Ankara (ANTARA) - Qatar, Arab Saudi, dan Yordania berpeluang menjadi bagian dari rute baru penyaluran gas alam menuju Turki dan selanjutnya ke Eropa, kata Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Turki Alparslan Bayraktar, Selasa (4/8).
Bayraktar mengatakan Ankara juga tengah membahas sejumlah proyek dengan Irak yang pada tahap awal akan mencakup penyaluran gas alam ke pembangkit listrik di negara tersebut melalui infrastruktur Turki untuk membantu memenuhi sebagian kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik Irak.
Turki juga mempertimbangkan pembangunan pipa gas yang sejajar dengan rencana pembangunan pipa minyak menuju Basra serta jalur transmisi listrik, kata Bayraktar.
Ia menambahkan proyek tersebut berpotensi memungkinkan Qatar dan negara-negara Teluk lainnya menyalurkan gas alam melalui Irak menuju Turki, sebelum diteruskan ke pasar Eropa.
"Rute alternatif dapat melintasi Qatar, Arab Saudi, Yordania, dan Suriah, yang kemudian akan menyalurkan gas tersebut ke Turki," ujar Bayraktar dalam wawancara dengan TRT Haber.
Menteri itu menegaskan bahwa Turki memiliki salah satu infrastruktur gas paling maju di kawasan. Ia menyebut negara tersebut telah membangun lebih dari 14.000 mil jaringan pipa gas bertekanan tinggi serta sekitar 136.000 mil jaringan distribusi yang melayani rumah tangga dan sektor usaha.
Menurut dia, infrastruktur tersebut akan mendukung proyek-proyek energi berskala besar sekaligus memperkuat peran Turki sebagai pusat (hub) distribusi gas yang penting di kawasan.
Pada 1 Agustus, Irak dan Turki menandatangani perjanjian mengenai pengangkutan dan pengalihan muatan (transshipment) minyak mentah Irak melalui pipa menuju Pelabuhan Ceyhan. Dokumen tersebut menetapkan kapasitas aliran minimum sebesar 750.000 barel per hari.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: Irak akan bangun infrastruktur pipa minyak baru ke Turki dan Suriah
Baca juga: Turkiye target bangun jalur alternatif Selat Hormuz dalam 3 tahun
Bayraktar mengatakan Ankara juga tengah membahas sejumlah proyek dengan Irak yang pada tahap awal akan mencakup penyaluran gas alam ke pembangkit listrik di negara tersebut melalui infrastruktur Turki untuk membantu memenuhi sebagian kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik Irak.
Turki juga mempertimbangkan pembangunan pipa gas yang sejajar dengan rencana pembangunan pipa minyak menuju Basra serta jalur transmisi listrik, kata Bayraktar.
Ia menambahkan proyek tersebut berpotensi memungkinkan Qatar dan negara-negara Teluk lainnya menyalurkan gas alam melalui Irak menuju Turki, sebelum diteruskan ke pasar Eropa.
"Rute alternatif dapat melintasi Qatar, Arab Saudi, Yordania, dan Suriah, yang kemudian akan menyalurkan gas tersebut ke Turki," ujar Bayraktar dalam wawancara dengan TRT Haber.
Menteri itu menegaskan bahwa Turki memiliki salah satu infrastruktur gas paling maju di kawasan. Ia menyebut negara tersebut telah membangun lebih dari 14.000 mil jaringan pipa gas bertekanan tinggi serta sekitar 136.000 mil jaringan distribusi yang melayani rumah tangga dan sektor usaha.
Menurut dia, infrastruktur tersebut akan mendukung proyek-proyek energi berskala besar sekaligus memperkuat peran Turki sebagai pusat (hub) distribusi gas yang penting di kawasan.
Pada 1 Agustus, Irak dan Turki menandatangani perjanjian mengenai pengangkutan dan pengalihan muatan (transshipment) minyak mentah Irak melalui pipa menuju Pelabuhan Ceyhan. Dokumen tersebut menetapkan kapasitas aliran minimum sebesar 750.000 barel per hari.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: Irak akan bangun infrastruktur pipa minyak baru ke Turki dan Suriah
Baca juga: Turkiye target bangun jalur alternatif Selat Hormuz dalam 3 tahun






Komentar (0)