MENYIMAK berita tentang beberapa gedung di Jakarta yang mulai memasang pagar pengaman berukuran tinggi beberapa hari terakhir dan menyebar menjadi trending topic di media sosial, menyeruak satu pertanyaan kunci: mengapa sebuah pagar mampu mengubah suasana psikologis sebuah kota?
Meskipun sederhana, pertanyaan ini sesungguhnya menyentuh salah satu isu semakin penting dalam ilmu kesehatan global abad ke-21.
Ini mengindikasikan situasi di mana kesehatan jiwa masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh peristiwa benar-benar terjadi, tetapi juga dipengaruhi oleh antisipasi terhadap peristiwa belum terjadi.
Dalam epidemiologi kesehatan jiwa, kondisi seperti ini semakin banyak dibahas sebagai konsekuensi hidup di masyarakat yang dipenuhi ketidakpastian (uncertainty society).
Risiko psikologis tidak lagi muncul setelah bencana, konflik, atau kerusuhan berlangsung, tetapi mulai berkembang sejak masyarakat menerima sinyal-sinyal awal bahwa sesuatu mungkin akan terjadi.
Pagar, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar besi, tetapi telah berubah menjadi stimulus psikososial dan menjelma menjadi suatu medium notifikasi kepada masyarakat, ada sesuatu yang sedang diantisipasi.
Dan seperti seluruh stimulus psikososial lainnya, makna pagar tidak ditentukan oleh pembangunnya, melainkan oleh otak orang melihatnya.
Ilmu perilaku manusia telah lama menjelaskan, otak manusia bereaksi jauh lebih cepat terhadap sinyal ancaman dibandingkan dengan kepastian.
Pakar perilaku kenamaan, Daniel Kahneman, menyebutnya sebagai dominasi System 1, yaitu mekanisme berpikir intuitif yang bereaksi otomatis terhadap berbagai petunjuk lingkungan.
Secara evolusioner, mekanisme ini sangat adaptif.
Manusia purba menganggap semak bergoyang sebagai kemungkinan adanya predator memiliki peluang bertahan hidup lebih besar dibandingkan dengan mereka yang memilih menunggu bukti.
Masalahnya, otak yang sama kini hidup di tengah media sosial. Akibatnya, simbol memperoleh kekuatan yang belum pernah dimiliki sebelumnya.
Baca juga: Hujan Kartu Kuning untuk Gaya Kepemimpinan KDM
Dalam beberapa jam, foto sebuah pagar menjulang tinggi dapat berpindah dari satu grup percakapan ke ribuan akun media sosial.
Bukan karena pagar tersebut penting secara arsitektural, melainkan karena wujudnya telah berfungsi sebagai jalan pintas bagi otak untuk menyimpulkan, risiko sedang meningkat.
Semakin sering simbol tersebut muncul, semakin besar pula probabilitas ancaman yang dibangun oleh pikiran kita.






Komentar (0)