Trump Mau Hajar China, Tapi Malah Terjebak Perang Iran

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadapi dilema besar dalam strategi militernya.

Di satu sisi, Washington ingin mengalihkan fokus ke China sebagai rival utama. Namun di sisi lain, konflik yang terus memanas di Timur Tengah justru menyedot lebih banyak sumber daya militer AS.

Paradoks ini sebenarnya telah diprediksi oleh Elbridge Colby, Kepala Kebijakan Pentagon sekaligus arsitek strategi pertahanan Trump.

Dalam bukunya Strategy of Denial (2021), Colby menilai militer AS tidak lagi mampu menghadapi semua ancaman sekaligus. Menurutnya, China harus menjadi prioritas utama, sehingga komitmen militer di kawasan lain, terutama Timur Tengah, perlu dikurangi.

Baca: Jerman Ubah Strategi Perang, Negara Biayai Startup Senjata

 

Namun kenyataannya justru berbalik. Alih-alih mengurangi kehadiran di Timur Tengah, AS kini semakin terlibat dalam konflik dengan Iran.

Jumlah pasukan di kawasan meningkat menjadi sekitar 50.000 personel, naik dari sekitar 40.000 sebelum perang. Konflik tersebut juga menguras amunisi dan mengalihkan kapal induk serta sistem pertahanan udara yang sebelumnya dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan konflik dengan China.

Di Eropa, Trump memang mulai memangkas sebagian kehadiran militer. Dua dari lima brigade tempur yang dikirim setelah invasi Rusia ke Ukraina telah ditarik.

Pentagon juga mengurangi sekitar sepertiga kekuatan yang dialokasikan untuk NATO saat perang, termasuk pesawat tempur, kapal perusak, dan kapal selam.

Persebaran tentara Jepang Foto: Economist

Pemerintah juga tengah meninjau seluruh pangkalan militer AS di Eropa dengan target agar negara-negara Eropa mengambil tanggung jawab yang lebih besar atas pertahanan kawasan.

Meski demikian, langkah tersebut belum memberikan tambahan kekuatan berarti di Indo-Pasifik.

Jumlah pasukan AS di kawasan relatif tidak berubah, yakni sekitar 55.000 personel di Jepang dan sekitar 28.000 personel di Korea Selatan. Sepanjang tahun ini, AS bahkan hanya mengoperasikan satu kapal induk di Asia, lebih sedikit dari target ideal dua kapal induk.

Washington memang terus memperkuat infrastruktur militernya di Indo-Pasifik, mulai dari pembangunan fasilitas di Guam, peningkatan pangkalan kapal selam di Australia, hingga penempatan rudal yang lebih canggih di Filipina. Namun, sebagian besar langkah tersebut masih berupa reposisi kekuatan, bukan penambahan kapasitas militer secara signifikan.

Baca: Lautan Jadi Medan Perang Minyak, Tanker Diburu dari Hormuz-Laut Hitam

 

Trump telah mengajukan anggaran pertahanan sebesar US$1,5 triliun untuk tahun fiskal 2026-2027, melonjak 44% dibanding sebelumnya. Namun, sekalipun disetujui Kongres, tambahan anggaran itu tidak akan langsung menghasilkan lebih banyak pasukan atau persenjataan dalam waktu singkat.

Kondisi ini menempatkan Colby pada posisi yang ironis. Tokoh yang dulu berpendapat AS tidak mampu berperang di banyak front sambil tetap membendung China, kini justru harus menyusun strategi agar Washington mampu menjalankan kedua misi tersebut secara bersamaan.

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
10 Kampus Terbaik di Indonesia Menurut Webometrics
• 2 jam lalu
0
thumb
Anggota DPD: Pusat berperan penting tanggulangi karhutla di Kalteng
• 16 jam lalu
0
thumb
Berita Populer: Target Leasing Astra di GIIAS 2026; Mobil Baru di GIIAS 2026
• 18 jam lalu
0
thumb
Agen Pekerja Migran Tawarkan Kerja ke Turki, 105 ART Malah Dieksploitasi di Libya
• 17 jam lalu
0
thumb
Tim SAR Selamatkan Sebelas Wisatawan Asing Korban Kapal Tenggelam di Teluk Tomini | KOMPAS MALAM
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.