Kondisi global masih dibayangi ketidakpastian karena kondisi geopolitik. Tidak ada seorang pun yang dapat memprediksi kapan ketegangan akan berakhir. Dinamika selalu ada dan terus bergerak dari hari ke hari.
Di tengah kondisi yang serba tidak pasti itu, semua pihak dituntut untuk siap siaga terhadap berbagai perubahan dan cerdik mencari celah peluang di balik tiap dinamika yang terjadi.
Head of Group Wholesales Banking and Markets UOB Frederick Chin mengatakan, konflik di Selat Hormuz mengingatkan semua orang tentang betapa cepatnya risiko global dapat bereskalasi. Tiap CEO memantau perkembangan tiap hari untuk beradaptasi untuk mengelola risiko dan insentif.
Lanskap investasi berubah yang dipengaruhi oleh aspek ekuitas privat, kredit privat, pendanaan infrastruktur, dana kekayaan negara, dan dana pensiun. Di tengah pergeseran ini, ASEAN diuntungkan dan membentuk lanskap baru pertumbuhan global.
“Disrupsi terbesar dunia menjadi peluang terbesar ASEAN. Dalam momen seperti ini, kawasan menghadapi sebuah pilihan untuk memimpin babak pertumbuhan ini atau bereaksi terhadap kondisi ini. ASEAN tidak lagi bereaksi pada situasi masa depan, kita membentuknya,” tutur Frederick dalam ASEAN’s Future in a Fractured World yang diadakan Singapore Business Federation di Singapura, Jumat (31/7/2026).
Saat ini, perubahan struktur mendasar perdagangan global sedang terjadi. Perdagangan didesain ulang, arus modal berubah, kepercayaan sedang dibangun kembali. Penanaman modal asing (PMA/FDI) masuk ke ASEAN justru bertambah lebih dari dua kali lipat dari 115 miliar dolar AS menjadi 244 miliar dolar AS selama sedekade terakhir.
Proporsi arus FDI di ASEAN sekarang menjadi 15 persen secara global. Ekspor ASEAN diproyeksikan tumbuh hampir 90 persen pada 2031, lebih dari tiga kali kecepatan pertumbuhan perdagangan global. Arus perdagangan dialihkan dari koridor AS-China yang kini menemukan jalur baru di kawasan Asia-Pasifik.
“Bisnis ditentukan tidak hanya berdasarkan efisiensi, tetapi juga ketahanan, reliabilitas, dan kepercayaan diri. Dalam dunia yang terfragmentasi, arus mengikuti kepercayaan, dan kepercayaan meningkat di ASEAN,” ujar Frederick.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Perdana Menteri Singapura sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gan Kim Yong mengatakan, ASEAN memainkan peran yang sangat penting dalam ketidakpastian ini. Kawasan ini merupakan pusat yang saling terintegrasi dan terus memperluas cakupan kerja samanya.
Pandemi Covid-19 mengajarkan ASEAN untuk memperkuat rantai pasok bersama. Kerja sama ASEAN begitu penting untuk saling bertahan di tengah kondisi ini.
“Hal yang digarisbawahi, ASEAN tidak bertumpu pada keseragaman karena ekonomi negara-negaranya sangat beragam. Namun, faktor yang mendasari adalah elemen kepercayaan antarnegara sebagai modal melewati banyak krisis,” tutur Kim Yong.
Dialog itu dimoderatori oleh CEO Singapore Business Federation Kok Ping Soon. Selain Kim Yong, hadir pula Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Cristina A Roque sebagai pembicara.
Sebagai Ketua ASEAN 2026, Cristina yang mewakili Pemerintah Filipina mengatakan, pihaknya ingin mendorong ASEAN sebagai blok. Sebagai kelompok, ASEAN memiliki banyak hal yang bisa ditawarkan kepada dunia.
Salah satu isu yang menjadi fokus ASEAN saat ini adalah ketersediaan pasokan energi di tengah perang Timur Tengah. Para menteri energi dalam negara-negara ASEAN sedang bekerja keras dan berdiskusi satu sama lain untuk memastikan stabilitas serta ketahanan energi dalam kawasan dengan ragam kolaborasi.
Dari sudut pandang Singapura, Kim Yong melanjutkan, pihaknya telah melakukan berbagai cara untuk menjamin ketahanan energi di negaranya. Upaya utama yang dilakukan adalah diversifikasi sumber pasokan energi, sehingga tidak perlu lagi bergantung pada kawasan tertentu. Singapura memiliki keleluasaan untuk berpindah dari satu pemasok ke pemasok lain.
“Itulah nilai dari keberagaman. Diversifikasi tak hanya soal suplai atau pasokan, tetapi kami juga melakukan diversifikasi bahan bakar yang digunakan. Jadi sekarang, kebanyakan pembangkit energi kami kompatibel untuk bahan bakar ganda, bisa menggunakan gas alam juga diesel,” ujar Kim Yong.
