Menjaga Kemudi Ekonomi di Tengah Badai Perang

detik.com
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

John Donne pernah menulis, "No man is an island." Dunia kini membuktikan kalimat itu. Perang di tempat yang jauh dapat mengetuk pintu rumah kita. Dampaknya datang melalui harga, kurs, investasi, dan pekerjaan. Karena itu, Indonesia harus menjaga kemudi dengan tangan mantap.

Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat sejak awal Juli 2026. Selat Hormuz kembali tersendat dan mengguncang aliran energi dunia. Harga minyak dan berbagai komoditas kembali menanjak. Pertumbuhan dunia diperkirakan hanya 3,0 persen tahun ini. Inflasi global juga meningkat sekitar 4,5 persen. Badai global pun bergerak semakin dekat.

Namun, badai tidak selalu menenggelamkan kapal. Hasil akhirnya bergantung pada kekuatan lambung dan ketepatan nakhoda. Indonesia memiliki beberapa bantalan yang masih bekerja. Pertumbuhan domestik tetap terjaga, terutama berkat permintaan dalam negeri. Perbankan tetap kuat dan sistem pembayaran tetap andal. Tantangannya adalah menjaga semua bantalan itu tetap utuh.

Tiga Ombak Tekanan

Ombak pertama datang dari energi dan komoditas. Kenaikan harga minyak menaikkan ongkos angkut, produksi, dan distribusi. Tekanan itu kemudian merambat menuju harga barang sehari-hari. Namun, kenaikan harga komoditas juga menguntungkan beberapa sektor ekspor. Karena itu, dampaknya tidak hitam-putih. Ada sektor yang tertekan, tetapi ada pula yang memperoleh angin segar.

Neraca perdagangan menunjukkan wajah ganda tersebut. Januari hingga Mei masih mencatat surplus 4,03 miliar dolar AS. Namun, neraca migas mengalami defisit 12,28 miliar dolar AS. Artinya, Indonesia tetap memiliki bantalan ekspor nonmigas. Di sisi lain, impor energi masih menjadi lubang pada lambung kapal. Lubang itu harus dijaga agar tidak semakin lebar.

Ombak kedua datang dari pasar keuangan. Investor global mencari pelabuhan aman ketika badai membesar. Dana kemudian bergerak menuju dolar dan aset berimbal hasil tinggi. Rupiah pun menghadapi tekanan lebih besar. Namun, rupiah kembali menguat menjadi Rp17.885 per dolar AS. Posisi itu relatif stabil dibandingkan akhir Juni 2026. Cadangan devisa juga tetap memadai sebesar 145,6 miliar dolar AS.

Ombak ketiga datang melalui investasi dan keyakinan. Ketidakpastian sering membuat dunia usaha menahan langkah. Rumah tangga juga cenderung mengencangkan ikat pinggang. Jika meluas, kehati-hatian dapat berubah menjadi perlambatan. Karena itu, kepercayaan harus dijaga seperti api dalam badai. Api itu kecil, tetapi menentukan arah perjalanan.

Menjaga Jangkar, Membuka Layar

Indonesia tidak harus memilih antara stabilitas dan pertumbuhan. Keduanya seperti jangkar dan layar pada kapal yang sama. Jangkar menjaga kapal agar tidak terseret arus. Layar memastikan kapal tetap bergerak menuju tujuan. Bauran kebijakan harus menjalankan kedua fungsi tersebut.

BI-Rate tetap sebesar 5,75 persen pada Juli 2026. Kebijakan itu menjaga rupiah dan menahan rambatan inflasi. Pada saat bersamaan, kebijakan lain tetap menopang pertumbuhan. Likuiditas perbankan dijaga agar aliran pembiayaan tidak tersumbat. Insentif juga diperluas ke sektor prioritas. Inilah keseimbangan antara bertahan dan melangkah.

Inflasi Juni 2026 mencapai 3,34 persen. Angka itu masih berada dalam kisaran sasaran nasional. Namun, tekanan energi dan pangan mulai terasa. Harga BBM nonsubsidi dan avtur ikut naik. Beberapa harga pangan juga bergerak lebih tinggi. Karena itu, pagar pengendalian inflasi harus terus diperkuat.

