dunia.
Salah seorang keluarga korban, Anton, mengaku masih menunggu kepastian mengenai nasib saudaranya, Abdul Manan, yang bekerja sebagai koki sekaligus kru KMP Mutiara Sentosa II.
Ia mengatakan telah mendatangi posko terpadu di Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN) Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, untuk mencari informasi, namun belum memperoleh kejelasan.
“Sudah kami cari dan konfirmasi ke petugas. Jawabannya mereka masih berusaha melakukan pencarian,” ujar Anton, Rabu (5/8).
Menurut Anton, Abdul Manan telah bekerja di kapal milik PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) selama sekitar satu hingga dua tahun.
Komunikasi terakhir dengan keluarga terjadi saat proses pemuatan kendaraan sebelum kapal berlayar.
“Kontak terakhir saat pemuatan kapal. Setelah itu semua telepon sudah tidak bisa dihubungi,” katanya.
Pihak keluarga juga telah menghubungi perusahaan tempat Abdul Manan bekerja. Dari pihak perusahaan, kata Anton, mereka berjanji akan terus membantu mencari keberadaan kru tersebut.
Nasib serupa dialami keluarga Bustam Sanusi, sopir asal Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Putranya, Muhammad Jasuar Bustam, bersama sang ibu, Samsiah, mendatangi posko terpadu dengan harapan memperoleh informasi mengenai Bustam yang hingga kini belum ditemukan.
“Saya anaknya. Bapak sopir asal Makassar. Sampai sekarang belum ada kabarnya dan namanya juga tidak ada dalam daftar,” ujar Jasuar.
Ia mengungkapkan komunikasi terakhir dengan ayahnya terjadi pada Minggu (2/8) sekitar pukul 09.00 WIB, ketika Bustam mengirimkan sebuah video dari atas kapal.
Namun, saat dihubungi kembali sekitar pukul 11.47 WIB, telepon selulernya sudah tidak aktif.
“Bapak sempat kirim video jam sembilan pagi. Setelah saya telepon lagi sekitar jam 11.47, HP-nya sudah tidak aktif,” tuturnya.
Hasanudin, kerabat yang turut mendampingi keluarga Bustam, mengaku mendapat cerita dari salah seorang korban selamat.
Berdasarkan kesaksian tersebut, Bustam sempat beberapa kali berusaha diselamatkan, namun kembali terjatuh ke laut karena pelampung yang dikenakannya terlepas.
“Menurut cerita temannya yang selamat, korban sempat ditolong naik ke kapal, tetapi jatuh lagi sampai tiga kali karena pelampungnya lepas,” kata Hasanudin.
Walaupun operasi SAR resmi telah dihentikan, keluarga Bustam memutuskan tetap bertahan di Surabaya untuk memantau perkembangan pencarian.
Mereka berharap upaya pencarian terhadap korban yang belum ditemukan masih dapat dilanjutkan.
Hasanudin juga mempertanyakan tidak tercantumnya nama Bustam dalam daftar manifes korban, padahal keluarga memiliki bukti berupa video yang memperlihatkan korban berada di atas kapal sebelum insiden terjadi.
“Tiketnya menggunakan nama orang lain karena mobil yang dipakai merupakan mobil pengganti,” ujarnya.
Selain Bustam Sanusi, Hasanudin menyebut rekan kerjanya sesama sopir, Andik Herman, juga belum ditemukan hingga kini.
Sementara itu, keluarga korban lainnya, Tarjo, masih mencari sopir perusahaan tempatnya bekerja, Abdurrahman (51).
Sejak hari pertama kejadian, ia terus mengikuti perkembangan data korban, namun nama Abdurrahman belum juga muncul dalam daftar resmi.
Tarjo memastikan Abdurrahman berada di atas KMP Mutiara Sentosa II karena memiliki tiket resmi, riwayat komunikasi terakhir, serta video yang menunjukkan kendaraan korban memasuki kapal pada 1 Agustus sekitar pukul 09.00 WIB.
“Dia punya tiket resmi, ada riwayat laporan terakhir, bahkan ada video saat mobil masuk ke kapal. Itu yang membuat kami yakin dia ikut berlayar,” ujarnya.
Ia mempertanyakan mengapa bukti-bukti tersebut tidak membuat nama Abdurrahman tercantum dalam manifes penumpang.
“Yang menjadi pertanyaan kami, sudah ada tiket resmi, foto, dan video terakhir di kapal, tapi kenapa namanya tidak masuk dalam manifes?” kata Tarjo.
Meski berusaha menerima segala kemungkinan, Tarjo berharap proses pencarian terhadap korban yang belum ditemukan tetap dilanjutkan agar keluarganya memperoleh kepastian mengenai nasib Abdurrahman. []






Komentar (0)