JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana berbeda terasa di bantaran Kali Ciliwung, Padepokan Ciliwung Condet, Jakarta Timur, Sabtu (25/7/2026).
Di bawah rindangnya pepohonan di tepi sungai, Festival Ciliwung VII menghadirkan Pasar Rakyat Tempo Dulu yang membawa pengunjung bernostalgia ke suasana kampung Betawi pada masa lalu.
Area pasar ditata menyerupai pasar tradisional tempo dulu. Begitu memasuki lokasi, pengunjung langsung disambut nuansa kampung Betawi yang sederhana, asri, dan kental dengan suasana tradisional.
Baca juga: Bendung Katulampa Mengering: Aliran Ciliwung Surut, Warga Beralih ke Mata Air
Para pedagang pun tampil mengenakan busana khas Betawi. Pedagang perempuan memakai kebaya encim, sedangkan pedagang laki-laki mengenakan kopiah dan cukin yang disampirkan di bahu.
Lapak-lapak berbahan bambu menjajakan beragam kuliner khas Betawi, mulai dari kerak telor, asinan Betawi, hingga dodol yang dimasak langsung di lokasi.
Pengunjung juga dapat menyaksikan proses pembuatan dodol yang terus diaduk menggunakan pengaduk kayu berukuran besar.
Nuansa tempo dulu semakin terasa dengan lampion putih yang menggantung di sepanjang jalan setapak, gazebo bambu, serta beragam dekorasi bernuansa Betawi yang menghiasi kawasan festival.
Baca juga: Mengapa Ganti Rugi Lahan Normalisasi Ciliwung Berbeda-beda? Ini Penjelasan Pemprov DKI
Setelah membeli makanan, pengunjung dapat menikmati hidangan di meja dan kursi yang berada di tepi Kali Ciliwung sambil menikmati suasana sungai.
Banyak pengunjung memanfaatkan momen tersebut untuk bersantai, mencicipi kuliner, berbelanja, hingga berfoto.
Ajak Masyarakat Cintai SungaiKetua Padepokan Ciliwung Condet Ahmad Maulana mengatakan, Festival Ciliwung lahir dari perjuangan panjang komunitas untuk mengajak masyarakat kembali melihat, mengenal, dan mencintai sungai.
Festival yang digelar selama satu hari ini menghadirkan beragam kegiatan, seperti membatik, melukis, arung sungai, hingga pertunjukan lenong bocah.
"Perjuangannya panjang untuk bisa membuat Festival Ciliwung. Kami ingin mengajak masyarakat kembali melihat sungai. Walaupun seperti inilah kondisi sungai kita hari ini, Ciliwung adalah sungai terbesar dengan daerah aliran sungai (DAS) terbesar dan menjadi garda terakhir," kata Ahmad.
Baca juga: Potret RT 15 Cawang yang Segera Hilang untuk Normalisasi Ciliwung
Menurut dia, Pasar Rakyat Tempo Dulu sengaja dihadirkan agar pengunjung tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga mengenal budaya Betawi sekaligus kembali memanfaatkan kawasan bantaran sungai sebagai ruang berkumpul masyarakat.
Warga Diajak Pilah Sampah dari RumahWali Kota Jakarta Timur Munjirin mengapresiasi penyelenggaraan Festival Ciliwung VII di Padepokan Ciliwung Condet.
Menurut dia, festival seperti ini menjadi salah satu cara mengajak masyarakat kembali peduli terhadap lingkungan, khususnya Sungai Ciliwung.






Komentar (0)