Mendagri Sudah Lapor Prabowo soal Marak Kepala Daerah Terjaring OTT

detik.com
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku telah melapor kepada Presiden Prabowo Subianto terkait maraknya operasi tangkap tangan (OTT) kepala daerah. Tito mengatakan Prabowo telah menekankan berkali-kali untuk tidak melakukan korupsi.

"Ya saya nggak usah sampaikan, yang jelas saya sudah laporkan. Iya, kan beliau sudah sampaikan juga berkali-kali jangan sampai terjadi korupsi, termasuk juga oleh kepala daerah," kata Tito usai rapat dengan Komisi II DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Tito mengatakan Prabowo selalu mendukung upaya pemberantasan korupsi. Tito menyebut persoalan maraknya OTT kepala daerah juga telah dia sampaikan kepada Prabowo saat kegiatan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

"Ya sudah disampaikan, kemarin saya sampaikan pas di IPDN, termasuk pembahasan bagaimana memperkuat kemampuan kepala daerah sebelum dia menjabat dan setelah menjabat terpilih," ujar Tito.

Baca juga: Mendagri Buka Kans Revisi PP Gaji Kepala Daerah, Dikaitkan Kinerja dan PAD

Menurutnya, penguatan kapasitas kepala daerah perlu dilakukan karena latar belakang mereka beragam. Dia mengatakan tak semua kepala daerah paham tata kelola birokrasi saat mulai menjabat.

"Karena latar belakangnya berbeda, nggak semuanya ngerti birokrasi, bisa mungkin mohon maaf, dari artis, dari pengusaha, swasta, yang dia begitu masuk jadi kepala daerah dia harus ngerti birokrasi, nah ini yang perlu sangat teknis, dia kalau ngerti umum saja," tuturnya.

Pihaknya, selama ini telah berupaya meningkatkan kapasitas dan integritas kepala daerah. Namun, dia mengatakan keputusan untuk melakukan penyimpangan ada di masing-masing individu.

"Yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah berusaha membina mereka. Membina mereka memberikan kemampuan, kapabilitas, memperkuat integritas," ujarnya.

"KPK kita undang, Ombudsman macam-macam, Menteri Agama, kemudian ada lagi kegiatan namanya 'BerAKHLAK', macam-macam untuk pembinaan integritas. Tapi semua kembali kepada individu orang masing-masing. Individunya," imbuh dia.

Usul Partai Beri Pelatihan

Tito juga meminta partai politik memperkuat sekolah partai dan melatih calon kepala daerah sebelum diusung di pilkada. Dia pun mengusulkan agar partai politik memperkuat proses kaderisasi sebelum mengusung calon kepala daerah.

"Wah ini dimancing-mancing ini. Itu kita serahkan kepada pembuat undang-undang ya, apakah mau mau melalui DPRD, nggak dilarang loh oleh Konstitusi. Tinggal mengubah Undang-Undang Pilkada saja. Konstitusi kita hanya mengatakan dipilih secara demokratis. Demokratis bisa langsung, bisa perwakilan," kata Tito di DPR.

"Tapi serahkan kepada (pembuat UU) yang mungkin perlu dipertimbangkan pendapat saya, ini partai-partai yang betul-betul sekolah partainya diperkuat," lanjutnya.

Tito menyarankan setiap calon kepala daerah mendapat pelatihan dulu mengenai tata kelola pemerintahan, birokrasi, hingga pengelolaan keuangan daerah. Kemendagri siap membantu jika diminta memberikan materi.

"Untuk begitu dia mendorong calon ya, sebelum mendorong calon tolonglah dibuat pelatihan dulu. Mungkin bimbingan teknis, kami siap untuk diundang, Kemendagri, KPK atau yang lain-lain supaya dia ngerti mengenai birokrasi, bagaimana mengatur keuangan, membuat APBD, bisa kita sampaikan. Supaya nggak dibohongin sama stafnya," ungkapnya.

Lebih lanjut, Tito mengatakan pemerintah hanya bisa melakukan pembinaan terhadap kepala daerah. Sebab, kepala daerah dipilih langsung melalui pilkada.

"Rekrutmen kepala daerah ini kan melalui pilkada. Beda kalau saya dulu kan pernah Kapolri. Itu Kapolres, Kapolda saya tunjuk. Pagi saya tunjuk, sorenya saya ganti bisa. Pilkada nggak bisa, ini kan pilkada kan dipilih oleh rakyat," katanya.

Baca juga: Alasan KPK Getol OTT Kepala Daerah, Tegaskan Tak Pernah Menarget Orang

Menurutnya, Kemendagri selama ini telah berupaya meningkatkan kapasitas dan integritas kepala daerah. Namun, dia mengatakan keputusan untuk melakukan penyimpangan ada di masing-masing individu.

Dia mengatakan pihaknya tak bisa mengawasi 24 jam. Dia mengatakan seharusnya setiap kepala daerah punya integritas.

"Kalau kami nggak bisa menangani mengawasi mereka, megangin mereka 24 jam, nggak bisa. 7 hari seminggu, 365 hari nggak bisa. Kalau memang dasarnya nanti dia maunya apa namanya itu menyimpang, ya kita juga nggak bisa atasi," katanya.

Dia mengaku sudah bertemu KPK. Tito mengatakan akan berkeliling dengan KPK ke daerah-daerah.

"Tapi dengan adanya OTT-OTT ini, ya saya minta kepala daerah juga introspeksi ya, agar jangan sampai bermain-main, entar kena lagi loh yang lain lagi. Ya, kita nggak bisa cegah," ujarnya.




(amw/dwr)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Singapura Gelontorkan Rp9,8 Triliun untuk Bantu Warga Hadapi Lonjakan Harga Energi
• 9 jam lalu
0
thumb
Alasan Ibrahim Arief Absen Pembacaan Putusan Banding: Tak Wajib Hadir
• 10 jam lalu
0
thumb
Polisi Bongkar Dugaan Tempat Asusila Berkedok Spa di Seminyak Bali
• 16 jam lalu
0
thumb
MK Putuskan MBG Tidak Boleh Lagi Pakai Anggaran Pendidikan
• 1 jam lalu
0
thumb
Polisi Bongkar Gudang Obat Keras Ilegal di Bandung, Sita 784.500 Butir Obat
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.