Momen Pilu Induk Lumba-lumba Bawa Anaknya yang Mati Menyusuri Muara

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Seekor lumba-lumba betina terlihat terus membawa jasad anaknya yang baru berusia dua minggu di perairan selatan Perth, Australia. Rekaman menyentuh hati itu menjadi viral di media sosial dan kembali memunculkan pertanyaan tentang kemampuan hewan laut dalam merasakan duka.

Para ilmuwan mengatakan perilaku tersebut bukanlah hal asing. Berbagai spesies lumba-lumba dan paus telah lama diketahui tetap membawa anak yang mati selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Menurut para peneliti, tindakan itu merupakan salah satu bentuk ikatan emosional yang kuat antara induk dan anak.

Video tersebut diunggah pada 20 Juli oleh Geographe Marine Research, organisasi konservasi paus yang telah lama memantau kelompok lumba-lumba di wilayah tersebut.

Induk lumba-lumba dalam video itu diberi nama Fraggle. Organisasi tersebut telah mengenalnya selama bertahun-tahun dan mengetahui riwayat reproduksinya yang penuh tantangan.

Sebelumnya, Fraggle telah kehilangan tiga anak. Kelahiran anak keempat pada musim dingin di belahan Bumi selatan pun sejak awal dianggap memiliki peluang hidup yang kecil.

"Kami masih berharap ia memiliki kesempatan untuk kembali menjadi seorang ibu," tulis Geographe Marine Research dalam unggahan media sosialnya.

Berdasarkan pengamatan mereka, anak lumba-lumba tersebut diduga mati akibat pneumonia.

Lori Marino, ahli saraf sekaligus pendiri Whale Sanctuary Project, mengatakan berbagai spesies lumba-lumba memang diketahui membawa jasad anak mereka selama beberapa hari hingga beberapa minggu.

Menurutnya, hal yang paling menarik dalam video tersebut bukan hanya tindakan Fraggle membawa anaknya, tetapi juga perilaku lumba-lumba lain di sekitarnya.

"Mereka berada sangat dekat dengannya," lanjut Marino. "Ini bukan hanya seekor induk bersama anaknya yang telah mati. Seluruh kelompok tampaknya memahami bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi."

Lumba-lumba dan paus termasuk kelompok mamalia laut yang dikenal sebagai cetacea. Kelompok hewan ini memiliki hubungan sosial yang sangat erat, baik saat proses kelahiran maupun ketika menghadapi kematian.

Para ilmuwan sebelumnya juga pernah mengamati sekelompok paus sperma yang bekerja sama membantu seekor induk melahirkan. Temuan-temuan seperti itu memperlihatkan bahwa sejumlah spesies mamalia memiliki kehidupan sosial dan rasa kebersamaan yang jauh lebih kompleks daripada yang selama ini diperkirakan.

Perilaku membawa anak yang telah mati juga pernah menarik perhatian dunia pada 2018. Saat itu, seekor paus orca bernama Tahlequah terlihat membawa jasad anaknya selama lebih dari dua minggu di perairan dekat British Columbia, Kanada. Ia menempuh perjalanan lebih dari 1.600 kilometer sambil terus menopang tubuh anaknya di permukaan laut.

Para ilmuwan menyebut kasus tersebut memang tergolong ekstrem, tetapi bukan berarti unik. Bahkan, Tahlequah kembali menunjukkan perilaku serupa setelah kehilangan anaknya pada tahun lalu.

Menurut para ahli, induk seperti Fraggle maupun Tahlequah tampaknya memiliki dorongan kuat untuk tetap mempertahankan kontak fisik dengan tubuh anak mereka.

Susana Monsó, filsuf sekaligus penulis buku "Playing Possum: How Animals Understand Death", mengatakan perilaku tersebut justru lebih mengesankan jika mempertimbangkan kondisi hidup mamalia laut.

"Tidak seperti manusia, mereka tidak memiliki tangan. Mereka hidup di lingkungan perairan yang mengharuskan mereka terus naik ke permukaan untuk bernapas sekaligus berburu makanan," tulis Monsó.

"Karena itu, mempertahankan tubuh anak yang telah mati merupakan hal yang sangat sulit dilakukan. Ini menunjukkan adanya motivasi yang sangat kuat dari sang induk."

Perilaku serupa juga ditemukan pada sejumlah primata. Abigail McClain, kandidat doktor di Center for the Advanced Study of Human Paleobiology, George Washington University, mengatakan bahwa simpanse, gorila, dan babun juga diketahui membawa jasad anak mereka selama berhari-hari hingga berminggu-minggu.

"Berulang kali kita melihat induk membawa bayinya selama beberapa hari hingga beberapa minggu, bahkan ketika ada bukti bahwa sang induk tampaknya mengetahui anaknya telah mati," ujarnya.

Menurut McClain, temuan-temuan ini membuka peluang untuk memahami lebih jauh bagaimana spesies selain manusia dapat mengalami kesedihan.

Sementara itu, Lauren Brandkamp, koordinator penanganan mamalia laut terdampar di Whale and Dolphin Conservation North America, mengatakan manusia seharusnya tidak terlalu terkejut melihat perilaku seperti ini.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dari Inflasi 17 Persen ke Inersia Ekonomi: Pelajaran Burhanuddin Abdullah tentang Stabilitas dan Produktivitas
• 11 jam lalu
0
thumb
Netanyahu: Militer Israel tidak akan Mundur dari Gaza
• 11 jam lalu
0
thumb
Editorial Media Indonesia: Peringatan BMKG bukan untuk Arsip
• 14 jam lalu
0
thumb
BRI Hadirkan Pembayaran Contactless untuk Pengguna MRT Jakarta
• 10 jam lalu
0
thumb
BRIN Ingatkan Dampak Pembatasan Kadar Nikotin bagi Petani Tembakau: Perlu Proses Panjang
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.