JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto menyebut asbes selain seng sebagai material atap yang menyebabkan kanker. Namun asbes belum dilarang total di Indonesia.
Menurut Presiden, penggunaan atap seng yang mudah berkarat dapat berdampak terhadap kesehatan.
Selain itu, Prabowo juga menyoroti material asbes sebagai atap bisa berbahaya jika partikelnya terhirup ke dalam paru-paru.
"Seng ini cepat berkarat. Karat ini tidak baik untuk kesehatan. Begitu banyak nanti penyakit paru-paru tanpa kita sadari. Orang-orang muda sudah kena kanker paru-paru. Padahal dia tidak merokok. Dari mana? Ya, dari karat. Dari asbes, dari macam-macam. Kimiawi," kata Prabowo dalam pidato peresmian revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026) pekan lalu.
Baca juga: Prabowo Usul Atap Rumah Pakai Ijuk dan Rumbai, Sebut Seng Bikin Kanker Paru-paru
Prabowo menganjurkan penggunaan material bangunan yang lebih ramah lingkungan dan estetik, seperti genteng dan rumbia atau ijuk.
Penggunaan asbes belum dilarang totalPada 6 Februari 2026 lalu saat program gentengisasi disebut Prabowo untuk pertama kali, Kompas.com sempat bertanya ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes) soal asbes.
Kemenkes menegaskan bahwa asbes adalah material berbahaya.
“Kemenkes sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perumahan dan Kementerian Lingkungan Hidup yang menyampaikan bahwa asbes termasuk dalam B3 dan tidak merekomendasikan penggunaan sebagai atap,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman, kepada Kompas.com, Jumat (6/2/2026).
Baca juga: Soal Pernyataan Prabowo tentang Atap Seng, Asosiasi Tegaskan Tak Ada Bukti Ilmiah Picu Kanker Paru
Analis Kebijakan Ahli Madya Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes, Bambang Setiaji, menulis di situs resmi lembaganya soal bahaya asbes.
Dia menjelaskan bahwa asbes menyebabkan penyakit mematikan seperti kanker paru dan mesothelioma, jenis kanker agresif yang menjangkiti jaringan tipis mesotelium di paru-paru.
Serpihan asbes yang muncul karena rusak, lapuk, digergaji, atau dipotong, berupa serat-serat halus yang nyaris tidak terlihat.
Serpihan asbes itu akan terhirup dan masuk ke paru-paru, menetap di dalamnya seumur hidup. Akibatnya, paru-paru menjadi keras atau disebut sebagai asbestosis, muncul kanker paru, dan mesothelioma.
Baca juga: Prabowo Minta Atap Seng Diganti, Bagaimana dengan Asbes yang Jelas Bahaya?
Gejala penyakit-penyakit itu bisa muncul 20 hingga 40 tahun setelah paparan asbes masuk ke paru-paru. Itulah yang membuat asbestosis sulit dideteksi dini.
Berdasarkan catatan yang dihimpun Bambang Setiaji, ada sekitar 1.600 kematian di Indonesia yang disebabkan oleh asbes.
Di tingkat Asia Tenggara atau ASEAN, Indonesia adalah importir asbes terbesar dengan volume sekitar 150.000 ton per tahun.






Komentar (0)