Pengendalian harga tidak cukup melalui suku bunga. Distribusi pangan harus lancar dan pasokan harus terjaga. Pemerintah pusat dan daerah perlu bergerak dalam satu irama. Gangguan cuaca juga harus diantisipasi lebih awal. Inflasi adalah api kecil yang mudah membesar. Karena itu, pemadaman harus dilakukan sebelum api menjalar.

Menjaga Denyut Transaksi

Kredit perbankan tumbuh 12,67 persen pada Juni 2026. Kredit investasi bahkan tumbuh 24,90 persen. Angka itu menunjukkan mesin pembiayaan masih menyala. Namun, banyak fasilitas kredit belum digunakan. Dana tersedia, tetapi sebagian masih menunggu keberanian usaha. Tantangannya adalah mengubah niat menjadi investasi nyata.

Perbankan juga tetap memiliki bantalan kuat. Permodalan tinggi dan kredit bermasalah tetap rendah. Likuiditas industri masih memadai. Kondisi ini membuat bank tetap mampu menyerap guncangan. Namun, likuiditas tidak selalu mengalir merata. Karena itu, saluran antarbank perlu terus diperlebar.

Sistem pembayaran adalah aliran darah perekonomian. Ketika alirannya lancar, kegiatan ekonomi tetap bernapas. Pada triwulan kedua, pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi. Jumlah itu tumbuh 36,88 persen secara tahunan. Transaksi QRIS bahkan tumbuh lebih dari dua kali lipat. BI-FAST juga memproses 1,529 miliar transaksi.

Angka tersebut bukan sekadar catatan teknologi. Setiap transaksi menghubungkan pembeli, pedagang, pekerja, dan produsen. Pembayaran digital mengurangi jarak dan mempercepat perputaran uang. Sistem ini juga membantu UMKM menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, inovasi tetap membutuhkan pagar pengaman. Keandalan, keamanan, dan perlindungan konsumen harus berjalan bersama.

Sinergi Menjaga Kapal

Kebijakan fiskal tetap menjadi penahan guncangan penting. APBN melindungi daya beli dan menopang program prioritas. Namun, ruang fiskal bukan sumur tanpa dasar. Setiap rupiah harus diarahkan menuju sasaran paling tepat. Ketepatan belanja kini sama pentingnya dengan besarnya belanja. Karena itu, data dan digitalisasi harus menjadi kompas.

Pengurangan inefisiensi juga dapat menjadi stimulus murah. Perizinan yang sederhana dapat mempercepat investasi. Logistik yang efisien dapat menurunkan harga. Kepastian hukum dapat membuka kembali keberanian usaha. Perbaikan kecil sering menghasilkan dorongan besar. Itulah angin tambahan bagi layar ekonomi.

Pada akhirnya, ketahanan ekonomi bergantung pada kepercayaan. Dunia usaha harus tetap berani menanam modal. Rumah tangga harus tetap mampu menjaga konsumsi. Pemerintah dan Bank Indonesia harus bergerak dalam irama yang sama. Industri keuangan harus menjaga aliran dana tetap hidup. Masyarakat juga perlu mempertahankan keyakinan.

Indonesia tidak dapat mengatur arah peluru di Timur Tengah. Namun, Indonesia dapat mengatur arah kemudinya sendiri. Stabilitas menjadi jangkar, pertumbuhan menjadi layar, dan sinergi menjadi kompas. Dengan ketiganya, badai tidak harus menghentikan perjalanan. Kapal ekonomi tetap dapat melaju menuju pelabuhan yang lebih aman.

Fransiskus Xaverius Tyas Prasaja. Ekonom Bank Indonesia; Alumni MSc Finance, Technology, and Policy dari The University of Edinburgh.




(rdp/imk)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Viral Pria Gelantungan di Luar KRL dekat Stasiun Ancol, Ternyata Habis Tenggak Alkohol
• 22 jam lalu
0
thumb
Kronologi Jubir Otorita IKN Troy Pantouw Ditemukan Meninggal di Rusun ASN
• 5 jam lalu
0
thumb
Reaksi Terbaru Shin Tae-yong usai Kena Hukuman 10 Tahun dari Korea Selatan, Singgung Soal Masa Depan Bersama Persija
• 18 jam lalu
0
thumb
Trump Mau Hajar China, Tapi Malah Terjebak Perang Iran
• 12 jam lalu
0
thumb
Saham ASII hingga AMMN Masuk Deretan Terbesar Dijual Investor Asing Sepekan
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.