Cara ini penting untuk memenuhi aspek ketahanan energi. Seperti negara-negara lainnya, Singapura juga memiliki cadangan energi, meski detailnya tidak dapat dipublikasikan. Singapura pun memahami bahwa cadangan energi tak dapat bertahan selamanya, sehingga penting tetap memastikan rantai pasok tetap terbuka.
Dengan perhatian yang lebih besar terhadap ketahanan energi dan perubahan iklim, ASEAN perlu fokus untuk mengembangkan energi hijau (green energy). Namun, ketersediaan energi hijau belum merata, tidak semua negara memiliki energi ini sehingga transmisi sistem jaringan listrik menjadi sangat penting.
“Itulah mengapa jaringan listrik ASEAN sekarang memiliki alasan kuat untuk terus didorong. Namun, saya perlu menegaskan, jaringan energi ASEAN bukan sebuah proyek besar yang menghubungkan kabel semua negara. Hal itu tidak akan terjadi karena terlalu besar skalanya dan terlalu sulit untuk diimplementasikan,” kata Kim Yong.
Jaringan listrik yang akan dibangun berupa segmen per segmen. Contohnya, diskusi antara Singapura dan Malaysia serta Singapura dan Indonesia yang telah membahas perdagangan listrik antardua negara secara bilateral.
Saat Singapura berhasil terhubung dengan Indonesia, kemudian terkoneksi pula dengan Malaysia, nantinya negara itu akan menghubungkan pula dengan Thailand, dan seterusnya. Hal ini yang ingin coba dibangun secara progresif dalam pembangunan jaringan listrik ASEAN.
Proyek ini, Kim Yong melanjutkan, memang akan menjadi agenda penting di ASEAN. Namun, ia mengingatkan bahwa program ini akan menghabiskan waktu selama bertahun-tahun, alih-alih jangka pendek.
Upaya untuk mendorong ekonomi hijau tengah dilakukan Filipina. Pemerintah negara ini beranggapan bahwa ekonomi hijau merupakan konsep baru, tidak hanya baik untuk menyikapi perubahan iklim, tetapi juga mendorong bisnis.
“Kita perlu bergeser seiring berjalannya waktu. Kita perlu bekerja lebih intens dengan ASEAN untuk benar-benar mendorong ekonomi hijau karena harga energi saat ini cukup tinggi. Alhasil, sekali kita berhasil bergeser cepat ke ekonomi hijau, itu akan menurunkan biaya konsumsi energi yang ada selama ini,” ujar Christina.
Pemerintah Filipina kini mengundang para investor asing untuk menanamkan modalnya di negara tersebut dengan status kepemilikan 100 persen pada proyek terkait. Ada pula ragam insentif yang diberikan untuk berinvestasi memproduksi energi hijau di Filipina.
Singapura yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan ASEAN pada 2027 membuka peluang bagi Indonesia untuk mengoptimalkan posisi tersebut. Indonesia bisa fokus mengikuti agenda besar yang dicanangkan Singapura.
Senior Economist sekaligus Senior VP Global Economics & Market Research UOB, Enrico Tanuwidjaja mendorong Indonesia untuk mengikuti program prioritas ketahanan energi Singapura. Jaringan listrik ASEAN, misalnya, dapat menjadi pedoman awal untuk membangun perekonomian di berbagai tempat karena energi banyak dibutuhkan.
“Setelah kita membangun ketahanan energi yang bagus, kita harus pakai menjadi ketahanan pangan. Nah, ini sangat penting. Contohnya, kalau kita pakai tenaga surya, itu kita bisa menjalankan automation, seperti dalam memberi makan ikan. Mesin traktor untuk sawah bisa memanfaatkan energi lebih murah dan berkelanjutan,” kata Enrico.
Secara konkret pula, Indonesia bisa menawarkan pemanfaatkan energi dari pemanfaatan tenaga surya, air, angina, dan air laut. Berkaca dari Singapura dengan modal yang besar, kerja sama bisa dilakukan dengan menyediakan logistik dan infrastruktur.
Selain soal energi dan ketahanan pangan, Indonesia dapat mengikuti agenda utama Singapura dalam hal keberlanjutan, energi hijau, dan investasi infrastruktur AI yang sedang dirancang. Hal itu tertuang dalam Kesepakatan Bingkai Kerja Digital Ekonomi ASEAN atau ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA).
Di tengah huru-hara geopolitik global, Indonesia tidak bergerak sendiri untuk bertahan. Justru ASEAN menjadi kawasan alternatif bagi para pemegang modal besar. Kondisi ini perlu dimanfaatkan bersama dengan memberi kepastian dan perencanaan yang matang, agar dapat meraup untung, alih-alih buntung karena kondisi global.






Komentar (0)