Spanyol berhasil meraih predikat Juara Dunia sepak bola untuk ke dua kalinya pada 19 Juli 2026, setelah sebelumnya pernah menjuarai pada tahun 2010. Terlepas dari kemenangan dan perayaan, ada sebuah fenomena menarik yang terjadi jelang laga final antara Spanyol dan Argentina.
Melalui berbagai macam platform media sosial seperti TikTok dan Instagram, ramai orang-orang yang biasanya tidak menaruh antusiasme terhadap olahraga bola mulai banyak menyangkut pautkan dukungan yang diberikan pada laga final ini dengan posisi dukungannya dalam perang Palestina-Israel. Banyak khalayak yang mengasumsikan bahwa laga ini merupakan pertarungan antara pendukung Palestina dan Israel. Mengapa demikian?
Jika ditarik mundur, ada beberapa kejadian yang sering disangkut pautkan dalam mengambil kesimpulan ini. Pertama dari sisi Spanyol, adalah ketika salah satu pemain inti tim nasional Spanyol yang juga pemain Barcelona FC, Lamine Yamal mengambil bendera dari supporter dan mengibarkannya sepanjang parade kemenangan Barcelona FC pada Mei 2026 lalu.
Kedua, tentu dapat dilihat dari posisi Perdan Menteri (PM) Spanyol, Pedro Sánchez, yang secara konsisten dan secara resmi mengakui Negara Palestina secara berdaulat pada 28 Mei 2024. Bahkan, PM Pedro Sánchez mendukung aksi yang dilakukan oleh Lamine Yamal sebelumnya sebagai aksi 'patriot sejati'.
Di sisi Argentina, PM Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka mengungkapkan dukungannya terhadap Argentina dalam laga final. Hubungan yang terjalin cukup erat antara Argentina dan Israel pun semakin nampak mana kala Duta Besar Argentina untuk Israel, Rabbi Shimon Axel Wahnish, melakukan lawatan ke gedung PM Israel untuk memberikan bola sepak dan jersey Argentina. Dalam kesempatan ini juga terungkap bahwa Presiden Argentina, Javier Milei, menitipkan pesan suara melalui Duta Besarnya, "Netanyahu adalah sahabat yang selalu mendukung Argentina".
Begitulah kedua negara ini kemudian ter-framing. Sehingga tidak sedikit kemudian masyarakat dunia yang masih bingung menentukan dukungannya dalam laga final ini, menentukan jagoannya dengan posisinya terhadap Israel-Palestina. Tentu, para pendukung kemerdekaan Palestina berbondong-bondong untuk memberikan doa dan dukungan kepada tim nasional Spanyol. Permainan cantik dan kemenangan Spanyol pada lagi final kemudian menjadi secercah harapan bagi kemerdekaan Palestina.
Hal ini menjadi bukti bagaimana 'hard politics' nyatanya dapat menyusupi kegiatan 'low politics' seperti kejuaraan olahraga dunia semacam ini. Hal yang perlu dipahami juga, bahwasanya di tengah aktor-aktor negara yang hadir, atlet muda berprestasi seperti Lamine Yamal dapat mengakomodir pengaruhnya sebagai 'sport star' untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan dunia dalam konflik Palestina-Israel yang tak kunjung berakhir.
Dalam hubungan internasional, aktor non-negara (non-state actor), seperti Yamal, telah diakui pengaruh dan posisinya melalui pemanfaatan ketenaran global mereka untuk memengaruhi hubungan internasional atau mempromosikan tujuan kemanusiaan melalui kegiatan yang disebut Diplomasi Selebriti (Celebrity Diplomacy).






Komentar (0)